Gelombang protes bermunculan di berbagai negara seiring kenaikan harga bahan bakar dan pemadaman listrik bergilir. Mengutip CNN, Rabu (16/9/2026), harga minyak kembali menembus US$ 100 per barel pekan lalu setelah Amerika Serikat menggempur kapal tanker Iran di Teluk. Pertempuran yang kembali memanas di Yaman turut mengancam jalur pelayaran di Selat Bab al-Mandab.
Dampaknya terasa luas. Di Amerika Serikat, harga bensin naik, sementara rumah tangga yang memakai minyak pemanas mendapat peringatan keras jelang musim dingin. Para analis memperkirakan lonjakan harga hingga 30 persen di tengah perang Iran. Bagi ekonomi yang lebih rapuh, tekanan fiskal dan beban biaya hidup semakin berat, membuat kesabaran publik menipis.
Kenaikan harga bahan bakar menekan mobilitas dan biaya usaha: masyarakat kesulitan membeli bensin, pergi bekerja, mengoperasikan bisnis, hingga mengakses layanan penting. Aksi turun ke jalan merebak—dari pembakaran ban di Suriah, blokade jalan raya di Guatemala, hingga long march pelaku usaha dan pekerja menuju kediaman perdana menteri di Portugal.
Di Suriah, kenaikan tajam harga bahan bakar pada akhir pekan memicu demonstrasi di berbagai wilayah. Aksi ini disebut sebagai yang terbesar sejak rezim Bashar al-Assad tumbang dua tahun lalu. Menurut kantor berita Suriah SANA, pemerintah menaikkan harga solar menjadi 175 pound Suriah atau sekitar US$ 1,43 per liter—sekitar 40 persen—sementara harga gas naik lebih dari 25 persen.
Kementerian Energi Suriah menyebut lonjakan harga global dan perawatan kilang terbesar negara itu, Baniyas, sebagai pemicu. Kondisi tersebut membuat ketergantungan Suriah pada impor kian besar, menurut SANA.
Mayoritas dari puluhan aksi berlangsung damai. Namun, menurut ACLED, pada Minggu para demonstran memblokir jalan raya Hasaka–Deir ez-Zor, membakar ban, dan menghentikan sejumlah truk tanker minyak. "Kelangkaan bahan bakar, kenaikan harga, menurunnya daya beli, dan buruknya layanan semuanya menjadi alasan yang menumpuk menjadi keresahan publik," kata analis Suriah di ACLED, Muaz Al Abdullah.
Ia menambahkan, tuntutan mulai bergeser dari isu ekonomi ke desakan membatalkan keputusan pemerintah serta pencopotan sejumlah pejabat, termasuk menteri energi. Rekaman Reuters dari Aleppo pada Minggu memperlihatkan ban dibakar sambil meneriakkan kritik atas kenaikan harga bahan bakar. Seorang demonstran, Yasser Salim, menyatakan publik menginginkan harga solar diturunkan, bukan penyesuaian upah, sementara Bassam al-Ali mengkritik pengeluaran pembangunan fasilitas di tengah lonjakan harga dan memperingatkan situasi bisa meledak.
Advertisement
Guatemala Dorong Pembatasan Harga Bahan Bakar
Di Guatemala, kelompok pengemudi truk dan demonstran lainnya memblokir sejumlah jalan raya dan menyebabkan kerusakan di beberapa wilayah pada pekan lalu untuk memprotes kenaikan harga bahan bakar, menurut Associated Press. Rekaman media lokal memperlihatkan warga menggelar aksi berjalan kaki secara damai di Guatemala City sambil mendesak tindakan pemerintah.
Kongres Guatemala merespons lewat rancangan undang-undang yang membatasi harga bahan bakar hingga akhir tahun. Rancangan itu masih diproses, menurut kantor berita nasional AGN. Jika disahkan, pemerintah akan memberikan subsidi kepada importir ketika harga melampaui batas yang ditetapkan, sebagaimana dilaporkan AP.
"Ini adalah masalah yang harus diselesaikan sebagai sebuah negara," kata Presiden Kongres Luis Contreras Colindres dalam pidatonya pada Senin. Ia menekankan perlunya kerja bersama eksekutif, legislatif, dan seluruh pihak terkait karena masyarakat tidak mampu menanggung harga saat ini tanpa dampak keuangan yang serius. Menurut AGN, ia juga menyebut solar sebagai penggerak utama perekonomian Guatemala.
