Institute for Essential Services Reform (IESR) menyoroti pentingnya kepemimpinan terpadu dan strategi multijalur dari pemerintah guna mempercepat program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW) di Indonesia. Penilaian ini disampaikan di Jakarta pada Minggu (09/8), menekankan bahwa pendekatan yang komprehensif sangat dibutuhkan untuk keberhasilan inisiatif energi bersih ini.
Menurut Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa, strategi multijalur menjadi krusial agar program ini dapat terlaksana secara efektif. Pendekatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan energi yang beragam di seluruh negeri dan menghindari ketergantungan pada satu skema proyek atau sumber pembiayaan saja.
Fabby Tumiwa menjelaskan bahwa pencapaian target PLTS 100 GW memerlukan kombinasi berbagai jenis proyek. Ini termasuk proyek skala besar, PLTS atap, program dedieselisasi, listrik desa, dukungan kegiatan ekonomi produktif, serta penggantian pembangkit fosil secara bertahap.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Strategi Multijalur dalam Pengembangan PLTS
IESR menegaskan bahwa pembangunan kapasitas PLTS tidak bisa hanya mengandalkan proyek skala besar yang tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Ketergantungan pada satu jenis proyek dapat menghambat percepatan dan efektivitas program PLTS nasional.
Strategi multijalur yang diusulkan oleh IESR mencakup beberapa komponen kunci. Ini melibatkan percepatan implementasi PLTS atap untuk sektor rumah tangga, bangunan komersial, dan industri, yang dapat memperluas jangkauan pemanfaatan energi surya secara signifikan.
Selain itu, program listrik desa juga menjadi fokus penting, dengan tujuan meningkatkan kualitas akses listrik melalui Koperasi Desa Merah Putih atau BUMDes. Inisiatif ini diharapkan mampu mendukung kegiatan produktif di pedesaan, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Advertisement
Perluasan program dedieselisasi melalui PLTS dan baterai juga menjadi bagian integral dari strategi ini. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar diesel yang lebih mahal dan tidak ramah lingkungan, menggantinya dengan sumber energi terbarukan.
Advertisement
Implementasi dan Tantangan Menuju PLTS 100 GW
Fabby Tumiwa juga menyoroti perlunya percepatan proyek PLTS skala besar yang sudah terdaftar dalam RUPTL. Selain itu, pemanfaatan PLTS sebagai penyuplai listrik untuk fasilitas pendukung Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan sejenisnya juga diusulkan untuk efisiensi energi.
Dalam upaya mencapai target ambisius ini, IESR menyarankan pemerintah untuk membatalkan rencana pembangunan PLTU dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) baru yang belum memasuki tahap konstruksi. Langkah ini dianggap krusial untuk mengalihkan investasi dan fokus ke energi terbarukan.
Lebih lanjut, penurunan faktor kapasitas pembangkit fosil yang sudah ada dan penggantiannya secara bertahap dengan PLTS serta baterai juga menjadi bagian dari rekomendasi. Pendekatan ini akan secara signifikan mengurangi emisi karbon dan mempercepat transisi energi.
Advertisement
Dengan menerapkan pendekatan multijalur ini, kapasitas kumulatif PLTS secara teknis diperkirakan dapat mencapai sekitar 80 GW pada tahun 2030. Namun, IESR menekankan bahwa upaya lebih lanjut, terutama implementasi PLTS terdistribusi dari berbagai aktor, sangat diperlukan untuk mencapai target 100 GW pada tahun yang sama.
Penting untuk dicatat bahwa implementasi program ini harus senantiasa memperhatikan beberapa aspek krusial. Ini meliputi kesiapan sistem dan sumber daya manusia, perkembangan rantai pasok industri, keberlanjutan pembiayaan, serta kualitas proyek secara keseluruhan.
Sumber: AntaraNews
Advertisement