Utang Prancis 119% PDB, Ekonom Ungkap Dampaknya ke Ekonomi dan Daya Beli

Utang Prancis tembus 119% PDB saat imbal hasil obligasi naik tajam. Para ekonom memetakan risiko fiskal dan tantangan politik pengesahan anggaran.

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon- Reporter
Utang Prancis 119% PDB, Ekonom Ungkap Dampaknya ke Ekonomi dan Daya Beli
Sejumlah demonstran berhadapan dengan polisi saat aksi menentang kenaikan biaya hidup sekaligus menyuarakan tuntutan mahasiswa di Paris, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (AP Photo/Emma Da Silva)

Utang publik Prancis mencapai sekitar 3,6 triliun euro atau setara 119 persen dari produk domestik bruto (PDB). Di tengah lonjakan biaya pinjaman ke level tertinggi sejak 2002, tekanan bagi pemerintah untuk merapikan fiskal tanpa menggerus daya beli kian besar.

Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun meningkat lebih dari 130 basis poin sejak Juni dan sempat menembus 4,9 persen. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan tuntutan pengembalian yang lebih tinggi dari investor ketika defisit anggaran diperkirakan mencapai 5,4 persen dari PDB pada 2026, menurut Al Jazeera.

Ketegangan sosial turut mengemuka. Ratusan ribu demonstran turun ke jalan menentang rencana pemangkasan anggaran serta menuntut tambahan belanja untuk meringankan biaya hidup dan memperbaiki layanan publik, termasuk pendidikan.

Victor Lequillerier, Presiden BSI Economics yang berbasis di Paris, menilai ukuran utang bukan satu-satunya penentu.

"Keberlanjutan utang negara jarang ditentukan oleh tingkat utangnya secara absolut saja," kata Presiden BSI Economics Victor Lequillerier kepada Al Jazeera, Senin (26/10/2026).

"Hal itu jauh lebih bergantung pada arah perkembangannya, strukturnya, serta konteks ekonomi dan keuangan yang lebih luas," kata dia.

Biaya Utang Naik, Anggaran Prancis Kian Tertekan

Demo Tolak Kenaikan Biaya Hidup di Prancis Berujung Ricuh
Sebuah mobil terbakar di Lapangan République saat aksi demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan menyuarakan keluhan mahasiswa di Paris, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (AP Photo/Thibault Camus)

Defisit anggaran menjadi salah satu persoalan utama keuangan Prancis ketika pengeluaran pemerintah lebih besar daripada pendapatannya. Pemerintah diperkirakan perlu menghemat 54 miliar euro dalam rancangan anggaran tahun berikutnya, namun rencana itu memicu perdebatan di parlemen yang terfragmentasi.

Menurut Antonio Fatas, profesor ekonomi di INSEAD, tantangan Prancis bukan semata besaran utang, melainkan kesulitan politik dalam menyepakati anggaran yang berkelanjutan.

"Apakah angka-angka Prancis jauh lebih buruk dibandingkan negara lain? Tidak, tetapi sedikit lebih buruk. Kesulitan sebenarnya adalah situasi politik yang membuat pemerintah saat ini tidak memiliki jalan mudah untuk menyusun anggaran yang masuk akal dari sudut pandang keberlanjutan utang," ujar Fatas kepada Al Jazeera.

Ia menambahkan, kondisi politik tersebut menjadi alasan pasar sangat mencermati situasi Prancis.

Pemerintah selama bertahun-tahun juga menghadapi tantangan reformasi belanja, termasuk sistem pensiun. Pengeluaran pemerintah setara sekitar 57 persen dari PDB, salah satu yang tertinggi di antara negara-negara maju anggota OECD.

Belanja pensiun menyumbang sekitar 14 persen dari PDB dan berpotensi meningkat seiring menyusutnya populasi usia kerja dalam beberapa dekade mendatang.

Alex Dryden, ekonom makro di Centre for Sustainable Finance, SOAS University of London, menyebut Presiden Emmanuel Macron telah lama mengedepankan perlunya reformasi untuk memperbaiki prospek fiskal.

"Sejak 2017, Macron telah berbicara tentang perlunya reformasi pensiun untuk mengurangi beban fiskal. Namun, ini merupakan isu politik yang sangat sensitif di Prancis dan berbagai upaya reformasi telah berulang kali terhenti," kata Dryden kepada Al Jazeera.

Menurut dia, mengatasi persoalan tersebut dapat membantu menurunkan beban fiskal Prancis, tetapi pelaksanaannya tidak mudah.

Apakah Prancis Terancam Krisis Utang?

Rasio utang Prancis memang tinggi, namun masih lebih rendah dibandingkan sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Italia. Amerika Serikat diuntungkan oleh status dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia. Jepang memiliki porsi utang domestik yang besar dan mempertahankan suku bunga rendah dalam waktu lama. Sementara itu, Italia memiliki rasio utang terhadap PDB sekitar 140 persen, tetapi defisit anggarannya diperkirakan sekitar 3 persen dari PDB.

Andrew Kenningham, Kepala Ekonom Eropa di Capital Economics, menekankan bahwa kemampuan negara menanggung utang sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi dan besarnya defisit.

"Investor akan semakin khawatir jika ekonomi suatu negara hanya tumbuh lambat atau bahkan tidak tumbuh sama sekali, serta jika defisit pemerintah sangat tinggi. Dengan faktor lain dianggap tetap, kondisi tersebut berarti rasio utang cenderung meningkat," kata Kenningham kepada Al Jazeera.

Lequillerier menambahkan, persaingan mendapatkan modal internasional semakin ketat. Jerman kini menerbitkan lebih banyak utang, sedangkan Italia dan Spanyol dinilai telah memperkuat posisi fiskalnya. Menurut dia, Prancis menghadapi persaingan yang lebih ketat untuk menarik investor di pasar obligasi berdenominasi euro.

Meski demikian, para ekonom menilai kondisi keuangan Prancis masih dapat diperbaiki. Fatas mengatakan pemerintah tetap bisa menyusun anggaran yang lebih berkelanjutan, tetapi langkah tersebut membutuhkan kompromi dan keputusan politik yang sulit.

Rekomendasi