Ibu di India Juara Lari Tanpa Sepatu demi Buku Putrinya, Ini Tindak Lanjut Otoritas

Ramabai, 47, asal Maharashtra, India, juara lari 3 km tanpa sepatu demi buku putrinya. Videonya viral dan otoritas turun tangan.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Ibu di India Juara Lari Tanpa Sepatu demi Buku Putrinya, Ini Tindak Lanjut Otoritas
Ramabai Ranveer. ibu asal Maharashtra, India bagian barat,yang memenangkan lomba lari komunitas sejauh 3 kilometer tanpa alas kaki. (Sumber: Instagram @ndtv)

Ramabai Ranveer, 47 tahun, janda asal Maharashtra, India, memenangi lomba lari komunitas sejauh 3 kilometer pada Agustus lalu tanpa alas kaki. Ia mengikuti perlombaan pertamanya itu dengan satu tujuan: membantu biaya pendidikan kedua putrinya.

Ramabai tidak pernah berlatih lari dan tidak memiliki sepatu lari. Menurut BBC, Senin (21/9/2026), ia menyeberangi garis finis sebagai pelari pertama dan berhak atas hadiah 3.000 rupee atau sekitar US$ 31 (Rp 500 ribu) yang akan dipakai membeli buku serta perlengkapan belajar untuk anak-anaknya.

Jumlah tersebut jelas tidak besar—bahkan belum mendekati biaya pendidikan tinggi di India atau sekadar kursus di pusat bimbingan belajar tempat salah satu putrinya tengah mempersiapkan ujian rekrutmen pegawai pemerintah. Namun videonya segera viral, diberitakan sejumlah surat kabar, dan memantik perbincangan ketika sistem pendidikan India sedang disorot. "Apakah ini sebuah kebanggaan atau justru sumber rasa malu bagi kita sebagai masyarakat?" tulis seorang pengguna media sosial.

Bagi Ramabai, keputusan ikut lomba bermula dari percakapan pagi hari dengan anaknya. "Putri sulung saya datang kepada saya pagi-pagi sekali dan berkata, 'Mummy, saya ingin ikut lomba lari'," tuturnya kepada BBC News Marathi dari rumahnya di distrik Beed.

Setelah memastikan lokasi acara tidak jauh, sang putri menjelaskan hadiah uang dapat membantu pendidikannya. Sementara itu, putri bungsunya, Arati, yang tinggal di Nanded, sedang kesulitan membeli buku.

"Saya tidak bisa mengirim uang untuk membeli buku dan karena itu dia tidak berbicara dengan saya melalui telepon selama delapan hari," kata Ramabai.
"Jadi saya memutuskan bahwa saya harus berlari dan memenangkan perlombaan."

Sandal yang dikenakan Ramabai sempat terus terlepas hingga ia memilih melepasnya. Mengangkat sari yang dipakai, ia berlari tanpa alas kaki, menyalip peserta lain, dan menjadi juara kategori perempuan usia 30–60 tahun. Putri sulungnya, Pooja, finis kedua di kelompok usianya dan memuji keberanian sang ibu.

Tulang Punggung Keluarga Sejak 2012

Sejak suaminya meninggal pada 2012, Ramabai menjadi satu-satunya pencari nafkah di keluarganya.

"Saya melakukan pekerjaan apa pun yang bisa saya dapatkan," ujarnya.
"Saya memanen kedelai dan kacang arab di ladang orang lain. Saya juga mengumpulkan kunyit, mengolahnya, lalu menjualnya."

Ia berhenti sekolah pada usia 13 tahun dan ingin kedua putrinya mendapatkan kesempatan yang tak pernah ia miliki.

"Saya percaya bahwa selama saya masih hidup, saya harus melakukan segala yang saya bisa untuk memberikan pendidikan yang baik kepada putri-putri saya."

Harapan seperti itu dimiliki jutaan keluarga di India. Membawa anak melewati sistem pendidikan hingga meraih pekerjaan aman kerap memerlukan persiapan bertahun-tahun, persaingan ketat, dan biaya tidak sedikit. Salah satu putri Ramabai bersiap mengikuti rekrutmen kepolisian, sementara yang lain mempersiapkan diri untuk layanan sipil—dua jalur yang sangat kompetitif menuju pekerjaan pemerintah yang dipandang memberikan keamanan dan status sosial.

Jutaan anak muda India menghabiskan waktu bertahun-tahun menyiapkan ujian semacam itu, banyak yang harus membayar bimbingan belajar dan membeli bahan-bahan untuk belajar. Namun kepercayaan publik terguncang oleh berulangnya tuduhan kebocoran soal dan berbagai ketidakteraturan lain.

Kontroversi itu turut memicu frustrasi yang lebih luas di kalangan anak muda mengenai pendidikan, pekerjaan, dan kian tidak pastinya masa depan. Kekecewaan tersebut mendorong aksi protes yang dipimpin mahasiswa serta gerakan anak muda yang menuntut perubahan dalam sistem pendidikan India.

Pengorbanan Harian di Tengah Sorotan Pendidikan India

Bagi keluarga seperti Ramabai, pendidikan diperjuangkan melalui pengorbanan sehari-hari. Setelah kematian suami, ia mengambil pekerjaan apa saja yang tersedia. Kini, ia bekerja sebagai juru masak di pusat bimbingan belajar tempat salah satu putrinya mempersiapkan rekrutmen kepolisian.

Aksi lari tanpa alas kaki itu juga menarik perhatian pihak berwenang. Awal bulan ini, Ketua Mahkamah Agung India Surya Kant mengarahkan pejabat setempat untuk memberikan bantuan keuangan sebesar 50.000 rupee kepada Ramabai.

Di sisi lain, Sukhadeo Thorat, mantan ketua University Grants Commission, memandang kisah Ramabai sebagai cerminan persoalan struktural yang lebih luas.

"Jika seorang perempuan terpaksa berjuang begitu keras untuk pendidikan putrinya, itu menunjukkan bahwa program pendidikan pemerintah belum menjangkau masyarakat secara memadai," katanya.
"Pemerintah pusat dan negara bagian menjalankan berbagai program. Masalahnya adalah pelaksanaannya masih lemah."

Bagi Ramabai, perdebatan itu bukan hal utama. Baginya, yang penting adalah memastikan kedua putrinya memiliki masa depan yang lebih baik.

"Saya tidak ingin mereka mengalami kesulitan yang pernah saya hadapi," katanya.
"Saya tidak ingin mereka harus berjuang melewati lumpur atau bepergian di bawah terik matahari dan hujan. Apa pun yang sudah saya derita, saya tidak ingin putri-putri saya mengalami hal yang sama," tutup dia.
Rekomendasi