Pirolisis Lengkapi PSEL, Solusi Percepatan Penanganan Sampah Nasional

Pemerintah mendorong teknologi pirolisis untuk melengkapi PSEL dalam percepatan penanganan sampah nasional. Kapasitas PSEL yang terbatas membuat pirolisis menjadi solusi alternatif yang penting.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pirolisis Lengkapi PSEL, Solusi Percepatan Penanganan Sampah Nasional
Pemerintah mendorong teknologi pirolisis untuk melengkapi PSEL dalam percepatan penanganan sampah nasional. Kapasitas PSEL yang terbatas membuat pirolisis menjadi solusi alternatif yang penting. (AntaraNews)

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menegaskan komitmen pemerintah dalam mempercepat penanganan sampah nasional melalui intervensi teknologi. Pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi pirolisis sebagai pelengkap Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Langkah ini diambil mengingat kapasitas PSEL yang ada saat ini belum mampu menangani seluruh timbulan sampah di Indonesia.

Menurut Zulhas, masalah sampah tidak bisa lagi ditangani dengan cara biasa dan membutuhkan percepatan melalui inovasi. Oleh karena itu, selain terus mengembangkan PSEL, pemerintah juga aktif mendorong penggunaan teknologi pirolisis. Tujuannya adalah agar semakin banyak sampah yang dapat diolah dan diubah menjadi sumber energi.

Implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 telah mempercepat pembangunan PSEL di berbagai daerah, dengan 13 lokasi PSEL akan segera beroperasi, termasuk di Palembang pada Oktober 2026. Namun, kapasitas PSEL tersebut diperkirakan hanya mampu menangani sekitar 22 persen dari total timbulan sampah nasional. Kondisi ini menuntut adanya teknologi pengolahan pelengkap untuk mengatasi sisa sampah yang belum terkelola.

Urgensi Teknologi Pirolisis dalam Pengelolaan Sampah

Keterbatasan kapasitas PSEL menjadi alasan utama pemerintah mencari solusi tambahan untuk pengelolaan sampah. Meskipun pembangunan PSEL terus digenjot, persentase sampah yang dapat diolah masih relatif kecil. Hal ini menimbulkan kebutuhan mendesak akan teknologi alternatif yang efektif dan efisien.

Pemerintah menyadari bahwa penumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan. Selain itu, risiko kebakaran TPA juga meningkat, terutama saat musim kemarau. Oleh karena itu, percepatan pengolahan sampah menjadi prioritas untuk mengurangi beban TPA dan mencegah dampak negatif yang lebih luas.

Teknologi pirolisis hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut, menawarkan metode pengolahan sampah yang berbeda dari PSEL. Pendekatan ini diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan volume sampah yang diolah. Dengan demikian, target penanganan sampah nasional dapat tercapai lebih cepat dan komprehensif.

Pirolisis: Mengubah Sampah TPA Menjadi Energi Terbarukan

Pirolisis adalah proses pengolahan yang mampu mengubah sampah yang menumpuk di TPA menjadi bahan bakar terbarukan setara solar. Teknologi ini didorong pemerintah sebagai salah satu solusi utama untuk mengatasi persoalan sampah. Pemanfaatan pirolisis secara lebih luas diperkirakan berpotensi menangani sekitar 20 persen persoalan sampah nasional.

Pengembangan teknologi pirolisis tidak dilakukan sendiri oleh pemerintah pusat, melainkan melalui kolaborasi erat. TNI Angkatan Darat dan pemerintah daerah turut serta dalam pengembangan ini. Kolaborasi ini mencakup proyek percontohan di lima wilayah strategis, yaitu Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Semarang, Kota Bekasi, dan DKI Jakarta.

Kerja sama ini juga bertujuan untuk mempercepat Proyek Strategis Nasional PSEL Bogor Raya 1. Selain itu, kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi di seluruh Indonesia. Dengan demikian, manfaat ekonomi dan energi dari sampah dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Dukungan Pemerintah Daerah dan Manfaat Ekonomi

Keberhasilan pengembangan fasilitas pengolahan sampah, termasuk pirolisis dan PSEL, sangat bergantung pada dukungan pemerintah daerah. Menteri Koordinator Bidang Pangan menekankan pentingnya peran pemda dalam beberapa aspek krusial. Ini meliputi penyediaan lahan yang memadai, percepatan proses perizinan, serta kepastian pasokan sampah bagi fasilitas pengolahan.

Percepatan pengolahan sampah bukan hanya tentang mengurangi timbulan, tetapi juga menciptakan nilai tambah. Zulhas menyatakan bahwa pemerintah ingin persoalan sampah tidak hanya selesai, tetapi juga mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan energi bagi masyarakat. Dengan gotong royong dan kerja cepat, target ini diyakini dapat tercapai.

Pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi merupakan upaya strategis pemerintah untuk mengurangi beban TPA. Pada saat yang sama, inisiatif ini juga bertujuan untuk meningkatkan nilai guna sampah. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan dan ekonomi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi