Tips Hari Pertama Mulai Kerja untuk Generasi Muda

Hari pertama kerja sering bikin gugup. Empat pekerja muda dan seorang pakar berbagi cara sederhana agar transisi lebih mulus. Ini langkah yang mereka lakukan.

Cahya Alena Fauza
Oleh Cahya Alena Fauza - Reporter
Tips Hari Pertama Mulai Kerja untuk Generasi Muda
<p>Ilustrasi ngobrol, komunikasi di kantor, tempat kerja. (Photo by fauxels from Pexels)</p>

Memulai kerja di tempat baru kerap menegangkan, apalagi jika posisinya telah lama diincar. Agar hari-hari awal lebih mulus, pengalaman nyata dari mereka yang baru masuk kerja bisa menjadi rujukan praktis.

Dikutip dari BBC, Rabu (16/9/2026), empat pekerja muda membagikan strategi yang membantu mereka beradaptasi pada masa awal kerja. Salah satunya Sarisha Ganesan (22), lulusan Loughborough University yang bulan lalu mulai bekerja di bidang pemasaran secara penuh jarak jauh.

Karena seluruh pekerjaannya remote, Sarisha menyiapkan hari pertama dengan mengirim email kepada rekan kerja tentang ekspektasi peran, lalu berkenalan dalam rapat daring pagi.

"Aku bertemu dengan semuanya secara daring pada pertemuan pagi. Kami bergantian memperkenalkan diri," ujar dia.

Ia mengaku sempat terkejut karena lingkungan kerjanya sangat kolaboratif, berbeda dari kebiasaannya yang lebih individual saat kuliah. Sepanjang hari, ia mengikuti banyak rapat dan panggilan check-up rutin.

"Aku terbiasa dengan gaya bekerja individual di kampus," ujar dia.

"Banyak pertemuan sepanjang hari serta panggilan check-up rutin," ia menambahkan.

Sarisha menekankan pentingnya komunikasi terbuka di minggu-minggu pertama, terutama ketika menemui kendala atau beban kerja terasa berat.

"Beri tahu semua orang prosesmu dalam tugas supaya tidak harus dikejar kejar,” ujar dia.

"Mereka tidak berekspektasi kamu tahu semuanya, jadi pastikan untuk komunikasi jika ada yang tidak familiar atau beban kerjamu terlalu berat dan butuh bantuan," ia menambahkan.

Atur Pertemuan Evaluasi dengan Atasan

Oliver Walker, lulusan University of Liverpool pada Mei, memulai karier di sebuah agensi pemasaran untuk kampanye media sosial. Ia mengaku tidak banyak tahu soal perannya dan memulai pekerjaan tanpa arahan rinci.

"Aku tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkan apapun dan memulainya tanpa arahan. Ada sedikit waktu untuk riset tentang tanggung jawab posisi pekerjaanku," ujar dia.

Untuk mengimbangi keterbatasan persiapan, Oliver menelusuri jejak digital perusahaan guna memahami organisasinya, lalu fokus pada belajar dan berkembang di posisi barunya. Pada hari pertama, ia meminta jadwal pertemuan berkala setiap enam bulan dengan manajer untuk memantau capaian.

"Bagiku, menjadi bagian perusahaan yang bernilai itu penting,” tutur Oliver.

Ia juga proaktif membangun jaringan internal, berani meminta ikut ke acara perusahaan, dan selalu siap ketika ada kesempatan baru.

"Aku bisa berinteraksi dengan banyak orang yang membantu di perusahaanku karena aku berani meminta ikut ke acara perusahaan dan berkata iya saat ada peluang,” kata Oliver.

Minta Bantuan Saat Kerja di Minggu Pertama

Chinaza Eke (20), mahasiswa tahun ketiga di University of Warwick, baru menyelesaikan magang musim panas selama delapan minggu sebagai pegawai negeri. Ia mengemban lima tugas utama dan harus menggunakan perangkat lunak serta platform yang belum pernah dipakai sebelumnya. Pada awalnya, ia enggan meminta bantuan karena khawatir dianggap tidak cakap.

"Aku tidak mau meminta bantuan karena rasanya mereka akan menganggap aku tidak punya keterampilan untuk di sana,” kata Chinaza.

Setelah beberapa hari, Chinaza menyadari bahwa meminta arahan itu wajar. Sang manajer bahkan memintanya untuk lebih santai, berbeda dengan suasana kampus yang intens.

"Manajerku yang memintaku untuk santai adalah perubahan dari lingkungan universitas yang intens,” dia menjelaskan.

Pesan utamanya sederhana dan tegas. "Minta bantuan, kamu berhak mendapatkannya"

Menurut Chinaza, meminta bantuan sedini mungkin justru membuka banyak koneksi berharga dan mencegah masalah jangka panjang.

“Kamu bisa mendapat sangat banyak koneksi berharga dengan mengakui kamu butuh bantuan. Tidak ada yang salah dengan tidak bisa menguasainya pertama kali,” tutur dia.

Bangun Relasi di Luar Tim Kerja

Elijah Amoako (26) baru-baru ini memulai posisi baru di bidang hubungan industri. Untuk menyiapkan hari pertama, ia mempelajari organisasi dan tim yang akan dimasuki, serta datang dengan pikiran terbuka.

"Aku rasa penting untuk datang dengan otak terbuka dan penasaran dibanding merasa tahu segalanya di hari pertama," ujar dia.

Berbekal pengalaman dari perusahaan sebelumnya, Elijah memilih mengamati cara kerja yang berlaku di tempat barunya tanpa berasumsi semuanya serupa. Nasihat utamanya menyasar pembangunan jaringan lintas divisi.

“Bicara dengan orang di luar tim-mu”

Ia menekankan reputasi mulai terbentuk sejak hari pertama, lewat reliabilitas, rasa ingin tahu, dan kolaborasi.

"Reputasimu mulai dibangun pada hari pertama, melalui betapa dapat diandalkan, penasaran, dan kolaboratif dirimu," tutur Elijah.

"Membangun hubungan dan memahami cara kerja suatu organisasi juga penting," ia menambahkan.

Tips dari Ahli SDM untuk Hari Pertama Kerja

Penasihat kebijakan senior di Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD), Lizzie Crowley, menekankan pentingnya menguasai hal mendasar pada hari pertama: riset jalur transportasi, ketahui dress-code, baca ulang deskripsi pekerjaan, dan bawa dokumen yang diperlukan.

Dalam beberapa minggu awal, amati budaya perusahaan. Perhatikan pola komunikasi, ritme kolaborasi, hingga kebiasaan bekerja dari rumah.

Ia juga menganjurkan untuk meminta bantuan ketika tidak paham. Terutama bagi pekerja pertama kali, perusahaan berkewajiban merespons pertanyaan karyawan dan menyediakan dukungan yang dibutuhkan. Perusahaan harus terbuka dan mau untuk menjawab pertanyaan karyawannya.

Rekomendasi