Kasus HIV/AIDS di Palembang Capai 463 Orang, Mayoritas Tak Sadar Terpapar

Dinkes Palembang catat 463 kasus HIV/AIDS hingga Oktober 2026. Mayoritas penderita baru menyadari kondisinya usai menjalani tes medis.

irwanto
Oleh irwanto- Reporter
Kasus HIV/AIDS di Palembang Capai 463 Orang, Mayoritas Tak Sadar Terpapar
ciri hiv aids pada wanita ©Ilustrasi dibuat AI

Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat sebanyak 463 kasus HIV/AIDS ditemukan sepanjang periode Januari hingga Oktober 2026. Dari total angka tersebut, rinciannya terdiri dari 422 orang positif HIV dan 41 orang menderita AIDS.

Lonjakan penambahan kasus terbanyak terjadi pada September 2026, yakni mencapai 53 kasus dalam satu bulan. "Penderita HIV/AIDS di Palembang hingga Oktober 2026 tercatat ada 463 kasus," ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Palembang, Putri Damayanti, Jumat (6/11/2026).

Putri menjelaskan bahwa bertambahnya angka penderita sejalan dengan makin intensifnya pemeriksaan (skrining) yang dilakukan petugas kesehatan. Target pemeriksaan menyasar calon pengantin, ibu hamil, hingga kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terpapar.

Berdasarkan data Dinkes, penemuan kasus paling menonjol berasal dari kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL).Kelompok ini menjadi perhatian khusus agar rantai penularan dapat ditekan.

"Paling menonjol dari kelompok pelaku seks sesama jenis laki-laki," kata Putri.

 

Banyak Penderita Tak Sadar Terpapar

Meski angka kasus melonjak, Putri menegaskan hal itu tidak sepenuhnya berarti penularan makin meluas di lapangan.Penambahan ini juga dipicu oleh makin rutinnya deteksi dini yang digelar tenaga medis.

Ironisnya, mayoritas penderita baru justru tidak pernah menyadari bahwa tubuh mereka telah terpapar virus HIV. Mereka umumnya kaget dan panik saat mendapati hasilnya positif, sebab selama ini merasa tubuhnya sehat tanpa keluhan.

"Ya, mereka baru tahu karena diskrining oleh tenaga medis. Sebelumnya tidak tahu sama sekali," terang Putri.

Bagi penderita HIV, mereka masih dapat menjalani hidup dan beraktivitas secara normal dengan syarat rutin mengonsumsi obat serta mengikuti terapi antiretroviral (ARV). Meski demikian, risiko penularan tetap ada melalui pertukaran cairan tubuh (seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan dubur, dan ASI) sampai jumlah virus dalam darah benar-benar tidak terdeteksi.

Sementara itu, penanganan khusus berlaku bagi penderita AIDS. Perawatan di rumah sakit mutlak diperlukan untuk mengobati komplikasi infeksi oportunistik yang menyertai, seperti tuberkulosis (TB), pneumonia, maupun infeksi berat lainnya.

"Kalau masih HIV masih bisa beraktivitas seperti biasa atau hidup normal dengan syarat jalani terapi ARV dan minum obat rutin. Tapi, penularan masih ada," tambahnya.

Dinkes Palembang mengimbau masyarakat untuk menghindari perilaku seksual berisiko dan konsisten menerapkan pola hidup sehat. Bagi siapa pun yang merasa memiliki faktor risiko, dianjurkan untuk segera memeriksakan diri.

"Kita lakukan deteksi dini karena sangat penting untuk penanganan cepat dan mencegah penularan lebih lanjut," pungkas Putri.

Rekomendasi