Bill Gates menilai kecerdasan buatan (AI) dapat membantu mengatasi ketimpangan sosial. Sejalan dengan itu, ia melalui Gates Foundation mengalokasikan donasi US$ 1 miliar (sekitar Rp 17,7 triliun) untuk inisiatif AI selama dua tahun.
Pengumuman pada Selasa (15/9/2026) tersebut memprioritaskan pelatihan model berbahasa lokal, peningkatan layanan kesehatan, penyempurnaan alat pembelajaran, serta penyediaan informasi praktik pertanian bagi petani kecil.
Dikutip dari AP News, Rabu (16/9/2026), pendiri Microsoft itu juga mengajukan permohonan kepada perusahaan dan konglomerat AI melalui laporan tahunan Goalkeepers yang melacak kemajuan target PBB hingga 2030.
Di tengah pemangkasan dana bantuan internasional Amerika Serikat (AS), CEO Gates Foundation Mark Suzman menyebut pihaknya terus mendorong Kongres dan pemerintahan Presiden Donald Trump agar tetap menjadi pelopor bantuan luar negeri.
"Kami belum menyerah dengan AS," ujar Mark Suzman kepada The Associated Press.
"Kami mengakui hal tersebut tidak mudah dengan AS. Namun, kami percaya masih ada harapan," ia menambahkan.
Laporan yang lama disiapkan itu terbit saat sejumlah perusahaan AI meminta industri memperlambat laju pengembangan. Kepergian seorang mantan peneliti di Anthropic karena kekhawatiran pengembangan yang tidak bijak kembali memicu perdebatan seputar risiko model AI yang kian kuat lepas dari kendali manusia.
Dalam tulisan di situsnya, Gates mengingatkan peluang sekaligus risikonya. "AI akan menjadi penyeimbang terbaik atau sumber kesenjangan terbesar," tulis dia.
Ia juga menyoroti potensi penyalahgunaan untuk penipuan, disinformasi, pengintaian, serangan siber, dan bioterorisme.
Advertisement
Visi Bill Gates di Tengah Kekhawatiran AI
Gates Foundation, salah satu penyandang dana terbesar untuk kesehatan global, kini menekankan upaya mendemokratisasi manfaat teknologi yang diyakini Gates, alih-alih semata fokus pada aspek keamanannya. Ia mengumumkannya bulan lalu melalui unggahan blog.
"Semua pekerjaan kami akan memanfaatkan AI secara maksimal. Ini akan menjadi salah satu sektor yang paling diuntungkan dari anggaran pencetak rekor tahun ini," kata Bill Gates dalam unggahan tersebut.
Namun, menurutnya, pasar cenderung merancang alat AI terbaik bagi pihak yang mampu membayar.
"Inilah yang menumpuk kesenjangan: teknologi yang mempermudah hidup, meningkatkan produktivitas, dan terkadang menyelamatkan nyawa pertama didapat oleh orang yang sudah punya paling banyak," dia menulis di laporan Goalkeepers.
Menurut Mark Suzman, Gates Foundation memandang AI sebagai alat dengan potensi transformatif di tengah dunia yang dilanda krisis. Yayasan itu memproyeksikan 2025 berpotensi menjadi tahun pertama pada abad ini ketika kematian anak meningkat.
Suzman juga menyoroti hambatan dari pemerintahan Trump terhadap bantuan AIDS global yang mengganggu upaya pencegahan dan pengobatan di puluhan negara. Sementara itu, laporan PBB terbaru menyebut kesenjangan antara negara kaya dan miskin semakin melebar.
Advertisement
Pengembangan AI Berbasis Bahasa Lokal
Untuk memastikan AI benar-benar membantu, Suzman berpendapat teknologi ini harus bekerja dalam berbagai bahasa lokal, bukan hanya bahasa dominan seperti Inggris atau Mandarin. Pada Selasa, yayasan mengumumkan sekitar US$ 100 juta (sekitar Rp 1,77 triliun) guna membangun data set dalam bahasa komunitas yang kurang terlayani dan sesuai konteks lokal mereka.
Di sisi lain, Jonathan Shaffer, asisten profesor sosiologi di University of Vermont yang meneliti tata kelola kesehatan global, mengingatkan bahwa penambahan data saja tidak otomatis membuat alat menjadi adil.
