Upaya Produsen Nikel Nomor 1 Dunia, Harita Nickel, Jaga Harmoni Hilirisasi Indonesia
Kala bentangan tanah wilayah bekas tambang belum sempurna direklamasi, gerusan air hujan akan membuat lapukan tanah yang mengandung chromite / chromium.
Total 14 jam pulang pergi lewat udara, laut dan darat dari Jakarta menuju Pulau Obi, Maluku Utara, melelahkan tapi sepadan dengan setumpuk info yang didapat. Memenuhi undangan produsen nikel nomor 1 di dunia, Harita Nickel, Merdeka.com bersama empat perwakilan media nasional lainnya melihat kerasnya upaya Harita jalani regulasi.
Paparan untuk media di pertambangan dan pabrik Harita Nickel berlangsung Jumat (22/8) hingga Sabtu (23/8) di luar dua hari perjalanan, transit, dan istirahat. Well, sejak berakhirnya pandemi Covid-19 ternyata sudah sekitar 30 perwakilan media yang mengunjungi Pulau Obi, yang kini tercatat dihuni 37 ribu orang.
Sebanyak 23 ribu orang di antaranya adalah karyawan Harita, yang sekitar 3.000-an (15 persen) di dalamnya adalah tenaga kerja Tiongkok. Kawasan pabrik dan pertambangan di sebelah barat pulau ini berbatasan langsung dengan desa kecil, Kawasi, yang dihuni 1.100 orang lokal dan pendatang.
Guna memastikan keselamatan dan kenyamanan warga, Harita sudah memindahkan 70 persen penduduk Kawasi ke komplek modern yang sudah memiliki mesjid dan gereja besar di arah selatan pesisir barat Pulau Obi yang dinamai Kawasi Baru. Pemindahan warga ini berbasis sistem tukar bangunan dan tanah dengan luas yang sama atau sedikit lebih besar.
Kawasan modern itu dilengkapi pasar modern berbentuk toko plus gudang dan siap menerima seluruh warga sejak setahun silam. Desa yang rapi itu dilengkapi listrik gratis seumur hidup. Tapi sangat disayangkan, karena alasan yang bersifat komunal, sosial, dan historis, sejumlah kecil penduduk memutuskan masih bertahan di Kawasi.
Dialihfungsikan Jadi Kawasan Hijau
"Bila seluruh warga telah berpindah secara sukarela maka Harita akan lebih leluasa mengkonversi Desa Kawasi menjadi wilayah hijau terbuka yang berdampingan dengan kawasan pabrik dan tambang kami," jelas Tonny Gultom, Direktur Harita Nickel bidang Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan; kepada Merdeka.com.
Tantangan memastikan warga nyaman dalam proses transformasi lingkungan dan sosial ini adalah satu dari sejumlah isu besar yang secara konsisten dikawal Harita. Ini syarat agar sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) mereka tak tersandung perkara kultural dan administratif. Apalagi di 2023 mereka baru melakukan initial public offering di Bursa Efek Indonesia.
Ranah sensitif bagi Harita adalah soal pencemaran air, reklamasi tambang, transfer teknologi, dan harmonisasi karyawan Indonesia (lokal dan dari luar provinsi) dengan tenaga kerja Tiongkok. Seluruh aspek internal-eksternal yang rawan itu terus dijaga Harita mengingat nilai aset dari PSN tersebut memang fenomenal.
Produk Harita adalah serbuk berwarna hijau muda MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) sebanyak 15 ribu ton per bulan, serbuk hijau tosca Nickel Sulfate (1.500 ton per bulan), serta serbuk jingga kemerahan Cobalt Sulfate (2.100 ton per bulan).
Harga Nickel Sulfate di akhir Agustus 2025 sedang turun jadi USD 3.800 (sekitar R 62 juta) per ton. Walhasil dari penjualan Nickel Sulfate saja Harita tetap bisa meraup Rp 93 miliar per bulan (setara Rp 1,1 triliun per tahun).
Nickel Sulfate dan Cobalt Sulfate adalah bahan dasar baterai mobil listrik hasil paduan Nikel-Mangan-Cobalt yang memiliki permintaan pasar dunia yang amat tinggi karena mudah didaur ulang ketimbang jenis baterai lain. Untuk menghasilkan tiga produk mineral di atas Harita menerapkan proses pemurnian modern High Pressure Acid Leach (HPAL) sejak 2021.
