Pemerintah menegaskan kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak dapat serta-merta dialihfungsikan menjadi perkebunan tebu. Untuk mendukung program bioetanol tanpa menyentuh hutan alam, Kementerian Koordinator Bidang Pangan tengah mengidentifikasi sekitar 9,7 juta hektare lahan rusak (degraded land) yang berpotensi dimanfaatkan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq menjelaskan tebu menuntut karakter lahan dan iklim yang spesifik, sehingga tidak semua wilayah cocok untuk pengembangannya. Kalimantan, menurut dia, termasuk wilayah yang kurang sesuai.
"Jadi si tebu ini karakternya lahannya tertentu ya, tidak semua seperti Kalimantan tidak bisa, tidak bisa ya," kata Hanif di Jakarta, dikutip Sabtu (7/11/2026).
Ia menambahkan, ritme musim yang pas menjadi kunci budidaya tebu: fase tanam perlu didampingi hujan, sedangkan panen idealnya pada periode kering.
"Jadi lebih kepada Pulau Jawa yang karakter iklimnya pada saat ditanam ada hujan, pada saat mau panen itu harus kemarau," imbuhnya.
Hanif menyebut area yang cocok cenderung terbatas, seperti di Pulau Jawa, Lampung, dan Nusa Tenggara. Selain faktor teknis tanaman, pemanfaatan lahan bekas karhutla harus memprioritaskan pemulihan fungsi aslinya sebelum diproyeksikan untuk kebutuhan pertanian.
"Sehingga dengan demikian penggunaan restorasi atau rehabilitasi terbakar itu disesuaikan pertama dengan kesesuaian lahannya dan fungsinya. Kalau itu stated forest atau hutan negara yang harus dikembalikan," ucap dia.
Ia menegaskan langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar perlindungan hutan alam menjadi prioritas dalam setiap kebijakan.
"Jadi Bapak Presiden sudah mengarahkan tidak mengganggu hutan alam lagi pada rapat kabinet paripurna beberapa minggu yang lalu," jelas Hanif.
Advertisement
Pemanfaatan Lahan Rusak untuk Bioetanol, Bukan Bekas Karhutla
Untuk memenuhi bahan baku bioetanol, pemerintah memfokuskan pencarian pada lahan terdegradasi agar tidak menyita kawasan hutan alam yang tersisa. Dari total potensi sekitar 9,7 juta hektare, proses penyaringan dilakukan ketat, termasuk mengeluarkan bidang yang terlalu kecil sehingga sulit dikelola.
"Nah ini yang sedang kita evaluasi. Kemarin kita minta dikeluarkan yang kurang dari 100 hektar karena kurang 100 ini kan tidak manageable. Nah ini angkanya masih relatif memadai dan kita akan mengarah penggunaan degraded land," tutur Hanif.
Analisis lokasi dilakukan dengan mengintegrasikan berbagai sumber data untuk mendapatkan penentuan yang akurat dan mendetail.
"Jadi jumlahnya hampir 9,7 juta hektar yang hari ini terus kita analisis, tapi penganalisisnya kan tidak sederhana. Kita perlu banyak sources untuk merumuskan lokasi dengan relatif detail," terangnya.
Pemetaan ini menjadi krusial mendukung rencana pengembangan BBM berbasis bioetanol dari racikan E20 hingga E50. Sebelumnya, Kementerian Pertanian merancang kebutuhan kebun tebu baru hingga 2 juta hektare, namun perhitungan pemerintah tengah diperbarui agar tidak menyentuh kawasan hutan.
"Kita hitung ulang ya, kita tapi dari desain dari Kementerian Pertanian angkanya seperti itu. Kita kemarin juga sudah dipaparkan oleh Bapak Presiden dalam sidang Kabinet Paripurna. Bapak Presiden nanya, 'Pak Mentan, apakah ini sudah lepas dari kawasan hutan, atau itu tidak mengganggu hutan kan?'," sebut Hanif.
Advertisement
Berbeda dari B50, Kebun Tebu Harus Ekspansi
Hanif menjelaskan strategi bioetanol berbasis tebu tidak sama dengan biodiesel. Program B50 bisa dikejar melalui intensifikasi, sementara bioetanol membutuhkan kebun tebu baru sesuai desain Kementerian Pertanian.
"Kalau B50 sepertinya sudah jalan saja karena saya pikir produktivitas kita perlu ditingkatkan. Kita punya 17 juta hektar kebun sawit yang produktivitasnya masih 2 ton per hektar yang tentu bisa sampai ke 4 ton ya. Jadi masih banyak upaya untuk itu, untuk intensifikasi," jelasnya.
Adapun untuk campuran etanol (E-series), ketersediaan bahan baku mengharuskan pengembangan kebun tebu dari nol di lokasi yang benar-benar sesuai.
"Namun untuk E ini benar-benar harus bangun perkebunan tebu baru sepertinya, seperti yang didesain oleh Kementerian Pertanian, gitu ya," pungkas Hanif.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9391573/original/004412000_1793940913-biotenal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9392248/original/074884000_1794030195-WhatsApp_Image_2026-11-06_at_21.32.13.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9392172/original/026956000_1794020708-823bff0c-d501-4d80-8bd2-5e5f408d8b74.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9392011/original/038233700_1793963609-IMG_6619.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9392052/original/079747900_1793969428-WhatsApp_Image_2026-11-05_at_22.04.57.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9392050/original/077069000_1793969029-WhatsApp_Image_2026-11-06_at_09.29.06.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505614/original/026744400_1771392012-btn2.jpg)