Proyek MNK Rokan: Game Changer Produksi Minyak RI

Langkah PHR kelola migas nonkonvensional di Blok Rokan dinilai jadi game changer baru untuk mendongkrak produksi minyak dan ketahanan energi RI.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Proyek MNK Rokan: Game Changer Produksi Minyak RI
<p>PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengembangkan teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Minas Stage-1 di sumur tua Blok Minas Provinsi Riau. (merdeka.com/Didi Syafirdi)</p>

Upaya PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dalam menggarap potensi migas non-konvensional (MNK) di Wilayah Kerja Rokan, Riau, dinilai memiliki peran kunci sebagai game changer bagi peningkatan produksi minyak nasional.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, mengungkapkan bahwa strategi serupa sebelumnya telah dibuktikan oleh Amerika Serikat (AS), yang berhasil bertransformasi dari negara importir menjadi salah satu produsen sekaligus eksportir minyak raksasa dunia usai mengencangkan pengembangan MNK sejak tahun 2000-an.

"Game changer-nya migas itu MNK. Hal ini seperti di AS, di mana MNK menjadi pembeda karena potensinya cukup besar, sehingga membuat AS tergolong menjadi produsen minyak yang besar di dunia setelah mengembangkan MNK tersebut di tahun 2.000-an," kata Komaidi dikutip dari Antara, Selasa (22/9).

Ia memaparkan bahwa Indonesia menyimpan potensi MNK yang amat melimpah. Meski begitu, proses penambangannya menghadapi tantangan teknis tersendiri lantaran karakteristik batuan yang berbeda dan lebih rumit ketimbang pengeboran migas konvensional. Kondisi ini menuntut penggunaan teknologi canggih serta kajian mendalam agar biaya produksi tetap efisien dan bernilai ekonomis.

Menurut Komaidi, keberhasilan PHR dalam menjalin kemitraan teknologi serta mengarungi tahap perencanaan hingga eksekusi proyek di Blok Rokan menjadi bukti konkret atas keandalan Pertamina di sektor ini. 

"Jadi, apakah teknologinya milik sendiri atau dengan pihak lain, PHR terbukti bisa melakukan perencanaan, sampai dengan eksekusi. Artinya, PHR memiliki kehandalan memproduksi MNK," ujarnya.

Ia menambahkan, kesuksesan eksplorasi MNK oleh PHR berpotensi memperpanjang masa cadangan dan produksi migas nasional, sekaligus menjamin keberlanjutan bisnis migas di Tanah Air.

"Sebab, kekhawatiran perusahaan migas adalah jika tidak menemukan cadangan baru. Karena hal itu otomatis membuat usia perusahaan akan segera berakhir," kata Komaidi.

Pemanfaatan untuk Wilayah Indonesia

Pertamina berhasil melakukan tajak sumur perdana eksplorasi di Lapangan Duri Blok Rokan menggunakan teknologi Unconventional Drilling. (Dok Pertamina)
Pertamina berhasil melakukan tajak sumur perdana eksplorasi di Lapangan Duri Blok Rokan menggunakan teknologi Unconventional Drilling. (Dok Pertamina)

Penemuan serta pengelolaan sumber-sumber baru ini diyakini tidak hanya memperpanjang usia operasional PHR dan Pertamina, tetapi juga membuka jalan bagi pemanfaatan potensi MNK di wilayah lain di Indonesia.

"Selain itu, kredibilitas Pertamina dalam produksi migas juga akan meningkat di dunia," ujarnya.

Dari sisi ketahanan energi nasional, pemanfaatan MNK di daratan (onshore) juga menawarkan keunggulan taktis. Mengingat mayoritas penemuan blok migas konvensional baru saat ini didominasi area laut dalam (deepwater) di Indonesia timur yang membutuhkan infrastruktur lebih rumit dan biaya operasional lebih mahal, pengembangan MNK relatif lebih efisien.

"Sedangkan MNK, sebagian sumurnya masih ada di daratan. Dengan demikian diharapkan, biaya produksi atau paling tidak secara teknis, tidak sesulit di laut dalam, sehingga memang layak menjadi harapan untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia," ujar Komaidi.

Sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina, langkah tegas PHR diawali melalui penandatanganan Kontrak Bagi Hasil MNK Rokan oleh anak usahanya, PT PHE Rokan Nonkonvensional. Ini menegaskan posisi MNK Rokan sebagai pionir proyek pengembangan migas nonkonvensional di Indonesia.

Adapun rekam jejak pengembangan MNK Rokan sendiri telah dimulai sejak pengeboran sumur Gulamo DET-1 pada tahun 2023, yang kemudian dilanjutkan dengan pengeboran Kelok DET-1 pada 2024 guna memetakan potensi struktur North Aman secara komprehensif.

Rekomendasi