Awalnya, tiga produk mineral Harita tersebut diekstrak dari timbunan tanah merah bernama Limonite yang ditambang dangkal (5-10 meter) dari barat Pulau Obi. Posisi dangkal Limonite membuat wilayah kupasan dari penambangan menjadi lebih bersifat horisontal di permukaan ketimbang masuk secara vertikal ke dalam bumi.
Imbasnya, kelak diperlukan proses reklamasi yang lebih masif ketimbang jenis penambangan vertikal. Sedikit di bawah lapisan Limonite, yang dulu tidak memiliki nilai ekonomis, justru terdapat kumpulan mineral berharga lainnya berupa tanah merah yang lebih berbatu-batu yang disebut Saprolite.
Itulah bahan baku dari produk logam kotor berwarna perak kehitaman, Ferronickel, yang kelak jadi campuran utama untuk memproduksi baja tahan karat alias stainless steel.
Rp2 Miliar per Bulan untuk Murnikan Air
Untuk menghasilkan Ferronickel, Saprolite dilebur lewat bejana smelter modern dengan metode RKEF (Rotary Kiln Electric Furnace) yang membutuhkan listrik berdaya tinggi antara 30-40 megawatt dalam satu kali daur produksi. Untuk keperluan ini, tidak tanggung-tanggung Harita mendirikan pembangkit listrik bertenaga uap yang berbasis pembakaran batu-bara di Pulau Obi.
Kini, jumlah Ferronickel yang dihasilkan Harita per tahun adalah 120 ribu ton alias setara Rp28,8 triliun (per Agustus 2025 harga 1 ton ferronickel adalah USD 14.700 / Rp 240 juta).
Well, produk sampingan proses RKEF berupa material endapan berat berupa campuran biji-biji logam pengotor yang disebut nickel slag. Material ini kemudian dicetak menjadi batako yang dipakai membangun Kawasi Baru dan juga dibentuk jadi kubus-kubus batu bersisi 40 centimeter.
Kubus-kubus berongga itu dipakai sebagai kerangka rumpon ikan tempat karang laut tumbuh di lepas pantai Pulau Obi, yang jernih dan terus didatangi lobster, ikan hias, serta ikan-ikan pedaging seperti Tuna, Cakalang, bahkan Lumba-Lumba.
Proses smelting RKEF berjalan sejak 2016 alias lima tahun sebelum metode HPAL mulai produktif dan sejak dua proses ini berjalan maka pabrik dan tambang yang berada dalam satu pulau ini menjadi sangat produktif dalam kerangka hilirasi nasional. Ya, sejak itu Indonesia tidak lagi mengekspor tumpukan tanah lempung merah berbatu Saprolite dan juga Lemonite.
Kala bentangan tanah wilayah bekas tambang belum sempurna direklamasi, gerusan air hujan akan membuat lapukan tanah yang mengandung chromite / chromium akan mencemari sungai dan akhirnya masuk ke laut. Untuk mengantisipasi pencemaran ini Harita membuat kanal labirin seluas 4,2 hektare guna mengendapkan lumpur yang hanyut.
Proses sendimentasi yang dibantu dengan penambahan cairan polimer ke dalam kanal pengendapan membuat air dari area pertambangan telah jernih ketika bermuara ke laut lepas. Ketika curah hujan sedang tinggi-tingginya, Harita bahkan harus membelanjakan sekurangnya Rp 2 miliar per bulan untuk membeli cairan polimer pengikat partikel tanah pencemar air.
"Situasi menjadi sulit ketika hujan justru terjadi di kanal pengendapan ini karena sendimen yang teraduk limpahan hujan bisa kembali membuat air keruh. Karena itu kami setiap hari juga melakukan pengerukan endapan untuk dijadikan materi penutup wilayah eks penambangan," demikan penjelasan Dedy Amrin, Manajer Pengembangan Bisnis dan Lingkungan Harita.
Keripik Pisang Khas Pulau Obi
Reklamasi pun lalu jadi unsur vital di tata kelola wilayah Harita karena dapat meminimalisasi proses awal masuknya chromium ke dalam laut. Namun, harus dipahami bahwa larutnya pencemar seperti chromium ke dalam air laut di mayoritas Maluku Utara adalah sebuah proses natural dengan atau tanpa proses penambangan, yang berbeda hanya soal volume.
