Di Tengah Penderitaan Ekonomi, Masih Ada Tangis Bahagia karena Piala Dunia

Menyaksikan gelaran Piala Dunia dan mengimpikan meraih juara menjadi harapan warga Argentina yang negaranya kini tengah mengalami krisis ekonomi bertahun-tahun dihajar inflasi.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Di Tengah Penderitaan Ekonomi, Masih Ada Tangis Bahagia karena Piala Dunia
Suporter Argentina di Buenos Aires. ©REUTERS

Kembang api, suara klakson mobil dan teriakan pendukung tim nasional saling bersahutan di jalanan Ibu Kota Buenos Aires, setelah Argentina memastikan gelar juara Piala Dunia 2022 Qatar tadi malam. Setelah drama 120 menit yang mendebarkan, Argentina berhasil mengalahkan Prancis lewat adu penalti dengan skor 4-2.

Sekitar dua juta warga tumplek memenuhi pusat kota dan pesta digelar di sepanjang pesisir sungai Plate.

"Luapan kegembiraan ini untuk semua orang, semua yang ada di sini. Hari ini giliran kami, kebahagiaan milik kami," kata pegawai hotel Julio Berdun, 50 tahun, di Alun-Alun Plaza de Mayo, Buenos Aires. Matanya terlihat berkaca-kaca karena bahagia.

Final tadi malam sungguh menjadi pertandingan paling mendebarkan sepanjang turnamen tahun ini. Argentina sempat unggul 2-0 di babak pertama tapi kemudian Prancis membuat pertandingan harus melewati perpanjangan waktu karena skor 90 menit berakhir 2-2. Di masa tambahan waktu Argentina kembali unggul 3-2 tapi Prancis lagi-lagi menyamakan kedudukan 3-3 sehingga harus terjadi adu penalti.

"Luar biasa, ini sungguh luar biasa, seluruh sejarah penderitaan orang Argentina mirip seperti ini," kata seorang warga yang menyaksikan pertandingan melalui layar besar di Taman Centenario, Buenos Aires.

"Kami terlahir untuk menderita, tapi begitulah kami orang Argentina. Kami terus bertahan, seperti negara kami."

Menyaksikan gelaran Piala Dunia dan mengimpikan meraih juara menjadi harapan warga Argentina yang negaranya kini tengah mengalami krisis ekonomi bertahun-tahun dihajar inflasi.

Sekitar 40 persen dari 45 juta penduduk berada di garis kemiskinan saat inflasi meroket dan nilai mata uang terus merosot.

"Argentina akan mengalami rollercoaster ekonomi di mana orang sulit memenuhi kebutuhan hidup di akhir bulan," kata Agustin Acevedo, 25 tahun, pekerja konstruksi dari Temperlay yang datang ke Buenos Aires untuk menyaksikan partai final.

"Tapi semua ini paripurna, semua penderitaan ini akhirnya sepadan."

"Terus terang, Argentina dalam bahaya, baik secara ekonomi maupun sosial, ini buruk. Jadi pelipur lara ini sangat layak didapatkan," kata Acevedo, seperti dilansir laman AFP, Senin (19/12).

Saat malam tiba, kawasan alun-alun yang biasa jadi lokasi perayaan langsung penuh cahaya lampu dan orang-orang menyemut di setiap sudut jalanan.

Kebahagiaan ini menjadi kelegaan yang luar biasa sejak terakhir kali Argentina juara Piala Dunia 36 tahun lalu.

"Saya 35 tahun, saya menunggu 35 tahun untuk momen ini sepanjang hidup saya. Saya tidak percaya, 35 tahun untuk mewujudkan impian ini," kata Soledad Palacios.

"Saya menunggu sepanjang hidup untuk menikmati Piala Dunia."

Di Rosario, kampung halaman Messi dan Angel Di Maria, para pendukung dari klub sepak bola yang bermusuhan yaitu Old Boys Newell dan Rosario Central mengubur segala pertentangan dan berbahagia bersama.

"Tim nasional ini menyatukan semuanya. Pendukung Central dan Newell saling berpelukan dan bernyanyi. Sungguh indah," ujar Nahuel Cantero, 21 tahun.

"Tim nasional layak mendapatkannya. Ini gila, lebih dari siapa pun, Messi layak mendapatkannya karena dia tidak pernah menyerah dan berjuang keras," kata Martin Reina, 23 tahun.

"Jika Messi dan Di Maria datang ke Rosario untuk merayakan, kami akan sangat senang," kata Micaela Lourdes, 20, yang menonton final dengan ibunya.

Rekomendasi