Advertisement
Portugal: Aksi di Espinho, Sektor Vital Minta Perlindungan
Di Portugal, protes digelar di kota pesisir Espinho pada Sabtu untuk menolak kenaikan harga bensin dan biaya hidup. Sekitar 80 orang—diprakarsai pelaku usaha lokal—ikut berdemonstrasi guna menekan pemerintah mencari solusi, menurut kantor berita Lusa. Para demonstran berjalan hingga ke kediaman Perdana Menteri Luís Montenegro di Espinho.
Pada saat bersamaan, Liga Pemadam Kebakaran Portugal (LBP) memperingatkan bahwa kenaikan harga bahan bakar mulai tidak berkelanjutan bagi brigade pemadam kebakaran. Organisasi sukarelawan kian terbebani biaya yang tak lagi mampu mereka tanggung.
Pemerintah Portugal pada Senin mengumumkan paket langkah baru untuk meredakan tekanan akibat harga bahan bakar, menurut Lusa. Bantuan diarahkan ke sektor angkutan barang, pengemudi taksi, layanan pemadam kebakaran, serta sektor sosial.
Prancis
Di Prancis selatan, sekitar 50 nelayan memblokade depot bahan bakar utama di Fos-sur-Mer pada Selasa, salah satunya untuk memprotes kenaikan harga bahan bakar, kata BFMTV. Blokade berlangsung beberapa jam dan sempat terjadi bentrokan singkat dengan polisi.
Wali Kota Fos-sur-Mer Philippe Maurizot mengatakan industri perikanan tengah menghadapi "krisis mendalam" yang memerlukan respons negara secara cepat dan kuat. Ia menambahkan, kemarahan para demonstran perlu didengar.
Menurut Maurizot, kenaikan biaya dan harga bahan bakar, penambahan aturan, pendapatan yang tidak mencukupi, serta ketidakpastian membuat sebagian pelaku usaha berada pada situasi yang tidak dapat dipertahankan.
Advertisement
Filipina: Pemogokan Manibela dan Desakan Pemangkasan Pajak
Di Filipina, pekerja dari kelompok transportasi Manibela melakukan aksi mogok pada Senin untuk memprotes kenaikan harga bahan bakar. Mereka menuntut subsidi pemerintah dan penghapusan pajak bahan bakar. Aksi tersebut berlangsung setelah perusahaan minyak kembali mengumumkan penyesuaian harga yang berlaku mulai Selasa.
Menurut Philippine News Agency (PNA), harga bensin naik 5,68 peso atau sekitar US$ 0,01 per liter, sementara harga solar dan minyak tanah juga kembali naik pekan ini. "Kami tahu setiap kenaikan di pompa bensin berdampak lebih dari sekadar biaya mengisi kendaraan," kata Menteri Energi Sharon S. Garin saat mengumumkan pada Selasa bahwa pemerintah telah melewati salah satu tahapan untuk kemungkinan menurunkan pajak cukai produk minyak bumi.
Menurut Garin, kenaikan tersebut memengaruhi anggaran harian keluarga, mata pencaharian pengemudi, dan biaya operasional bisnis. Para pengemudi bus serta pengguna kendaraan bermotor telah merasakan tekanan berbulan-bulan akibat lonjakan biaya. Harga bahan bakar sempat melonjak tajam pada Maret dan masih berada di atas level sebelum perang.
Pada Maret—sekitar satu bulan setelah perang Iran dimulai—warga di Manila berunjuk rasa menuju istana kepresidenan untuk menyampaikan ketidakpuasan terhadap kenaikan tajam harga energi. "Filipina harus berdiri dan menyerukan diakhirinya agresi AS terhadap Iran," kata pemimpin serikat pekerja Jerome Adonis pada akhir Maret.
Adonis menyebut gangguan pasokan minyak berdampak ke semua orang; masyarakat Filipina mungkin tidak terkena bom, tetapi merasakan imbas berupa kemiskinan dan kelaparan akibat kenaikan harga minyak. Sepanjang tahun ini, serikat mahasiswa juga beberapa kali terlibat dalam aksi protes, menyuarakan keresahan lebih luas atas meningkatnya biaya hidup.