Uni Emirat Arab (UEA) tengah melakukan lobi intensif kepada pemerintahan Donald Trump untuk menolak rencana rekonstruksi Gaza yang diusulkan Mesir. Rencana tersebut, yang didukung Liga Arab dan pejabat Mesir, mendapat perhatian besar dari diplomat AS yang khawatir akan dampaknya terhadap kepentingan AS di kawasan tersebut.
Ketegangan ini mencerminkan perpecahan yang semakin tajam di antara negara-negara Arab mengenai siapa yang seharusnya menentukan arah pemerintahan dan rekonstruksi Gaza di masa depan, serta pendapat yang berbeda mengenai seberapa besar pengaruh Hamas harus dipertahankan di wilayah Palestina tersebut, seperti dikutip dari Middle East Eye, Selasa (18/3).
UEA, yang memiliki kepentingan strategis di kawasan, berusaha untuk menegaskan pengaruhnya dengan menolak rencana Mesir dan memperjuangkan alternatif yang lebih sesuai dengan visi mereka. Dalam konteks ini, UEA mengusulkan pengawasan internasional atas Gaza, yang ditolak keras oleh Mesir dan Yordania.
Tekanan UEA menimbulkan dilema bagi Kairo karena UEA dan Mesir mendukung pemegang kekuasaan Palestina yang sama untuk Gaza yaitu Mohammed Dahlan, mantan pejabat Fatah yang diasingkan.
“UEA tidak mungkin menjadi satu-satunya negara yang menentang rencana Liga Arab ketika disetujui, tetapi mereka menghancurkannya dengan pemerintahan Trump,” ungkap seorang pejabat AS kepada Middle East Eye.
UEA memanfaatkan aksesnya ke Gedung Putih untuk mengkritik rencana tersebut, menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan dan menuduh Kairo memberikan terlalu banyak pengaruh kepada Hamas.
Duta Besar UEA untuk AS, Yousef al-Otaiba, memainkan peran kunci dalam lobi ini. Al-Otaiba telah mendekati lingkaran dalam Presiden Trump dan anggota parlemen AS untuk menekan Kairo agar menerima pengungsi Palestina secara paksa. Pernyataan Otaiba yang menyebutkan bahwa ia tidak melihat 'alternatif' untuk seruan Trump sebelumnya agar warga Palestina dipindahkan secara paksa ke luar Jalur Gaza, menunjukkan betapa seriusnya UEA dalam mempengaruhi kebijakan AS terkait Gaza.
Advertisement
UEA Marah Pejabat AS Bertemu Hamas
Rencana Gaza yang dirumuskan oleh Mesir telah mendapatkan kritik tajam dari UEA, terutama karena rencana tersebut tidak menjelaskan secara spesifik bagaimana melucuti senjata dan menyingkirkan Hamas dari Jalur Gaza. Pejabat Mesir menegaskan rencana tersebut dengan jelas menyatakan pemerintahan Gaza akan dipegang Otoritas Palestina. Namun, UEA berpendapat, rencana itu terlalu lemah dalam hal pengawasan terhadap Hamas.
Rencana Mesir juga mencakup pembentukan pasukan keamanan di Gaza yang dilatih Yordania dan Mesir, serta membuka kemungkinan untuk dikerahkannya pasukan penjaga perdamaian PBB di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki.
Kendati Hamas menyatakan menerima rencana tersebut, Israel menolak internasionalisasi konflik dengan cara tersebut. Hal ini menunjukkan perdebatan mengenai masa depan Gaza melibatkan banyak pihak dengan kepentingan yang berbeda, kata pejabat tersebut.
Menurut pejabat Mesir dan AS, UEA juga marah dengan pertemuan antara pejabat utusan Trump, Adam Boehler dengan petinggi Hamas di Doha, Qatar belum lama ini untuk bernegosiasi soal pembebasan tawanan Amerika-Israel yang masih ditahan di Gaza.