43 Data Keluarga Korban Virgo 8 Dikumpulkan, 13 Jalani Tes DNA

Data ante mortem itu selanjutnya akan disinkronkan dengan data dihimpun dari Posko Ante Mortem di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Erwin yohanes
Oleh Erwin yohanes - Reporter
43 Data Keluarga Korban Virgo 8 Dikumpulkan, 13 Jalani Tes DNA
Kepala Urusan DVI Biddokkes Polda Jawa Timur, dr. Budi Prasetyo. (Istimewa).

Tim Disaster Victim Identification (DVI) terus menghimpun data keluarga korban dalam proses identifikasi penumpang dan anak buah kapal (ABK) KMP Virgo Transport 8 tenggelam di perairan Laut Jawa. Pengumpulan data ante mortem dilakukan di Posko Ante Mortem Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Data ante mortem itu selanjutnya akan disinkronkan dengan data dihimpun dari Posko Ante Mortem di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Kepala Urusan DVI Biddokkes Polda Jawa Timur, dr. Budi Prasetyo mengatakan, posko di Tanjung Perak telah menerima 43 data ante mortem dari keluarga maupun rekan kerja korban hingga Selasa (15/9). Dari puluhan data tersebut, 13 keluarga telah memberikan sampel DNA untuk membantu proses pencocokan identitas korban.

“Di Posko Ante Mortem Perak ini, kita mengumpulkan laporan dari keluarga korban ataupun rekan kerja korban. Sementara ini data yang masuk adalah 43 data ante mortem. Dari 43 itu, 13 diambil untuk sampel DNA,” kata Budi.

 

Proses Identifikasi

Menurut Budi, pengambilan sampel DNA diprioritaskan dari keluarga inti atau kerabat terdekat korban. Sampel tersebut nantinya dibandingkan dengan hasil pemeriksaan terhadap korban ditemukan dalam proses operasi SAR. Selain dari Surabaya, Posko Ante Mortem di Banjarmasin telah menghimpun 38 data.

Seluruh informasi dari kedua wilayah tersebut akan digabungkan karena proses pencarian dan identifikasi melibatkan tim DVI lintas wilayah.

“Selain di Posko Ante Mortem Perak, juga ada Posko Ante Mortem di Banjarmasin. Untuk yang di Kalimantan Selatan, Banjarmasin sudah ada 38 data ante mortem. Data yang ada akan diintegrasikan karena ini merupakan operasi tim antara Kalimantan Selatan, Jawa Timur, dan Polda lainnya,” ujar dia.

Budi menjelaskan data ante mortem merupakan keterangan mengenai kondisi korban sebelum meninggal dunia. Informasi tersebut diperoleh dari keluarga, kerabat, maupun orang yang mengenal korban.

Data itu kemudian digunakan sebagai pembanding dengan data post mortem, yakni informasi yang diperoleh dari pemeriksaan terhadap korban yang ditemukan.

Dalam proses identifikasi DVI, terdapat data primer dan sekunder yang dapat digunakan untuk memastikan identitas korban. Data primer mencakup sidik jari, pemeriksaan gigi, dan DNA.

Untuk pemeriksaan sidik jari, tim DVI berkoordinasi dengan Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis). Sementara informasi mengenai kondisi gigi korban dapat diperoleh dari keluarga atau orang terdekat.

Adapun sampel DNA diambil melalui metode swab bukal, yakni dengan mengambil sampel dari bagian dalam pipi keluarga korban. Sampel tersebut kemudian menjadi bahan pembanding dengan DNA dari korban yang ditemukan.

Tim juga mengumpulkan data sekunder berupa ciri-ciri fisik serta barang pribadi yang digunakan korban sebelum kejadian.

Keluarga atau rekan kerja korban diminta menjelaskan sejumlah karakteristik khusus, seperti tanda lahir, bekas luka operasi, maupun ciri fisik lain yang mudah dikenali.

“Selain metode primer, ada metode sekunder, yaitu perawakan secara fisik dan properti yang dipakai korban. Karena itu, ketika keluarga atau rekan kerja korban datang, kita tanyakan ciri fisik yang menonjol,” jelas Budi.

Barang yang dikenakan atau dibawa korban sebelum kejadian juga menjadi bagian dari informasi yang dicatat tim. Di antaranya gelang, jam tangan, pakaian terakhir yang dikenakan, hingga barang pribadi lainnya.

“Misalnya apakah ada tanda lahir, bekas luka operasi, kemudian properti yang dipakai korban sebelum kejadian. Misalnya gelang, jam tangan, baju terakhir yang dipakai, dan lainnya,” ujar dia.

 

Pencarian Korban Masih Berlangsung

Budi menegaskan pengumpulan data ante mortem di Surabaya maupun Banjarmasin masih berjalan. Seluruh informasi dari keluarga akan terus diintegrasikan dengan hasil pemeriksaan post mortem untuk membantu proses identifikasi korban KMP Virgo Transport 8.

Sementara itu, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan operasi pencarian korban masih terus dilakukan melalui unsur laut dan udara.

Menurut dia, wilayah pencarian dievaluasi secara berkala dengan mempertimbangkan perkembangan operasi, kondisi lingkungan, serta informasi terbaru yang diperoleh tim di lapangan.

“Pencarian terus kami optimalkan melalui unsur laut dan udara. Setiap perkembangan kami evaluasi untuk menentukan search area secara efektif dan memperbesar peluang korban ditemukan,” tandasnya.

Rekomendasi