Ia menambahkan, infrastruktur kesehatan di banyak wilayah masih sangat lemah. Populasi yang paling termarjinalisasi berpotensi tetap dikecualikan dari data yang dipakai untuk melatih model AI berorientasi kesehatan, yang pada akhirnya bisa memperparah kesenjangan yang ingin dikurangi yayasan.
Advertisement
Kolaborasi dengan Raksasa AI dan Pembagian Dana
Gates Foundation bekerja bersama sejumlah perusahaan AI besar. Google.org dan Microsoft for Good Lab membantu meluncurkan panggilan terbuka untuk pendanaan proyek yang memperkuat kerangka kerja bagi ribuan bahasa yang kurang terwakili di seluruh Afrika.
Menurut Suzman, OpenAI menyiapkan US$ 50 juta (sekitar Rp 884,4 miliar) bersama yayasan untuk melatih tenaga kesehatan di klinik Rwanda, sebagai bagian dari program yang akan melibatkan negara Afrika lainnya. Sementara itu, Anthropic bermitra untuk mempercepat pengembangan vaksin dan meningkatkan kualitas chatbot menggunakan data set pangan lokal, serta kolaborasi lainnya.
Pengumuman pada Selasa itu juga merinci sekitar US$ 400 juta (sekitar Rp 7 triliun) untuk pendidikan, antara lain pengembangan alat yang membantu guru merombak bahan ajar pada konsep yang kurang dipahami siswa; US$ 400 juta (sekitar Rp 7 triliun) untuk layanan kesehatan, seperti alat yang memeriksa ulang laporan tenaga kesehatan guna mendeteksi gejala yang terlewat.
Selain itu, sekitar US$ 100 juta (sekitar Rp 1,77 triliun) diarahkan ke sektor pertanian, termasuk aplikasi yang memberi saran real-time kepada petani tentang pola cuaca, pengendalian hama, dan penggunaan pupuk.
Advertisement
Isu Bias dan Konflik Kepentingan
Suzman menekankan bahwa komitmen ini hanya sebagian kecil dibanding miliaran dolar AS yang dikeluarkan perusahaan teknologi terkemuka untuk produk komersialnya.
Ia juga mengonfirmasi bahwa yayasan berdiskusi dengan raksasa AI mengenai bagaimana sumber daya teknis mereka dapat berkontribusi pada tujuan yayasan, serta area investasi bagi kekayaan pribadi para pemimpin perusahaan yang diperkirakan sangat besar.
Bill Gates menyoroti potensi bias dalam unggahannya pada Agustus lalu. Ia masih memiliki keterkaitan finansial dengan industri teknologi, tempat ia membangun kekayaan yang diestimasikan lebih dari US$ 100 miliar (sekitar Rp 1.770 triliun), yang sebagian besar telah disalurkan ke Gates Foundation.
Ia juga bekerja bersama Microsoft dan perusahaan AI lain sebagai dewan Gates Foundation. Namun, ia menyatakan pandangannya tidak didasarkan pada motif keuntungan.
Shaffer dari University of Vermont mempertanyakan keadilan upaya ini karena penerapannya masih diarahkan oleh yayasan dan perusahaan swasta alih-alih organisasi yang dibentuk secara demokratis.
"Mereka masih merujuk pada suatu bentuk akses yang bersifat sangat privat," katanya.
Advertisement
Menjelang Pertemuan PBB Pekan Depan
Laporan Goalkeepers terbit jelang pertemuan tingkat tinggi Majelis Umum PBB yang akan digelar pekan depan di New York. Sekretaris Jenderal Antonio Guterres sebelumnya berupaya mengikutsertakan negara berkembang dalam pembahasan tata kelola AI.
Guterres, yang masa jabatannya berakhir tahun ini, menyatakan bahwa teknologi tersebut tidak bisa hanya dikelola oleh segelintir negara atau perusahaan.
Namun, menurut Richard Gowan, anggota International Crisis Group sekaligus direktur program dan pengamat PBB, proses di PBB berjalan jauh lebih lambat ketimbang laju pengembangan AI. Relevansi PBB juga dipertanyakan seiring mendekatnya proses pemilihan pengganti Guterres.
"Belum ada kepastian apakah sekretaris jenderal berikutnya akan memiliki fokus yang sama," ujar Gowan.