MSCI menjadi sorotan usai membuka konsultasi rencana penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut pemerintah tidak khawatir dan menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipicu sentimen negatif.
Airlangga mengatakan pengumuman terkait status Indonesia di MSCI masih menunggu waktu. Ia menegaskan keputusan belum akan keluar dalam waktu dekat.
"(Pengumuman status) masih bulan Juni tahun depan. Biasa dia ngancam-ngancam dikit," kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Menurut Airlangga, penurunan IHSG yang terjadi belakangan ini merupakan hal yang normal. Ia menilai perubahan batas auto reject bawah (ARB) dan auto reject atas (ARA) menjadi 7% berpotensi menjaga stabilitas pergerakan.
"Ya biasa kalau ada sentimen negatif biasa turun. Tetapi dengan ada regulasi baru auto rejection 7% relatif terjaga dan penutupan tadi 5.000 lebih sedikit," ucap dia.
Ketika ditanya mengenai kinerja IHSG yang disebut lebih rendah dalam beberapa tahun terakhir, Airlangga enggan menanggapi panjang. "Itu namanya ya naik turun. Tergantung pada isu sentimen," katanya.
Sebelumnya, laju IHSG sempat anjlok lebih dari 5% pada Senin, 19 Oktober 2026, menyentuh level terendah dalam enam tahun terakhir. Pada penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG tersungkur 5,05% ke 4.923,26, sementara indeks LQ45 melemah 5,53% menjadi 480,42. Menjelang akhir perdagangan pukul 15.50 WIB, tekanan berkurang dan IHSG merosot 3,5% ke 5.003.
Mengutip CNBC, Senin (19/10/2026), IHSG turun ke level terendah sejak awal Oktober 2020, memperpanjang aksi jual di pasar saham domestik. Pada Jumat, 16 Oktober 2026, MSCI mengusulkan perubahan klasifikasi status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market, yang membuka kemungkinan penghapusan Indonesia dari sejumlah indeks acuan saham global utama.
Advertisement
Keputusan Final MSCI Dijadwalkan Juni 2027
MSCI akan mengambil keputusan final pada Juni 2027. Keputusan mengenai perubahan klasifikasi ini akan sangat bergantung pada kemampuan otoritas Indonesia dalam menunjukkan perbaikan nyata terkait tata kelola dan transparansi pasar.
Dalam sebuah catatan pada Minggu, 18 Oktober 2026, Goldman Sachs memperingatkan penghapusan penuh dari indeks pasar berkembang MSCI dapat memicu arus keluar dana pasif sekitar US$ 5,6 miliar atau Rp 101,01 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.040).
Jumlah itu setara dengan rata-rata volume perdagangan harian selama 18 hari untuk saham-saham yang tercakup dalam indeks MSCI Indonesia Investable Market.
Selain itu, dana sebesar US$ 2,7 miliar atau Rp 48,70 triliun lainnya juga berisiko jika FTSE Russell mengambil langkah serupa, meski pihak-pihak menekankan skenario itu merupakan hal yang terpisah.
Goldman memperkirakan dana aktif yang menggunakan indeks MSCI dan FTSE sebagai acuan memegang saham Indonesia senilai lebih dari US$ 8 miliar atau Rp 144,30 triliun.
Namun, aksi jual oleh investor-investor ini bersifat diskresioner (berdasarkan keputusan sendiri) dan bukan dipicu secara otomatis oleh penurunan status tersebut.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9295811/original/080484600_1783948743-Menko_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-13_Juli_20262.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9368754/original/014488000_1791447169-IMG-20261008-WA0037.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376320/original/043656200_1792330287-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9295138/original/014802100_1783915653-mbg5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376288/original/047597200_1792327176-WhatsApp_Image_2026-10-18_at_19.26.47__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347211/original/045895600_1789284398-WhatsApp_Image_2026-09-13_at_11.16.28.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293440/original/090158600_1783706879-Bali_PSEL.jpeg)