Buah Segar dan Perjuangan Menjaga Isi Dompet

Harga, anggaran belanja, dan keterbatasan fasilitas penyimpanan memengaruhi kebiasaan masyarakat mengonsumsi buah. Di tengah kebutuhan sehari-hari yang terus bersaing, apakah menikmati buah segar kini menjadi sebuah privilege?

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani- Reporter
Buah Segar dan Perjuangan Menjaga Isi Dompet
Lapak pedagang buah di Pasar Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Deretan buah berwarna cerah di lapak pasar seolah menawarkan kesegaran yang mudah dibawa pulang. Namun, bagi sebagian orang, menikmati buah tak selalu sesederhana memilih yang terlihat paling ranum. Ada harga yang perlu dihitung, kebutuhan lain yang harus dipenuhi, hingga tempat penyimpanan yang belum tentu tersedia.

Bagi Pita, seorang karyawan ritel, menyantap buah tetap menjadi bagian dari kesehariannya. Hanya saja, jenis dan jumlah buah yang dibeli harus menyesuaikan isi dompet. Alpukat menjadi buah favoritnya, tetapi ia tak selalu bisa membelinya dalam jumlah yang sama.

"Alpukat kalau lagi mahal, seminggu cuma beli sekilo isi tiga sampai empat, harga Rp50 ribu. Kalau lagi murah, seminggu bisa habis tiga kilogram,” ujar Pita.

Pita memiliki batas harga tersendiri saat membeli alpukat. Jika harganya masih sekitar Rp30 ribu per kilogram, ia akan membelinya. Namun, ketika harga melampaui batas tersebut, ia memilih mengalihkan uang belanjanya ke buah lain yang lebih terjangkau.

Pisang dan mangga menjadi beberapa pilihan pengganti. Baginya, tak harus selalu alpukat yang menghiasi keranjang belanja. Selama ada buah lain yang lebih ramah di kantong, kebiasaan mengonsumsi buah masih bisa dipertahankan.

Ketika harga alpukat turun, Pita bisa membeli hingga tiga kilogram dalam seminggu. Sebaliknya, saat harganya naik, jumlah pembelian menyusut. Ia memilih beradaptasi ketimbang memaksakan diri membeli buah favoritnya.

Bagi Pita, menjaga kebiasaan makan buah juga berarti pandai membaca harga. Keinginan boleh tetap sama, tetapi pilihan di lapangan bisa berubah mengikuti keadaan.

Ketika Buah Kalah oleh Kebutuhan yang Lebih Mendesak

Situasi berbeda dialami Afi, seorang perantau yang tinggal di Yogyakarta. Di rumah, buah seperti jeruk, apel, dan pir biasanya tersedia. Sesekali, ada pula buah naga yang bisa dinikmati kapan saja.

Namun, kebiasaan itu perlahan berubah setelah ia tinggal di kos. Kini, Afi mengaku bisa melewati satu hingga dua bulan tanpa membeli buah. Jika ingin menikmatinya, ia terkadang memilih jus buah, meski belakangan kebiasaan tersebut juga semakin jarang dilakukan.

Terakhir kali membeli buah, Afi memilih buah naga potong dalam porsi kecil yang bisa langsung dihabiskan. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Kos tempatnya tinggal tidak memiliki kulkas, sementara penjual buah di sekitar tempat tinggalnya juga terbatas.

Tanpa tempat penyimpanan yang memadai, membeli buah utuh dalam jumlah banyak terasa merepotkan. Ia khawatir buah tidak habis dimakan dan akhirnya terbuang.

"Selain itu, masih merasa worth it buat beli makanan berat yang kenyang dibanding buah," kata Afi.

Bagi Afi, persoalannya bukan semata-mata harga buah. Ada pertimbangan tentang kebutuhan makan sehari-hari, kemudahan mendapatkan buah, hingga risiko membeli sesuatu yang tidak bisa disimpan lama.

Di tengah pengeluaran sebagai anak rantau, makanan berat terasa lebih mendesak untuk mengisi perut. Buah pun perlahan bergeser dari kebiasaan rutin menjadi sesuatu yang sesekali dinikmati.

Afi menilai penjual yang menyediakan buah potong atau menjual buah per buah bisa menjadi alternatif. Dengan porsi yang lebih kecil, ia dapat membeli sesuai kebutuhan tanpa khawatir harus menyimpan sisa buah.

