Israel Bakal Kerahkan 50.000 Pasukan Cadangan untuk Fase Baru Perang di Gaza
Fase baru konflik di Gaza dimulai pada tanggal tertentu. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hal ini, simak informasi berikut.
Seorang pejabat militer Israel mengungkapkan pada Rabu (20/8/2025) bahwa para jenderal senior negara tersebut telah menyetujui rencana untuk memanggil puluhan ribu pasukan cadangan. Rencana ini bertujuan untuk memulai fase baru operasi di beberapa wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Gaza. Dalam pernyataannya yang disampaikan dengan syarat anonim sesuai dengan peraturan militer, pejabat tersebut menyatakan, seperti dilansir oleh AP, bahwa militer akan melakukan operasi di bagian Kota Gaza yang sebelumnya belum dijangkau oleh pasukan Israel, di mana Hamas masih beroperasi aktif.
Saat ini, pasukan Israel telah melaksanakan operasi di lingkungan Zeitoun dan Jabaliya di Kota Gaza untuk mempersiapkan langkah-langkah bagi perluasan operasi. Langkah ini diperkirakan akan mendapatkan persetujuan dari kepala staf dalam beberapa hari ke depan, meskipun masih belum ada kepastian mengenai kapan operasi tersebut akan dimulai. Pejabat itu juga menyampaikan bahwa sebanyak 50.000 pasukan cadangan akan dipanggil dalam bulan mendatang, sehingga jumlah total pasukan cadangan aktif akan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 120.000. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa tujuan dari operasi ini adalah untuk memastikan pembebasan para sandera yang masih tersisa dan untuk mencegah Hamas serta kelompok militan lainnya dari mengancam Israel di masa depan.
Kengerian baru muncul di Gaza
Konflik di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, ketika kelompok militan Palestina yang dipimpin oleh Hamas melancarkan serangan terhadap Israel. Israel melaporkan bahwa serangan tersebut mengakibatkan sekitar 1.200 korban jiwa, mayoritas di antaranya adalah warga sipil, serta 251 orang lainnya diculik. Sebagian besar dari para sandera telah dibebaskan melalui gencatan senjata atau kesepakatan lainnya. Menurut Hamas, mereka hanya bersedia melepaskan sisa sandera dengan syarat gencatan senjata permanen dan penarikan pasukan Israel. Rencana untuk menyerang Kota Gaza dan kamp-kamp di wilayah tersebut telah memicu kecaman dari komunitas internasional dan menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya pengungsian massal di kalangan warga Palestina.
Saat ini, ratusan ribu orang yang terlantar mencari perlindungan di kota Gaza, di mana sebagian besar infrastruktur penting yang tersisa masih dapat ditemukan. Para mediator dan pihak Hamas mengklaim telah mencapai kesepakatan terkait syarat-syarat gencatan senjata. Namun, respons dari Israel masih belum jelas, karena beberapa anggota koalisi Netanyahu menolak kesepakatan bertahap yang dianggap tidak cukup untuk menghapus ancaman dari Hamas. Ketidakpastian ini menambah ketegangan di wilayah yang sudah dilanda konflik ini, di mana harapan akan perdamaian tampak semakin jauh.