Ada Laporan MBG Dibawa Pulang, Kepala BGN Ingatkan Aturan Konsumsi

Kepala BGN menerima laporan siswa membawa pulang MBG. Ia mengingatkan makanan harus dihabiskan di sekolah dan menyoroti batas waktu pengiriman.

Devira Prastiwi
Oleh Devira Prastiwi - Reporter
Ada Laporan MBG Dibawa Pulang, Kepala BGN Ingatkan Aturan Konsumsi
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dalam keterangan pers di Kementerian Kesehata, Rabu (5/8/2026). (Liputan6.com/Dimas)

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengingatkan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus dihabiskan di sekolah untuk mencegah keracunan.

Ia menyebut menerima laporan adanya siswa yang membawa pulang paket MBG. Peringatan itu disampaikan usai Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Tingkat Menteri terkait perbaikan tata kelola MBG, Kamis (6/8/2026).

Menurut dia, makanan sebaiknya langsung disantap begitu diterima agar tidak rusak.

Minta MBG Disantap di Sekolah

Sudaryono menuturkan ada laporan siswa membawa pulang jatah sehingga baru dimakan berjam-jam setelah dibagikan.

"Beberapa laporan yang kami terima, ini masih kami validasi lagi, ada anak yang membawa pulang MBG-nya. Jadi dia harusnya disantap, misalnya jam 11.00 itu harus dimakan, dia dibawa pulang, dimakan jam 3 sore, jam 4 sore, jadi sudah rusak," ujar Sudaryono usai mengikuti Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Tingkat Menteri Terkait Perbaikan Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (6/8/2026).

Ia mengingatkan dampaknya dapat menimpa anggota keluarga lain bila makanan yang sudah tidak layak konsumsi ikut dimakan di rumah.

"Yang kemudian keracunan, bukan hanya anaknya, tapi juga bapak ibunya atau saudaranya yang ikut makan itu ada. Ini tentu saja menjadi catatan, intinya tidak boleh ada lagi," ucap Sudaryono.

Batas Waktu Pengiriman dan Edukasi Konsumsi

Sudaryono menyatakan pihaknya ingin memastikan rentang waktu sejak makanan matang hingga dikonsumsi mengikuti standar, tidak lebih dari empat jam. Ia juga menyinggung rencana penandaan waktu konsumsi seperti keterangan "best before" atau "sebaiknya dikonsumsi sebelum" pada paket MBG, disertai penguatan edukasi.

"Termasuk kami ingin memastikan, jadi semua pengiriman itu kapan matang sampai dengan dikonsumsi itu sesuai standar, tidak boleh lebih dari 4 jam, kalau enggak salah gitu, sehingga ada best before, atau kalau di makanan itu ada sebaiknya dikonsumsi sebelum (jam berapa), itu kami ingin dari sisi edukasinya kami perkuat," papar dia.

Menurutnya, informasi waktu konsumsi perlu disampaikan agar peserta program memahami batas aman menyantap makanan yang dibagikan.

Peran PIC Sekolah dan Keterlibatan Guru

Ia menegaskan keberadaan penanggung jawab (person in charge/PIC) di tiap sekolah agar pelaksanaan MBG tidak membebani guru yang sedang mengajar.

"Bagaimana guru yang mengajar di kelas itu juga mendapatkan MBG tidak direpotkan karena di sekolah sudah ada PIC sekolah," ucap Sudaryono.

Namun, ia mendorong guru tetap ikut makan bersama siswa sebagai bagian dari pendidikan perilaku bersih, tertib, dan berdoa sebelum makan.

"Tapi guru itu kemudian ikut makan bareng dengan siswanya untuk satu, fungsi edukasi, tata rekamannya, cuci tangannya, antrenya, kemudian nyusun omprengnya itu bagus, berdoa, kemudian bilang Alhamdulillah, dan lain-lain," dia menambahkan.
Rekomendasi