Pengalaman Afi menunjukkan bahwa harga murah belum tentu cukup untuk membuat buah rutin hadir di meja makan. Ketersediaan penjual, fasilitas penyimpanan, dan kemampuan mengatur pengeluaran ikut menentukan pilihan.

Harga di Lapak, Pilihan di Tangan Pembeli

Lapak pedagang buah di Pasar Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Lapak pedagang buah di Pasar Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Gambaran mengenai beragam pertimbangan konsumen juga terlihat di Pasar Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Pada Selasa (27/10), Kusni, pedagang buah yang baru sekitar setengah bulan berjualan di lokasi tersebut, menjelaskan bahwa harga buah bisa berubah-ubah.

Salah satu buah yang disebut banyak dicari pembeli adalah mangga Indramayu. Di lapaknya, mangga tersebut tersedia dalam dua pilihan harga, yakni Rp15 ribu dan Rp25 ribu per kilogram.

Kusni juga menyebut harga alpukat sekitar Rp35 ribu per kilogram saat ditemui. Menurutnya, harga buah tidak selalu menetap karena bisa mengalami kenaikan maupun penurunan.

Perubahan harga itu turut memengaruhi keputusan sebagian pembeli. Kusni mengakui ada konsumen yang mengurungkan niat ketika harga buah tidak sesuai dengan perkiraan mereka.

“Ada aja,” ujar Kusni saat ditanya apakah pembeli pernah batal membeli buah karena harganya.

Pembeli yang datang pun beragam. Sebagian membeli buah untuk dikonsumsi sendiri, sementara lainnya membeli untuk dijual kembali. Menurut Kusni, jumlah pembelian juga bergantung pada pelanggan yang datang. Kehadiran pelanggan tetap terkadang membuat penjualan lebih ramai.

Untuk konsumen yang ingin membeli dalam porsi lebih kecil, beberapa buah juga tersedia dalam bentuk potongan. Semangka, misalnya, dijual dengan harga sekitar Rp10 ribu hingga Rp17 ribu per potong, bergantung pada potongan yang ditawarkan.

Penjualan buah potong menjadi salah satu pilihan bagi konsumen yang tidak ingin mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli buah utuh. Di sisi lain, Kusni juga mempertimbangkan agar buah yang sudah dipotong tidak terbuang apabila tidak habis terjual.

“Daripada ibaratnya terbuang,” kata Kusni ketika menjelaskan pertimbangannya terkait penjualan buah dalam potongan.

Pilihan tersebut memberi alternatif bagi pembeli yang ingin menyesuaikan pembelian dengan anggaran. Meski begitu, harga yang lebih terjangkau bukan satu-satunya faktor yang menentukan keputusan pembelian. Kebutuhan, kebiasaan, dan kemampuan menyimpan buah tetap menjadi pertimbangan masing-masing konsumen.

Bukan Sekadar Soal Murah atau Mahal

Cerita Pita dan Afi memperlihatkan dua cara berbeda dalam menyiasati pengeluaran. Pita memilih mengganti alpukat dengan buah yang lebih murah ketika harga naik. Sementara itu, Afi justru semakin jarang membeli buah sejak merantau karena harus mempertimbangkan anggaran, akses penjual, dan keterbatasan penyimpanan.

Keduanya menggambarkan bahwa keputusan membeli buah tidak selalu berhenti pada angka yang tertera di lapak. Harga memang berpengaruh, tetapi kemudahan memperoleh buah dan kemampuan menghabiskannya tanpa terbuang juga ikut menentukan.

Bagi sebagian orang, solusinya adalah beralih ke buah musiman atau membeli dalam porsi kecil. Bagi yang lain, buah harus menunggu sampai kebutuhan yang dianggap lebih mendesak terpenuhi.

Pada akhirnya, menikmati buah segar bukan sekadar perkara memilih yang paling murah. Ada perhitungan kecil di balik setiap pembelian seperti berapa banyak yang mampu dibeli, berapa yang bisa dihabiskan, dan berapa uang yang harus disisihkan untuk kebutuhan lain.

Di antara warna-warni buah yang memenuhi lapak pasar, perjuangan menjaga isi dompet berlangsung dalam pilihan sederhana. Sebab, bagi sebagian konsumen, makan buah bukan hanya soal selera, tetapi juga tentang menemukan cara agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi tanpa membuat pengeluaran kian membengkak.

Rekomendasi