Peristiwa ini mirip di film aksi. Namun, kejadian ini benar-benar dialami oleh seorang penumpang pesawat Ryanair-Air Malta pada minggu lalu. Seorang penumpang bernama Ljubisa Karovi hampir tersedot keluar dari pesawat setelah jendela di samping kursinya terlepas saat Boeing 737-800 yang ditumpanginya sedang terbang setelah lepas landas dari Thessaloniki, Yunani.
Kepala dan bahunya sempat keluar dari pesawat sebelum akhirnya berhasil ditarik kembali oleh istrinya dan beberapa penumpang lainnya.
Menurut laporan dari The Guardian pada Kamis (16/7/2026), penyebab pasti dari insiden ini masih dalam tahap penyelidikan. Namun, berdasarkan keterangan dari sejumlah penumpang, jendela diduga pecah akibat terkena serpihan yang berasal dari kerusakan mesin kanan pesawat saat berada pada ketinggian sekitar 16.000 kaki.
Pihak Ryanair menginformasikan penerbangan harus kembali ke Thessaloniki tidak lama setelah lepas landas. Karena jendela penumpang terlepas saat pesawat masih berada di udara.
Peristiwa ini terjadi ketika pesawat melintas di wilayah udara Makedonia Utara. Otoritas setempat menyatakan, pesawat berbalik arah akibat adanya gangguan pada mesin kanan yang menyebabkan dekompresi atau penurunan tekanan di dalam kabin.
Beberapa saksi menyebutkan, Karovi mengenakan sabuk pengaman saat kejadian jendela terlepas. Ini menjadi faktor utama yang menyelamatkannya dari kemungkinan terlempar keluar dari pesawat.
Selain itu, ukuran jendela pada pesawat komersial yang relatif kecil membuat tubuh orang dewasa dapat menutup sebagian bukaan ketika jendela terlepas. Kondisi ini juga membantu mengurangi gaya hisap yang terjadi akibat perbedaan tekanan.
Dr. Jason Knight, seorang Dosen Senior Mekanika Fluida di University of Portsmouth, menjelaskan bahwa aliran udara yang sangat kuat hanya berlangsung dalam waktu singkat.
"Aliran udara terjadi secara tiba-tiba dan akan berhenti ketika tekanan di dalam kabin sudah sama dengan tekanan udara di luar pesawat," jelasnya.
Advertisement
Insiden Langka
Insiden di mana penumpang hampir tersedot keluar melalui jendela pesawat tergolong sangat jarang, meskipun bukan kejadian yang pertama kali. Kasus serupa yang terakhir kali terjadi pada tahun 2018 melibatkan penerbangan Southwest Airlines dari New York menuju Dallas, di mana Jennifer Riordan hampir terlempar keluar akibat jendela yang pecah karena kerusakan mesin. Meskipun penumpang lain berhasil menariknya kembali ke dalam kabin, sayangnya nyawanya tidak dapat diselamatkan.
Penyebab dari insiden yang melibatkan Ryanair dan Air Malta masih dalam tahap penyelidikan. Tetapi laporan awal menunjukkan, jendela pesawat mengalami kerusakan setelah terkena serpihan mesin. Video yang beredar di media sosial juga menunjukkan hilangnya salah satu bilah kipas mesin.
Insiden yang terjadi pada Southwest Airlines di tahun 2018 juga melibatkan pesawat Boeing 737 dengan mesin buatan CFM, di mana bilah kipas mesin patah dan mengenai jendela hingga pecah.
Peristiwa serupa juga tercatat pada tahun 2024 ketika panel pintu pesawat Boeing 737 MAX milik Alaska Airlines terlepas saat penerbangan. Beruntung, kursi yang berada di samping panel tersebut tidak ditempati oleh penumpang. Selain penumpang, pilot juga pernah mengalami insiden serupa saat kaca depan kokpit pecah di udara.
Sejumlah kejadian yang mirip menunjukkan bahwa ada peluang untuk bertahan hidup dalam situasi kritis. Karovi, yang saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit akibat luka fisik dan trauma psikologis, dilaporkan mengalami pendarahan dari hidung dan mulut, serta cedera serius pada tangan akibat gesekan.
Saat kejadian kecelakaan Southwest Airlines pada tahun 2018, kopilot Sichuan Airlines di China juga mengalami kejadian serupa. Di mana sebagian tubuhnya tersedot keluar melalui jendela Airbus A319 yang pecah, tetapi ia berhasil selamat dengan hanya mengalami patah pergelangan tangan.
Kasus lain juga terjadi pada tahun 1990 ketika seorang pilot British Airways hampir seluruh tubuhnya tersedot keluar setelah panel kaca depan kokpit terlepas segera setelah pesawat lepas landas. Rekan-rekannya berusaha mempertahankan tubuh sang pilot dengan memegang kedua kakinya selama sekitar 20 menit hingga pesawat dapat melakukan pendaratan darurat.
Meskipun mengalami luka berat dan trauma psikologis, pilot tersebut berhasil selamat.
"Hipoksia merupakan salah satu risikonya. Selain itu ada cedera fisik dan trauma psikologis karena ini merupakan pengalaman yang sangat mengejutkan. Namun, seseorang tetap bisa bertahan hidup," ujar Dr Simon Bennett, seorang pilot sekaligus Direktur Unit Keselamatan dan Keamanan Sipil di University of Leicester.
Advertisement
Penumpang di Samping Jendela Punya Risiko Tinggi
Penumpang yang duduk di samping jendela dan tidak menggunakan sabuk pengaman merupakan kelompok yang paling rentan. Terutama jika ukuran tubuhnya cukup kecil untuk melewati bukaan jendela. Di sisi lain, penumpang yang berada di baris depan maupun belakang umumnya masih terlindungi oleh sandaran kursi yang ada di depan mereka.
"Aliran udara paling kuat terjadi tepat di area jendela. Siapa pun yang berada sangat dekat dengan bukaan tersebut dan tubuhnya cukup kecil untuk melewatinya berisiko tersedot keluar. Namun, insiden seperti ini sangat jarang terjadi," ungkap Knight.
Dia menambahkan, ukuran pintu pesawat jauh lebih besar dibandingkan dengan jendela. Oleh karena itu, jika sebuah pintu terlepas saat pesawat terbang, penumpang yang berada di dekatnya akan menghadapi risiko yang lebih besar, meskipun kejadian semacam itu juga sangat tidak umum.
Seberapa berbahaya sebenarnya dekompresi kabin? Pesawat modern dirancang agar tetap bisa terbang dengan aman meskipun kehilangan satu jendela. Namun, hilangnya tekanan kabin secara tiba-tiba tetap dapat menyebabkan situasi yang berbahaya, terutama jika pesawat tersebut sudah berumur tua atau tidak dirawat dengan baik.
Menurut Bennett, struktur pesawat yang sudah lama digunakan bisa memiliki retakan-retakan kecil yang tidak terlihat. Ketika dekompresi mendadak terjadi, retakan tersebut dapat berkembang menjadi kerusakan struktural yang lebih serius.
"Jika pesawat menggunakan rangka yang sudah sangat tua, misalnya berusia 25 hingga 30 tahun, dekompresi dapat memicu kegagalan struktur lain yang sebelumnya tidak terdeteksi. Dalam kondisi ekstrem, badan pesawat bisa robek dan seluruh pesawat dapat hilang hanya dalam hitungan detik," jelasnya.