Harga Minyak Dunai Turun Hari Ini, Dipicu Usulan Arab Saudi

Harga minyak turun usai usulan koalisi maritim Saudi. Pasar menanti keputusan OPEC+ akhir pekan ini.

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon - Reporter
Harga Minyak Dunai Turun Hari Ini, Dipicu Usulan Arab Saudi
<p>Harga Minyak Dunia. Foto: Freepik/wirestock</p>

Harga minyak dunia turun pada perdagangan Kamis setelah Arab Saudi mengusulkan pembentukan koalisi angkatan laut untuk mengamankan jalur perdagangan utama di Laut Merah dan Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Jumat (31/7/2026), harga minyak Brent melemah hampir 2 persen ke USD 89,03 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS turun sekitar 1 persen ke USD 83,59 per barel.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyebut lebih dari 40 negara menghadiri pertemuan yang membahas pengamanan pelayaran. Otoritas menekankan pentingnya kerja bersama untuk menjaga stabilitas rute energi global.

Penurunan terjadi setelah volatilitas tajam sehari sebelumnya, ketika Brent sempat melonjak hampir 8% pada Rabu di tengah eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Di Yaman, kelompok Houthi mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi pekan lalu, sementara Iran dilaporkan berulang kali menyerang kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Saudi Usulkan Koalisi Maritim, Harga Minyak Tertekan

Riyadh mendorong inisiatif koalisi angkatan laut guna memperkuat keamanan pelayaran di kawasan strategis. Menurut Kementerian Pertahanan Arab Saudi, pertemuan dengan puluhan negara fokus pada koordinasi lintas armada dan pertukaran informasi demi mencegah gangguan di laut.

"penguatan kerja sama pertahanan maritim dan penyatuan upaya untuk melindungi keamanan jalur pelayaran."

Usulan ini muncul setelah meningkatnya risiko di Laut Merah dan Selat Hormuz, dua jalur yang memegang peran vital bagi perdagangan energi global. Setiap gangguan pelayaran di kedua lintasan tersebut berpotensi memicu kekhawatiran pasokan dan memperlebar volatilitas harga minyak.

Meski proposal koalisi berpotensi meredakan sebagian kekhawatiran pasar jika berhasil meningkatkan keamanan, pelaku pasar tetap mencermati dinamika keamanan di lapangan sembari menunggu kepastian pasokan dari sisi produsen.

Eskalasi AS–Iran: Serangan, Ancaman, dan Insiden di Damietta

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. AS melancarkan gelombang serangan besar terhadap Iran sebagai balasan atas serangan rudal terhadap pasukan Amerika. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kemudian mengancam akan meningkatkan serangan sebagai respons.

Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyebut operasi terbaru itu sebagai respons kuat terhadap upaya serangan Iran. Operasi yang berlangsung sekitar dua jam tersebut menyasar puluhan target IRGC, termasuk pusat komando militer, fasilitas rudal dan drone, pertahanan pesisir, serta kemampuan maritim.

"Kami akan menyerang mereka dengan keras. Mereka akan mendapat pukulan," ujar Presiden AS Donald Trump kepada reporter Fox News.

Di kawasan Mediterania, dua kapal dilaporkan terkena serangan drone di Pelabuhan Damietta, Mesir, yang merupakan salah satu pusat fasilitas gas alam cair (LNG). Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden ini.

Sebelumnya, AS sempat menghentikan serangan terhadap target Iran pada akhir pekan lalu setelah berlangsung dua pekan untuk memberi ruang bagi pembicaraan damai. Namun, operasi kembali dilanjutkan setelah pasukan Amerika kembali menjadi sasaran.

Menjelang OPEC+: Tambahan 188 Ribu Barel dan Sinyal Pasar

Di tengah ketegangan geopolitik, pelaku pasar menanti pertemuan OPEC+ pada Minggu. Kelompok produsen minyak tersebut diperkirakan akan mengumumkan tambahan pasokan 188.000 barel per hari untuk September.

Pasar kini menimbang dua faktor penentu harga: risiko gangguan pasokan akibat konflik dan potensi kenaikan produksi dari OPEC+. Selat Hormuz tetap menjadi perhatian karena menjadi salah satu jalur paling penting untuk ekspor minyak dan LNG global.

Strategis ING menilai kebijakan OPEC+ akan menjadi salah satu sumber ketidakpastian pasar dalam beberapa tahun ke depan.

"Ketidakpastian besar hingga 2027 akan berkaitan dengan kebijakan kelompok tersebut, dengan adanya potensi penolakan terhadap kuota produksi," tulis strategis ING.
Rekomendasi