Kerusuhan di Prancis Ganggu Jaringan Ritel Besar, Segini Perkiraan Kerugiannya

Kerusuhan di Prancis memukul ritel dari butik mewah hingga supermarket. Ribuan toko terdampak, biaya pemulihan ditaksir besar. Ini catatan pelaku usaha.

Nurmayanti
Oleh Nurmayanti- Reporter
Kerusuhan di Prancis Ganggu Jaringan Ritel Besar, Segini Perkiraan Kerugiannya
Balai kota bersejarah yang dibangun pada Abad ke-19 di Limoges, Prancis, dibakar saat kerusuhan melanda negara tersebut pada Sabtu (17/10/2026). (Dok. PASCAL LACHENAUD/AFP)

Kerusuhan di Prancis pada akhir pekan lalu memicu kerusakan dan penjarahan di ratusan gerai ritel di berbagai kota. Federasi perdagangan ritel setempat menyebut sekitar 1.500 toko terdampak, sementara total kerugian nasional masih dihitung.

Dampak merata dari butik barang mewah hingga toko kebutuhan harian. Sejumlah nama besar terdampak, termasuk Louis Vuitton, Celine, Sephora, dan Carrefour. Sejumlah peritel menghentikan sementara operasional; Sephora menutup hampir seluruh jaringannya di Prancis setelah mengalami kerusakan signifikan.

Pelaku usaha memperingatkan konsekuensinya melampaui biaya perbaikan gerai karena berpotensi mengancam lapangan kerja dan menggerus daya tarik Prancis sebagai destinasi belanja serta wisata.

Ketua eksekutif Galeries Lafayette, Nicolas Houzé, menyebut hampir semua toko grupnya terdampak, dengan kerusakan terparah di Bordeaux.

Catherine Spindler, Presiden Sephora untuk Eropa dan Timur Tengah, menuliskan pernyataan di LinkedIn. "Kemarin, beberapa toko kami di Prancis dijarah," tulis Catherine Spindler. Ia menegaskan keselamatan karyawan dan pelanggan lebih penting daripada pertimbangan bisnis.

Bagi kelompok barang mewah, Prancis memiliki bobot penjualan yang tidak kecil. Menurut estimasi yang dilaporkan Vogue, kontribusi pasar Prancis terhadap pendapatan LVMH mencapai 8% dan Hermès 9,2% pada semester pertama tahun ini.

Di segmen ritel kebutuhan sehari-hari, CEO Carrefour Alexandre Bompard mengatakan 50 toko grupnya menjadi sasaran, termasuk 19 toko serba ada dan supermarket. Menurut Euronews dan Economic Times, Senin (19/10/2026), ia memperkirakan biaya perbaikan akan jauh melampaui €10 juta dan memperingatkan puluhan karyawan di mitra waralaba akan mengalami pengurangan jam kerja. Bompard juga menilai kerugian di seluruh bisnis Prancis dapat mencapai ratusan juta euro, meski angka akhirnya belum pasti.

Dampak kerusuhan tidak seragam. Peritel besar harus mengamankan lokasi dan memulihkan operasional jaringan, sementara bagi pemilik toko kecil, etalase yang hancur saja bisa mengancam kelangsungan usaha.

Selain kerugian ekonomi yang terukur, ada kekhawatiran atas efek jangka pendek terhadap citra negara sebagai tujuan belanja dan wisata. Houzé menyebut reputasi Prancis dan kemampuannya menyambut pengunjung telah rusak.

Apa Pemicu Kerusuhan di Prancis?

Kekerasan pecah setelah aksi demonstrasi pada 17 Oktober menentang kenaikan biaya hidup, menurunnya layanan publik, dan kondisi sekolah.

Gerakan mahasiswa yang sebulan terakhir berlangsung bergabung dengan ketidakpuasan sosial yang lebih luas, mendorong ratusan ribu orang turun ke jalan di berbagai wilayah.

Mayoritas peserta berunjuk rasa secara damai. Namun, kelompok bertopeng menjarah toko dan menyerang gedung publik di sejumlah kota, termasuk Paris, Bordeaux, Lyon, dan Marseille. Peristiwa ini mengingatkan pada gerakan Rompi Kuning pada 2018 yang dipicu harga bahan bakar, tekanan biaya hidup, dan ketimpangan.

Presiden Emmanuel Macron mengecam kekerasan tersebut dan membedakan para demonstran damai dari pihak yang bertanggung jawab atas perusakan.

Rekomendasi