Harapan seorang ibu untuk kembali memeluk dua putranya berubah menjadi penantian seolah tak berujung. Dari rumah di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Wiwik Susiati kini hanya bisa menunggu kabar tentang anaknya belum ditemukan.
Dua putranya, Susanto (36) dan Reyner Fausta Yosilianto (22), menjadi korban tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa.
Reyner telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan sudah dimakamkan. Namun hingga Selasa (15/9), sang kakak, Susanto, masih menjadi bagian dari korban dalam pencarian tim SAR gabungan.
Advertisement
Bekerja Jadi Sopir dan Kernet
Bagi keluarga, tragedi itu bukan sekadar kabar tentang kapal tenggelam. Peristiwa tersebut seperti memutus perjalanan dua bersaudara sebelumnya berangkat bersama untuk mencari nafkah.
Susanto dan Reyner bekerja sebagai sopir dan kernet pada sebuah perusahaan ekspedisi. Keduanya berangkat membawa muatan makanan ringan dari Lamongan menuju Kalimantan.
Susanto lebih berpengalaman bertugas sebagai sopir. Sementara Reyner menjadi kernet dalam perjalanan ternyata menjadi perjalanan terakhirnya.
Advertisement
Kabar Duka untuk Keluarga
Kabar tentang musibah itu pertama kali diketahui keluarga pada Minggu (13/9) melalui media sosial. Di tengah kepanikan, Wiwik sempat menerima informasi membuatnya sedikit bernapas lega: kedua anaknya disebut selamat. Namun, kabar itu ternyata bukan akhir dari kecemasan.
Waktu terus berjalan, tetapi komunikasi dari kedua putranya tak kunjung kembali. Telepon tak lagi tersambung. Pesan pun tak berbalas.
"Saya mendapatkan data selamat. Nah, ternyata saya tunggu tidak ada kabar lagi dari anak-anak," ujar Wiwik, Selasa (15/9).
Harapan keluarga kemudian kembali diuji sekitar pukul 11.00 hingga 12.00 WIB. Petugas Jasa Raharja mendatangi kediaman mereka dan menyampaikan informasi mengenai seorang korban telah ditemukan, tetapi belum teridentifikasi.
Reyner ternyata tidak membawa kartu tanda penduduk (KTP) saat berlayar. Identitas korban kemudian dipastikan melalui pemeriksaan sidik jari.
Hasil pemeriksaan itu menjadi kabar paling pahit bagi Wiwik. Korban ditemukan tersebut dipastikan adalah Reyner, putra ketiganya.
"Reyner tidak bawa KTP. Setelah disidik jari ternyata Reyner anak saya teridentifikasi sebagai korban," tutur dia.
Kini, rumah keluarga di Desa Krisik telah kehilangan satu suara. Reyner sudah dipulangkan untuk selamanya dan dimakamkan. Namun, satu kursi lainnya masih menyisakan pertanyaan besar, di mana Susanto?
Advertisement
Komunikasi Terakhir dengan Keluarga
Bagi Susanto, mengantar muatan menggunakan kapal bukan pekerjaan baru. Dia sudah cukup sering melakukan perjalanan semacam itu. Berbeda dengan Reyner baru sekitar sebulan ikut bekerja bersama kakaknya.
Sebelumnya, Reyner bekerja di kebun. Namun, musim kemarau membuat pekerjaannya berkurang sehingga dia memilih mengikuti sang kakak untuk mencari penghasilan.
"Kalau Susanto kakaknya sering, tapi Reyner baru tiga kali ini ikut, baru satu bulan. Biasanya dia kerja di kebun tapi karena ini musim kemarau dia ikut kakaknya," kata Wiwik.
Tak ada yang menyangka perjalanan mencari nafkah itu justru membawa keduanya ke tengah tragedi di Laut Jawa. Sebelum kapal mengalami musibah, kedua bersaudara itu masih sempat berkomunikasi dengan keluarga. Namun sekitar pukul 04.00 WIB pada Minggu (13/9), komunikasi mendadak terputus.
Sejak saat itu, suara Susanto tak lagi terdengar dari seberang telepon. Hari-hari berikutnya menjadi penantian panjang bagi keluarga. Reyner telah ditemukan, tetapi Susanto masih belum kembali. Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian terhadap korban masih hilang.
Di Desa Krisik, harapan itu belum benar-benar padam. Keluarga dan warga terus memanjatkan doa agar pencarian segera menemukan titik terang.
Wiwik kini hanya berharap satu hal, putranya yang masih hilang dapat segera ditemukan dan dipulangkan ke rumah.
Setelah kehilangan Reyner, keluarga tak ingin penantian terhadap Susanto berakhir dengan ketidakpastian. Mereka ingin membawa pulang anaknya, apa pun keadaannya, agar penantian panjang di rumah itu akhirnya menemukan jawaban.