Untuk menangani penghijauan kembali lahan-lahan yang telah selesai dieksplorasi, Harita memiliki divisi khusus yang dikepalai seorang sarjana lulusan Institut Pertanian Bogor, Mokhamad Rifai, sebagai superintendent reklamasi tambang.
“Seluruh tahapan pembibitan, persemaian, hingga penanaman kembali pohon-pohon keras dan tanaman perdu kami lakukan dengan bibit tumbuhan endemik Pulau Obi di wilayah nursery Harita Nickel,” ujar Rifai, sambil merinci beberapa jenis tanaman yang sudah dan akan terus menutup seluruh wilayah eks tambang seperti pohon Cemara Laut, Kayu Putih, Jambu Monyet, Kayu Manis, hingga alang-alang sereh dan beberapa varietas anggrek Maluku.
Hal yang menarik adalah minimnya penanaman kembali pohon pisang hutan yang justru menjadi komoditas andalan warga Kawasi. Ya, keripik pisang yang dikemas dalam bungkusan modern alumunium berlabel istilah setempat 'Horiwo' (persaudaraan/kebersamaan) adalah produk unggulan para pelaku UMKM di Kawasi dan Kawasi Baru.
Pisang hutan Pulau Obi, yang sedikit keras dan bergetah unik, memang pas untuk dijadikan keripik Howari yang omzet penjualannya sudah melampaui Rp150 juta per bulan.
"Saya baru pindah ke Kawasi Baru sekitar lima bulan dan kami melanjutkan produksi kripik ini seperti yang sudah kami lakukan dua tahun belakangan. Bantuan modal, pengemasan, dan cara pemasaran, diberi pihak Harita sedari awal,” sebut Ibu Suryani yang akrab dipanggil 'Mama Cahya', seorang warga Pulau Obi asal Halmahera berusia 53 tahun.
Mama Cahya kini memimpin UMKM yang dikelola 42 ibu rumah tangga di Kawasi dan Kawasi Baru. Perempuan lulusan SMA ini yakin usaha yang semula hanya beromset Rp 5 juta itu akan terus berkembang karena permintaan produknya terus meningkat setiap tahun. Pengembangan produk mereka pun bertambah dengan minuman sirup Buah Pala dan jenis-jenis keripik lain.
Bila menimbang begitu banyak hal yang sudah dilakukan Harita untuk mengangkat komunitas lokal dan menjaga harmonisasi ekosistem industri sejak mereka mendapatkan Izin Usaha Penambangan (IUP) terbatas di 2010, pembahasan selanjutnya tentu adalah soal proses transfer teknologi dari partner Tiongkok mereka ke Indonesia.
Dari 23 ribu karyawan Harita Nickel, terdapat sekitar 40 orang bergelar sarjana S-3. Untuk menjalankan teknis operasional di level pemurnian dan peleburan Saprolite dan Limonite saja komunikasi intelektual memang harus terjadi di antara mereka yang terbaik dari kedua negara.
Memenuhi Standar Audit Tertinggi
Namun, yang mengejutkan adalah dalam ruang kontrol smelter Harita, Merdeka.com justru mendapati ada 12 sarjana S-1 berbasis teknik yang seluruhnya perempuan. Mereka seluruhnya berasal dari Indonesia lulusan sejumlah perguruan tinggi mulai dari Aceh hingga Makassar.
Tugas mereka melakukan pengawasan proses smelting Saprolite di empat jalur produksi RKEF berdurasi 24 jam di bawah pengawasan beberapa teknisi utama dari Indonesia dan Tiongkok.
Lewat semua fakta ini, Harita Nickel juga sedang mengurus standar audit Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA). Informasi terakhir, proses tengah diaudit pihak ketiga.
Meski demikian, ke depan tidak mungkin Harita sepenuhnya akan bebas dari ujian karena posisi mereka sebagai produsen Nikel nomor satu dunia telah membuat Filipina, Kaledonia Baru, dan Australia kesulitan mengoperasikan tambang nikel di wilayah masing-masing secara ekonomis dan produktif.
Kompetitor tidak akan tinggal diam dan bahkan sempat menyebut nikel dari Indonesia sebagai 'dirty nickel'.
Satu-satunya cara untuk menjaga keseimbangan hilirisasi Indonesia adalah dengan terus bergerak maju secara bertahap dan terus berawasan lingkungan serta menakar dampak sosio-kultural. Harita sangat terlihat terus berusaha konsisten seperti itu dalam 15 tahun perjalanannya, semoga mereka konsisten demi Merah-Putih.