Peraih Nobel Ekonomi 2025 Paparkan Jalan Indonesia Lepas dari Middle Income Trap

Peraih Nobel Ekonomi 2025 Peter Howitt memaparkan strategi agar Indonesia keluar dari middle income trap, mulai dari manufaktur skala besar hingga inovasi.

Immanuel Christian
Oleh Immanuel Christian- Reporter
Peraih Nobel Ekonomi 2025 Paparkan Jalan Indonesia Lepas dari Middle Income Trap
<p>Peraih Hadiah Nobel Ekonomi dari Brown University, Profesor Peter Howitt. (Foto milik Katherine Howitt via AP)</p>

Peraih Nobel Ekonomi 2025, Peter Howitt, menilai Indonesia perlu memperkuat industri manufaktur berskala besar serta mendorong ekspor untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap). Langkah ini disebut krusial untuk mempercepat ketertinggalan teknologi dan menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Menurut Howitt, negara berkembang dapat mempercepat kemajuan dengan terlebih dahulu mengadopsi teknologi dari negara yang lebih maju, kemudian mengembangkan inovasi sendiri. Tahapan ini memungkinkan proses mengejar ketertinggalan berlangsung lebih cepat dibanding hanya mengandalkan perbaikan bertahap.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). "Indonesia adalah negara dengan potensi pertumbuhan yang sangat besar, dan Danantara jelas memiliki peran penting dalam mewujudkan potensi tersebut," kata Howitt.

Pelajaran dari Asia Timur: Adopsi Teknologi dan Ekspor

Howitt mencontohkan Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, dan China yang memanfaatkan penerapan teknologi asing untuk memperkuat basis industri dan daya saing. Kebijakan itu berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas produksi dan orientasi ekspor.

Negara-negara tersebut juga mengembangkan perusahaan berskala besar, memperluas pasar melalui ekspor, serta memanfaatkan investasi asing langsung guna mempercepat transfer teknologi di dalam negeri.

"Pengembangan perusahaan berskala besar yang mampu menerapkan teknologi asing dan mengekspor produknya ke pasar dunia merupakan strategi penting untuk mengejar ketertinggalan," ujar Howitt.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang memindahkan sebagian tenaga kerja yang masih berada di sektor pertanian ke industri manufaktur. Peralihan tersebut dapat memperluas basis produksi dan memperkuat kemampuan memasok barang ke pasar internasional.

Namun, ia mengingatkan bahwa strategi mengejar ketertinggalan melalui imitasi teknologi tidak cukup untuk mempertahankan pertumbuhan ketika negara semakin dekat dengan garis depan teknologi global. "Ketika negara semakin dekat dengan garis depan teknologi, keuntungan dari ketertinggalan mulai menghilang. Negara harus mulai menciptakan inovasi teknologi terdepan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi," tutur Howitt.

Persaingan, Startup, dan Akses Pendanaan Menurut Peraih Nobel

Howitt menilai pemerintah perlu mendorong perusahaan rintisan serta perusahaan kecil yang lincah karena kelompok usaha tersebut berpotensi menghasilkan inovasi yang bersifat terobosan. Untuk mendukungnya, akses pembiayaan melalui modal ventura dibutuhkan agar risiko dan kemungkinan kegagalan dalam proses inovasi dapat ditanggung.

Selain pembiayaan, ia menekankan pentingnya persaingan usaha untuk mendorong produktivitas. Persaingan mendorong perusahaan terus berinovasi agar tidak kehilangan pasar terhadap pendatang baru yang lebih efisien.

"Pasar yang lebih kompetitif memungkinkan perusahaan pendatang baru menggantikan perusahaan yang sudah mapan. Kondisi ini membuat perusahaan lama terus waspada dan berinovasi," kata Howitt.

Ia juga menilai perdagangan internasional berperan memperluas pasar dan meningkatkan insentif perusahaan untuk berinovasi. Sebaliknya, tarif dan hambatan perdagangan yang berlebihan dapat melindungi perusahaan domestik dari kompetisi yang justru diperlukan untuk meningkatkan daya saing.

Agenda Awal Pemerintah: Riset hingga SDM

Howitt menambahkan, pemerintah perlu memperkuat dukungan terhadap penelitian dan pengembangan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menyeimbangkan perlindungan hak kekayaan intelektual dengan kebutuhan menjaga persaingan.

Ia menyebut pentingnya menyesuaikan strategi pembangunan dengan tahapan kemajuan teknologi yang dicapai suatu negara.

Penerapan teknologi asing dan penguatan manufaktur dapat menjadi pijakan awal. Seiring Indonesia mendekati batas teknologi global, peran inovasi, pembiayaan berisiko, dan pengembangan perusahaan baru menjadi semakin penting.

Rekomendasi