Setor Sampah Kini Bisa Jadi Nambah Saldo di BTN, Begini Caranya

Fasilitas ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang sebelumnya sukses berjalan di Situbondo, Jawa Timur.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra- Reporter
Setor Sampah Kini Bisa Jadi Nambah Saldo di BTN, Begini Caranya
Setor Sampah Kini Bisa Jadi Nambah Saldo di BTN, Begini Caranya

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) gencar memperluas program pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Langkah terbaru diwujudkan lewat peresmian Waste Station di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas dan Rekosistem, fasilitas ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang sebelumnya sukses berjalan di Situbondo, Jawa Timur. Lewat fasilitas ini, warga Banyumas kini bisa menyulap sampah anorganik menjadi bernilai ekonomi dan langsung mencairkannya ke dalam rekening BTN.

Direktur Commercial Banking BTN, Hermita menyampaikan bahwa kehadiran Waste Station merupakan bagian dari strategi Beyond Mortgage. Lewat arah baru ini, BTN tak hanya berfokus pada pembiayaan rumah, melainkan juga ikut mengembangkan ekosistem penunjangnya demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

"Sekarang BTN itu sudah Beyond Mortgage. Nah, Beyond Mortgage-nya itu kita bukan hanya mengelola rumah, tapi juga semua ekosistemnya," ujar Hermita dalam acara peresmian Waste Station di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (5/11/2026).

Hermita merincikan lima ekosistem utama yang tengah dikembangkan BTN, yakni pemerintah daerah, kesehatan, pendidikan, pariwisata, dan perdagangan. Seluruh sektor ini beririsan langsung dengan kehidupan penghuni rumah sekaligus menjadi sumber timbulan sampah harian. Oleh sebab itu, tata kelola sampah yang ramah lingkungan dipandang sebagai elemen krusial dalam membangun kawasan pemukiman yang berkelanjutan.

Langkah ini sejalan dengan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, yang mencatat bahwa sampah rumah tangga mendominasi sekitar 50,8% dari total 33,79 juta ton sampah nasional. Angka besar ini mengisyaratkan betapa pentingnya pemilahan sampah yang dimulai dari level pemukiman.

Guna memperluas daya jangkau pengelolaan sampah, BTN membuka pintu kemitraan dengan para pengembang perumahan, kampus, serta pemerintah daerah. BTN bahkan mendorong agar tiap kawasan perumahan memiliki fasilitas pemilahan sampahnya sendiri demi membangun kebiasaan memilah sejak dari rumah.

Tak berhenti di situ, BTN juga merangkul generasi muda yang memiliki inovasi pengolahan sampah lewat program pelatihan dan business matching bersama para pelaku usaha serta pengembang. Ke depan, jangkauan Waste Stationditargetkan tak hanya menampung sampah anorganik, tetapi juga merambah ke sampah organik. "Jangan cuma kita memindahkan sampah, tapi mengelola sampah," tegas Hermita.

Cara Kerja dan Dampak Ekonomi Bagi Warga

Waste Station Alun-Alun Purwokerto siap melayani masyarakat setiap Selasa hingga Minggu pukul 09.00–18.00 WIB,dengan kapasitas pengumpulan rata-rata mencapai 4 ton sampah per bulan.

Mekanismenya sangat mudah, warga cukup membawa sampah anorganik, seperti botol plastik, kertas, kardus, kaleng, kaca, hingga sampah elektronik, lalu menyetorkannya menggunakan aplikasi Rekosistem. Sampah yang disetor akan ditimbang dan diubah menjadi poin berdasarkan jenis serta beratnya, yang kemudian dapat dicairkan menjadi uang tunai langsung ke rekening BTN.

Inisiatif di Banyumas ini mereplikasi keberhasilan Waste Station BTN di Situbondo yang sejauh ini telah berhasil mengumpulkan sekitar 6,8 ton sampah anorganik dari 32 pengguna aktif.

Sinergi Bersama untuk Lingkungan Berkelanjutan

Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup, Vinda Damayanti Ansjar, menegaskan bahwa kolaborasi antar-sektor mulai dari pemda, perbankan, dunia usaha, hingga masyarakat merupakan kunci utama terciptanya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. 

Vinda mengapresiasi Banyumas yang dinilai sudah memiliki infrastruktur pengelolaan sampah yang kuat, seperti TPST ,TPST 3R, fasilitas RDF, hingga recycling center. Kehadiran Waste Station diharapkan kian memperkokoh alur pengumpulan sampah terpilah yang terintegrasi langsung dengan industri daur ulang.

"Keterlibatan sektor perbankan juga membuka peluang untuk menghubungkan pengelolaan sampah dengan layanan dan insentif keuangan, sehingga masyarakat dapat merasakan secara langsung manfaat dari kebiasaan memilah sampah," ujar Vinda.

Vinda juga menekankan bahwa tolok ukur utama dari program ini adalah dampak nyatanya di lapangan, bukan sekadar peresmian seremonial semata.

"Keberhasilan Waste Station tidak cukup diukur dari berdirinya fasilitas atau terlaksananya peresmian pada hari ini.Keberhasilan sesungguhnya akan terlihat dari seberapa banyak masyarakat yang terlibat, seberapa besar sampah yang berhasil dikumpulkan secara terpilah dan didaur ulang, serta seberapa besar manfaat ekonomi dan lingkungan yang dihasilkan secara berkelanjutan," katanya.

 

Rekomendasi