Tentara Israel Banyak Bunuh Diri, Pasukan Terpaksa Diisi Prajurit yang Jiwanya Tidak Stabil

Surat kabar Haaretz melaporkan ada lonjakan kasus bunuh diri di kalangan tentara Israel.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Tentara Israel Banyak Bunuh Diri, Pasukan Terpaksa Diisi Prajurit yang Jiwanya Tidak Stabil
tentara israel (AP)

Semakin banyak tentara Israel yang meninggal karena bunuh diri di tengah perang di Gaza dan Lebanon, dengan laporan yang menyebutkan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) atau gangguan trauma dan kekurangan tenaga di militer.

Media Israel Kamis lalu melaporkan, seorang prajurit cadangan meninggal bunuh diri di Har Homa, Yerusalem (Al-Quds). Insiden ini terjadi di tengah lonjakan kasus bunuh diri di kalangan tentara Israel sejak perang di Gaza dimulai pada Oktober 2023.

Dilansir Al Mayadeen, Jumat (10/7), menurut Haaretz, jumlah bunuh diri di angkatan bersenjata pendudukan Israel telah meningkat ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak perang dimulai.

Laporan tersebut mengungkapkan antara 7 Oktober hingga akhir 2023, tujuh prajurit bunuh diri, sementara 21 kasus bunuh diri tercatat pada tahun 2024. Sejak awal 2025, sekitar 14 prajurit dilaporkan meninggal karena bunuh diri.

Angka sebenarnya dirahasiakan

Meskipun tren ini meningkat, angkatan bersenjata Israel menolak untuk mengungkapkan jumlah resmi kasus bunuh diri untuk tahun ini. Mereka menyatakan laporan lengkap hanya akan dirilis pada akhir 2025.

Kerahasiaan ini memunculkan pertanyaan tentang transparansi dalam komando militer, terutama karena trauma psikologis di kalangan prajurit terus meningkat.

Pada akhir pekan, seorang tentara lainnya dilaporkan bunuh diri setelah menderita gangguan psikologis berat setelah penempatannya di Gaza dan Lebanon selatan.

Dampak kesehatan mental dari perang telah menjadi isu kritis bagi rezim Israel, terutama karena laporan menunjukkan kekurangan tenaga yang parah di dalam barisan militer.

tentara israel
tentara israel grok

Prajurit dengan PTSD dipanggil kembali untuk bertugas

Seperti dilaporkan Haaretz, militer Israel telah mulai merekrut reservis yang menderita trauma dan kondisi psikologis lainnya, bahkan jika mereka sedang menjalani perawatan.

Seorang komandan mengatakan kepada surat kabar tersebut, “Karena prajurit kami tidak berkomitmen untuk bertempur, kami terpaksa merekrut individu yang tidak dalam kondisi mental stabil,” menambahkan, “Kami bertempur dengan apa yang kami miliki, meskipun kami yakin kondisi psikologis mereka tidak stabil.”

Menurut Haaretz, dua prajurit yang baru-baru ini dipanggil kembali bertugas kemudian bunuh diri.

Jumlah total bunuh diri prajurit Israel sejak 7 Oktober 2023, dilaporkan mencapai setidaknya 35 pada akhir 2024. Sumber terinformasi mencatat militer menguburkan beberapa prajurit yang meninggal karena bunuh diri tanpa mengadakan pemakaman militer atau mengeluarkan pernyataan resmi.

Seorang perwira mengatakan kepada Haaretz militer baru-baru ini terpaksa menekan prajurit untuk terlibat dalam pertempuran, namun menghadapi kesulitan dalam memobilisasi mereka untuk bertugas.

Laporan tersebut juga mengungkapkan manipulasi dalam tingkat kepatuhan yang dipublikasikan, dengan perwira dan prajurit mengkonfirmasi bahwa angka resmi tidak secara akurat mencerminkan tingkat partisipasi sebenarnya di antara reservis.

Sumber keamanan menekankan kepada surat kabar tersebut bahwa militer Israel perlu meningkatkan jumlah pasukannya empat kali lipat untuk mengendalikan lokasi-lokasi penting di Jalur Gaza.

Rekomendasi