Bule Belanda Chaim Fetter yang mencintai Indonesia bahkan membangun Yayasan Peduli Anak bergerak untuk membantu anak jalanan kembali ke sekolah rupanya mempunyai kisah cinta cukup menarik dan unik. Awalnya dia tidak membayangkan bakal menikah dengan warga negeri ini, namun ternyata hatinya berlabuh pada 'arek suroboyo' nan ayu bernama Martina Natratilova.
Perkenalan Fetter dan Martina pertama kali sangat tak disengaja dan itu pun lewat ponsel. "Saya memang bukan tipe pria romantis," ujar Fetter jujur.
Ceritanya, Fetter bertemu dengan seorang anak jalanan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan dugaan lelaki berkacamata itu, anak tersebut ingin sekali balik ke sekolah. Dengan niat membantu Fetter membawa bocah itu ke sebuah sekolah di sana. "Saya bilang pada petugas sekolah itu, anak ini tidak punya rumah, tinggal di jalanan, tidak ada orang tua, tapi ingin belajar lagi. Itu yang terpikir oleh saya," ujar Fetter ditemui merdeka.com di Jakarta (11/12).
Usaha Fetter berbuah hasil. Akhirnya ada seorang guru bernama Ida mempersilakan bocah jalanan itu tinggal di rumahnya. Namun dengan satu syarat, Fetter harus menangguh biaya makan serta pendidikan anak terlantar itu. Tak mikir lama, Fetter segera mengangguk.
Yakin dengan janji Ida, Fetter permisi untuk pamit pulang selama beberapa bulan ke negaranya sembari menitipkan bocah jalanan itu ke Ida dan memberinya sejumlah uang untuk biaya hidup. Selang puluhan pekan, dia pun balik lagi ke Lombok untuk menengok anak asuhnya itu.
"Saat ke rumah ibu Ida, saya melihat foto perempuan. Menurut saya manis. Lalu saya tanya pada ibu Ida dan dia jawab itu keponakannya," kata Fetter.
Foto itu tak lain gambar Martina. Ida pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia menelepon sang keponakan dan mengatakan jika di rumahnya sedang ada bule Belanda. Kebetulan sekali Martina fasih berbahasa Inggris dan saat itu juga mengajar sebagai dosen di almamaternya, Universitas Airlangga.
"Ibu Ida langsung memberikan telepon itu ke saya dan saya mau tak mau akhirnya ngobrol dengan dia. Akhirnya kami berjanji untuk bertemu di Surabaya, tempat dia tinggal saat itu," imbuh Fetter antusias.
Ogah lama-lama bertemu Martina, esoknya Fetter terbang ke Surabaya. Dia langsung merasa klik bertemu perempuan berkulit sawo matang itu. Baginya Martina sosok perempuan yang cerdas dan punya visi sama yakni membantu orang terpinggirkan termasuk anak jalanan.
Mereka sering tukar pikiran soal bocah yang diterlantarkan orang tuanya. "Saya ajak dia jalan berdua pertama kali. Bukan ke pusat perbelanjaan atau kafe. Tapi ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Benowo di Surabaya," Fetter tertawa.
Kegembiraan dan kelucuan bertambah sebab Martina ternyata salah kostum. Dia mengenakan celana pendek serta sepatu hak tinggi (high heels). Namun tak disangka oleh Fetter ternyata Martina tidak canggung diajak kencan ke TPA. Digandeng naik turun bukit sampah pun mau.
"Dia mau diajak naik ke atas sampah sambil bilang 'nanti kamu harus belikan saya sepatu, ya'. Saya cuma tertawa saja," kata Fetter lagi.
Lantaran satu visi dan melihat Martina ternyata seorang perempuan tangguh, Fetter pun jatuh hati padanya. Mereka pun menikah pada Maret 2010. Meski hingga kini belum dikaruniai anak, namun keduanya memiliki anak asuh dan tinggal bersama mereka di Jakarta.
Fetter mengaku kagum dengan sosok perempuan-perempuan Indonesia. "Mereka amat memperhatikan suaminya. Selalu mendukung dan pekerja keras," ujar Fetter yang kini juga mendirikan situs jual beli yakni jualo.com dan menjalani Yayasan Peduli Anak bersama dengan istrinya.