Ratusan warga di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mengalami keluhan mual dan pusing usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah daerah menghentikan sementara distribusi dari satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut sambil menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan.
Data korban yang semula dilaporkan 87 orang, diperbarui menjadi 276 orang. Pemerintah menegaskan belum menunjuk telur, sayuran, lauk, atau menu tertentu sebagai sumber gangguan kesehatan, menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Wakil Bupati Batang Suyono menyampaikan keprihatinan dan meminta semua pihak menunggu hasil uji. "Yang penting kita prihatin bersama. Semoga kejadian ini kejadian yang terakhir," ujar Wabup Suyono saat berada di RSUD Batang, dikutip Kamis (24/9/2026).
Pendataan dan penanganan medis terus berjalan. Pemerintah sebelumnya mencatat 73 warga berasal dari Desa Pasusukan dan 14 warga dari Desa Bawang, sementara sebaran korban masih diverifikasi seiring tambahan laporan yang masuk.
Sejumlah warga mendapat perawatan di fasilitas kesehatan: enam orang dirujuk ke Rumah Sakit Baitus Syifa Limpung, 24 orang ke RSUD Limpung, dan dua orang ditangani di Puskesmas Subah. Dalam perkembangan terbaru, sekitar 19 warga dirawat di RSUD Kalisari Batang dengan keluhan mual dan pusing.
Pemkab Batang memantau kapasitas layanan kesehatan. Jika diperlukan, pasien akan diarahkan ke puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap. "Kalau di Batang semua penuh, tinggal nanti lari ke Puskesmas yang rawat inap," tukas Suyono.
Advertisement
Orang Tua Juga Alami Gejala Keracunan
Dugaan keracunan tidak hanya menimpa anak-anak penerima manfaat MBG. Sejumlah orang tua juga mengalami keluhan serupa setelah memakan sisa porsi yang dibawa pulang oleh anak mereka.
Para pelajar penerima manfaat diketahui mengonsumsi makanan sekitar pukul 11.00 WIB. Keluhan gangguan kesehatan mulai dirasakan pada sore hingga malam hari.
Menu yang dibagikan pada Selasa (22/9/2026) mencakup nasi, telur bolognaise, mix sayur, tahu mendoan, dan buah anggur. Telur sempat disebut dalam keterangan warga sebagai salah satu makanan yang dimakan, namun pemerintah belum menyatakan telur maupun menu tertentu sebagai penyebab.
Dinas Kesehatan Kabupaten Batang telah mengambil sampel makanan untuk pemeriksaan laboratorium. Hasil uji akan menjadi dasar penentuan sumber gangguan kesehatan dan langkah penanganan berikutnya. "Kalau ada salah dari memasak atau yang bersifat tidak sehat, akan menimbulkan keracunan. Ini rawan sekali," tukas Wabup Suyono.
Perhatian juga tertuju pada SPPG Yayasan Bela Barang Sejahtera di Kecamatan Bawang yang setiap hari melayani sekitar 2.700 penerima manfaat program MBG. SPPG ini menyalurkan makanan ke 11 lembaga pendidikan di wilayah tersebut: TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotaayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.
Masuknya lembaga-lembaga tersebut dalam daftar penerima manfaat tidak berarti seluruh siswa atau warga di masing-masing lembaga terdampak. Pemerintah masih memverifikasi sebaran korban dan identitas satuan pendidikan yang terpengaruh. Wabup Suyono juga menegaskan angka 2.700 adalah total penerima manfaat yang dilayani SPPG, bukan jumlah korban dugaan keracunan.