Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) secara aktif mendukung pemanfaatan teknologi energi terbarukan dalam budidaya udang. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional serta mengurangi emisi gas rumah kaca. Dukungan ini diharapkan dapat memperkuat daya saing industri tambak udang nasional di pasar global.
Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDTT, Samsul Widodo, menyatakan bahwa sektor budidaya udang merupakan industri berorientasi ekspor yang vital. Oleh karena itu, modernisasi teknologi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan dan kompetitivitasnya. Pemerintah berkomitmen mendukung program energi terbarukan di berbagai sektor, termasuk akuakultur.
Inisiatif ini tidak hanya mengandalkan dana desa, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Program ini diimplementasikan melalui "Aquaculture for Climate Resilience" dengan pendekatan Climate Resilience Farmers Field School (CRFSS).
Advertisement
Advertisement
Dukungan Pemerintah untuk Modernisasi Akuakultur
Kemendes PDTT menegaskan komitmennya dalam mendorong adopsi energi terbarukan pada sektor budidaya udang. Hal ini dilakukan untuk mencapai efisiensi yang lebih baik dan mengurangi dampak lingkungan. Modernisasi teknologi dianggap krusial demi menjaga daya saing industri udang Indonesia di kancah internasional.
Samsul Widodo, Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDTT, menjelaskan bahwa budidaya udang adalah salah satu industri ekspor unggulan. Untuk itu, inovasi teknologi sangat dibutuhkan agar industri ini tetap kompetitif dan berkelanjutan. Pemerintah secara tegas mendukung program energi terbarukan di semua sektor, termasuk akuakultur.
"Pemerintah mendukung program energi terbarukan di semua sektor, termasuk akuakultur. Selain memanfaatkan dana desa, program ini juga dapat berkolaborasi dengan sektor swasta melalui inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan," ujar Widodo. Pernyataan ini menunjukkan fleksibilitas dalam pendanaan dan pelaksanaan program.
Advertisement
Advertisement
Program "Aquaculture for Climate Resilience" di NTB
Inisiatif penting ini diwujudkan melalui program "Aquaculture for Climate Resilience". Program tersebut menggunakan pendekatan Climate Resilience Farmers Field School (CRFSS). Pendekatan ini menggabungkan peningkatan kapasitas bagi para petambak udang dengan adopsi teknologi cerdas iklim.
Kemitraan strategis antara P4G Crustea dan PT Sustainability & Resilience (su-re.co) menjadi tulang punggung program ini. Targetnya adalah menjangkau minimal 250 petambak udang dan penyuluh perikanan. Mereka tersebar di empat kabupaten di Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Program ini memperkenalkan teknologi inovatif seperti Eco-Aerator bertenaga surya dan sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT). Penerapan teknologi ini diharapkan mampu menekan biaya operasional, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta meningkatkan produktivitas tambak udang secara signifikan.
Advertisement
Advertisement
Hasil Uji Coba dan Efisiensi Energi Surya
Naafi Lathifah, seorang peneliti dari PT Sustainability & Resilience (su-re.co), memaparkan hasil positif dari proyek percontohan. Sistem panel surya hibrida berhasil mengurangi konsumsi listrik dari PLN sebesar 42 hingga 50 persen. Uji coba ini dilakukan di Gianyar, Bali, menunjukkan potensi besar energi terbarukan.
Sistem yang terintegrasi ini menggabungkan panel surya dengan jaringan listrik PLN dan penyimpanan baterai. Dalam proyek percontohan tersebut, sistem ini mampu menyuplai listrik secara andal untuk aerator tambak. Pasokan listrik dapat bertahan hingga 10 jam setiap hari, memastikan operasional tambak tetap berjalan.
"Dalam proyek percontohan Gianyar, panel surya memasok listrik untuk aerator sekitar 10 jam per hari. Hasil awal menunjukkan bahwa mereka mengurangi konsumsi listrik PLN sekitar 42 hingga 50 persen," kata Naafi. Efisiensi ini sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional dan biaya produksi.
Advertisement
Advertisement
Ekspansi Program dan Pendekatan Pentahelix
Naafi Lathifah juga mengumumkan rencana ekspansi program ini ke depan. Program akan memperluas penerapan aerator kincir bertenaga surya ke sepuluh lokasi budidaya udang lainnya. Seluruh lokasi tersebut berada di wilayah Nusa Tenggara Barat, memperluas jangkauan manfaat teknologi.
Inisiatif ini mengadopsi pendekatan pentahelix yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat lokal turut serta dalam kolaborasi ini. Pendekatan ini bertujuan untuk mengembangkan rekomendasi kebijakan yang mendukung transisi energi bersih di daerah pedesaan.
Kolaborasi multi-pihak ini diharapkan dapat mempercepat adopsi energi terbarukan di sektor akuakultur. Dengan demikian, target untuk menciptakan industri tambak udang yang lebih efisien, berkelanjutan, dan ramah lingkungan dapat tercapai. Ini juga sejalan dengan upaya mitigasi perubahan iklim.
Advertisement
Sumber: AntaraNews