Harga emas dunia kembali berada di bawah tekanan menjelang akhir pekan. Mengutip Kitco, Sabtu (31/10/2026), aksi jual besar-besaran pada Jumat mendorong harga menembus US$ 4.000 per ons dan menyentuh posisi terendah sejak 6 Oktober 2025.
Logam mulia sempat turun hingga level terendah intraday di US$ 3.884,61 per ons. Di penutupan terbaru, harga emas spot berada di US$ 3.880 per ons, merosot 3,5% harian dan nyaris 3% secara mingguan.
Tekanan juga menghantam perak. Harganya jatuh ke bawah US$ 50 per ons, dengan perak spot diperdagangkan di US$ 48,95 per ons—turun hampir 6% harian dan anjlok sekitar 9% dalam sepekan, menjadi penurunan mingguan terburuk sejak awal Juni.
Penurunan terbaru terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap pekan yang diperkirakan kembali bergejolak: rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) dan pemilihan umum paruh waktu yang menambah ketidakpastian. Di saat yang sama, pelaku pasar menyebut ada frustrasi karena harga emas justru ditekan ketika dolar AS dan imbal hasil obligasi melemah. Kitco Global Index sendiri menggambarkan seberapa besar pergerakan harga hari ini dipengaruhi faktor dolar AS dibanding dinamika pasar emas murni.
Secara tradisional, pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil kerap menjadi sentimen positif bagi logam mulia karena menurunkan biaya peluang memegang emas. Adapun Federal Reserve pada Rabu mempertahankan suku bunga, namun menegaskan komitmen menurunkan inflasi. Terlepas dari jeda tersebut, pelaku pasar masih memperkirakan kenaikan suku bunga pada Desember dan berlanjut sepanjang kuartal I/2027.
Advertisement
Kebijakan Suku Bunga Membayangi Emas
Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures, Philip Streible, menilai harga emas masih akan kesulitan karena konflik yang berlangsung dengan Iran menjaga harga minyak tetap tinggi.
"Aturan di pasar saat ini adalah Anda harus membeli aset yang mencerminkan inflasi, dan minyak saat ini merupakan representasi dari inflasi tersebut," kata Philip Streible.
Ia menambahkan, emas cenderung berkinerja baik saat bank sentral terpaksa memangkas suku bunga untuk menopang ekonomi. Namun dengan pertumbuhan ekonomi AS 3,4% pada kuartal ketiga, bank sentral dinilai memiliki ruang cukup untuk kembali menaikkan suku bunga.
"Jika ekonomi tetap kuat, The Fed dapat terus menaikkan suku bunga, yang berarti emas akan terus berada dalam posisi rentan terhadap tekanan," ujar Streible.
Advertisement
Tiga Pemicu yang Bisa Mengubah Prospek Harga Emas
Kepala Pengembangan Bisnis XS.com, Simon-Peter Massabni, menyebut emas saat ini lebih bereaksi terhadap ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga ke depan, meski dolar AS melemah dan imbal hasil turun.
"Faktor penentunya adalah apakah data ekonomi yang akan datang mendorong pasar untuk mengevaluasi kembali prospek suku bunga—menggeser ekspektasi ke arah penghentian pengetatan kebijakan atau dimulainya kembali pemangkasan suku bunga," ujar Simon-Peter Massabni.
Ia menilai, sampai perubahan itu terjadi, harga emas berpotensi tetap berada di bawah tekanan jual, terlepas dari faktor-faktor yang masih menopang prospek jangka menengah hingga panjang.
"Saya melihat ada tiga perkembangan yang dapat mengubah prospek tersebut," ujar dia.
Pertama, pendinginan bertahap namun jelas di pasar tenaga kerja AS—ditandai perlambatan pertumbuhan lapangan kerja, kenaikan tingkat pengangguran, dan moderasi pertumbuhan upah. Kedua, penurunan inflasi yang berkelanjutan, terutama inflasi inti dan komponen harga yang mencerminkan dampak kenaikan biaya energi pada barang dan jasa. Ketiga, penyesuaian ekspektasi suku bunga masa depan serta imbal hasil riil ke tingkat yang lebih rendah.
Advertisement
Aksi Jual Tekan Tren Teknikal
Dari sisi teknikal, Analis Teknikal GivTrade, Waleed Said, memperkirakan potensi penurunan lebih lanjut, dengan harga emas pada akhirnya menguji level dukungan di US$ 3.800 per ons.
Aksi jual terbaru mendorong harga jauh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average) yang berada di kisaran US$ 4.490 per ons. Dengan perdagangan sekitar 13,5% di bawah indikator tren jangka panjang tersebut, momentum teknikal masih menunjukkan kecenderungan bearish yang kuat.
"Mekanismenya penting di sini. Bukan berarti orang-orang menukar emas mereka dengan minyak," ujar Waleed Said.
"Harga minyak yang lebih tinggi berarti inflasi yang lebih tinggi, dan inflasi yang lebih tinggi membuat bank sentral tetap bersikap hawkish (cenderung menaikkan suku bunga). Selain itu, saat terjadi aksi jual di sektor teknologi, banyak pihak menjual emas untuk memenuhi margin call di instrumen lain," ia menambahkan.
Selain itu, emas merupakan aset yang likuid sehingga kerap menjadi yang pertama dijual ketika kebutuhan uang tunai meningkat. Dalam situasi konflik ini, emas tidak berperan sebagai aset aman (safe haven) seperti yang banyak diharapkan. Peran tersebut justru diambil oleh minyak dan dolar AS yang mewakili peluang pembelian jangka panjang.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4723189/original/060727400_1705921940-fotor-ai-20240122181141.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4837499/original/073050500_1716195907-Harga_emas_cetak_rekor_tertinggi-ANGGA_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317483/original/038563700_1755354018-90f1d87d-b9ec-4dc0-a6da-329fdaff70bf.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9386964/original/043314700_1793417760-PLN_31_Oktober_2026_3.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383514/original/088267000_1793090403-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_15.25.34.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9324721/original/082544700_1786765344-word_media_image1_2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384931/original/052695800_1793194839-WhatsApp_Image_2026-10-28_at_20.36.35.jpeg)