MBG Prasmanan Diujicoba di 66 SPPG, BGN Target Ribuan Dapur Akhir Tahun

Skema prasmanan MBG diuji di 66 SPPG di 10 provinsi. BGN menargetkan perluasan hingga ribuan dapur pada akhir tahun. Menko Pangan membeberkan temuan awal.

Thurfah Mahira Ahnaf
Oleh Thurfah Mahira Ahnaf- Reporter
MBG Prasmanan Diujicoba di 66 SPPG, BGN Target Ribuan Dapur Akhir Tahun
MBG prasmanan di Jepara

Uji coba prasmanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan di 66 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada 10 provinsi dan diklaim menekan sisa makanan. Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan skema ini diperluas ke 1.000 hingga 5.000 dapur pada akhir tahun.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut pendekatan prasmanan dirancang untuk membenahi persoalan di lapangan, seperti risiko keracunan akibat proses pengantaran yang terlalu panjang hingga makanan tiba dalam kondisi tidak hangat.

"Untuk mengurangi hal-hal yang keracunan dan lain-lain, delivery yang panjang dan seterusnya, makanan yang dingin dan seterusnya," kata Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Senin (19/10/2026).

Ia menyatakan tidak ada makanan tersisa saat skema ini diterapkan. "Kelihatan sisa makanan tidak ada, bersih. Ada yang masih lapar, dia bisa tambah lagi," ujarnya.

Meski demikian, Zulkifli menegaskan hasil tersebut belum bersifat final. "Ini masih piloting, baru di 66 tempat," ujar dia.

Sementara itu, Kepala BGN Sudaryono menuturkan tambahan porsi tetap dimungkinkan selama persediaan masih ada. "Kalau masih ada sisa, masih bisa tambah," ujarnya.

Ia menargetkan perluasan skema dilakukan bertahap dengan dukungan dapur dan sekolah yang bersedia menerapkan pola prasmanan. "Saya berkeinginan, paling tidak sampai dengan akhir tahun minimal seribu, paling tidak ada sampai dengan lima ribu, Karena kan prasmanan ini dapurnya harus mau, artinya dia memang bisa, karena dia ada nambah sedikit kerepotan. Kemudian sekolahnya juga mesti mau, karena sekolahnya juga ada sedikit kerepotan," katanya.

Soal biaya operasional, Sudaryono menyebut masih dalam proses penghitungan. "Dari sisi operasional sedang kita hitung, kita kaji, kira-kira bisa kurang berapa atau jangan-jangan lebih berapa. Makanya namanya piloting kan kita lihat, kerepotannya di sebelah mana, terus butuh tenaga kerja berapa orang."

Edukasi MBG di Sekolah dan Benchmarking

Di sisi lain, Sudaryono menekankan pentingnya edukasi di sekolah terkait skema prasmanan, terutama bagi murid kelas awal yang membutuhkan pendampingan lebih intensif. "Kelas satu, dua masih kecil-kecil, beda dengan kelas lima, enam," kata Sudaryono.

Ia menyinggung ramainya perbincangan di media sosial soal pelibatan murid dalam proses makan bersama dan kebersihan peralatan. "Ya memang begitu, bagian dari edukasi kita. Kalau kita lihat di banyak negara begitu. Bahkan kalau kita lihat di Medsos juga, orang kagum sama MBG di China, di mana anaknya nyuci ompreng. Sementara di sini dihujat, kok nyuci ompreng?"

Berkaitan dengan acuan praktik, Sudaryono menyebut pendekatan prasmanan dilakukan dengan melihat pengalaman negara lain dan penyesuaian sesuai kebutuhan. "Sifatnya adalah benchmarking saja, kita lihatsuccess story di banyak negara seperti apa, kita copy, kemudian kita modifikasi sedikit, sehingga harusnya enggak susah karena memang sudah ada best practice-nya," ujar dia.

Rekomendasi