PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyoroti potensi peningkatan biaya penerbitan surat utang setelah lembaga pemeringkat Moody’s merevisi outlook sovereign credit rating Indonesia. Perubahan outlook dari stabil menjadi negatif ini diumumkan pada Kamis (5/2) dan berdampak pada persepsi risiko negara. Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyampaikan pandangannya di Jakarta pada Senin (9/2) usai paparan kinerja perseroan.
Nixon menjelaskan bahwa jika peringkat negara turun, peringkat korporasi juga akan terpengaruh, membuat negosiasi penerbitan surat utang menjadi lebih mahal. Ini berarti bank-bank Indonesia, termasuk BTN, mungkin menghadapi tantangan dalam mencari pendanaan di pasar global. Revisi outlook ini mengindikasikan adanya kekhawatiran Moody's terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Keputusan Moody's untuk mempertahankan peringkat Indonesia di level Baa2 namun dengan outlook negatif, berpotensi memengaruhi persepsi investor internasional. Meskipun demikian, BTN belum berencana masuk ke pasar pendanaan global dalam waktu dekat, mengandalkan kekuatan investor domestik. Langkah ini diambil untuk menjaga efisiensi biaya pendanaan di tengah dinamika peringkat kredit.
Advertisement
Advertisement
Strategi Pendanaan BTN di Tengah Tantangan Outlook Negatif
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menegaskan bahwa perubahan outlook sovereign credit rating Indonesia menjadi negatif berpotensi meningkatkan biaya penerbitan surat utang. Ia menjelaskan bahwa jika peringkat negara, yang dulunya Baa2, berubah menjadi Ba2, maka corporate rating juga akan mengikuti. Hal ini secara langsung akan membuat proses tawar-menawar untuk penerbitan surat utang menjadi lebih mahal di pasar global.
Meski demikian, BTN saat ini belum memiliki rencana untuk masuk ke pasar pendanaan global dalam waktu dekat. Nixon menilai bahwa ketersediaan investor domestik masih memadai untuk memenuhi kebutuhan pendanaan perseroan. Pendekatan ini juga dinilai lebih efisien dari segi struktur biaya, mengingat kondisi pasar global yang dinamis.
Nixon juga mencatat bahwa penerbitan instrumen utang dalam mata uang dolar AS saat ini kurang ekonomis bagi BTN. Ini disebabkan oleh portofolio pembiayaan perseroan, khususnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR), yang seluruhnya berbasis rupiah. Pendanaan dalam valuta asing akan menimbulkan biaya tambahan yang signifikan, terutama dari selisih nilai tukar dan biaya lindung nilai atau swap.
Advertisement
Advertisement
Komunikasi dengan Lembaga Pemeringkat dan Rasio Pencadangan BTN
Terkait hubungan dengan lembaga pemeringkat internasional, Nixon menyatakan bahwa BTN akan tetap melakukan komunikasi secara aktif dan rutin. Pertemuan dengan lembaga pemeringkat merupakan praktik standar, di mana bank memberikan penjelasan mendetail mengenai strategi, profil risiko, dan proyeksi bisnis. Hal ini penting untuk memastikan pemahaman yang akurat terhadap kondisi dan prospek bank.
Mengenai pencadangan, Nixon mengakui bahwa rasio pencadangan BTN relatif lebih rendah dibandingkan bank-bank anggota Himbara lainnya. Namun, ia menekankan bahwa rasio tersebut tetap berada di atas ketentuan minimum regulator. Rasio pencadangan (CKPN) BTN saat ini berada di kisaran 125 persen, yang dinilai memadai mengingat kuatnya kualitas agunan pada portofolio KPR.
Nixon menambahkan bahwa kredit perumahan didukung oleh agunan yang kuat, sehingga perlindungan risiko tidak hanya tercermin dari tingkat pencadangan. Ia mempertanyakan kebutuhan pencadangan berlebihan jika agunan sudah kuat, yang menjadi pertimbangan penting bagi bank. Ke depan, rasio pencadangan BTN ditargetkan akan ditingkatkan hingga 150 persen pada tahun 2030.
Advertisement
Advertisement
Dampak Revisi Outlook Moody's pada Perbankan Nasional
Lembaga pemeringkat Moody’s pada Kamis (5/2) mengumumkan untuk mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level Baa2, namun melakukan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif. Sejalan dengan langkah ini, Moody’s juga merevisi outlook lima bank di Indonesia menjadi negatif, termasuk BTN. Bank-bank lain yang turut terdampak adalah Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Central Asia (BCA).
Meskipun outlook direvisi menjadi negatif, Moody’s tetap mempertahankan seluruh peringkat utama kelima bank tersebut. Ini mencakup peringkat penerbit (issuer ratings), peringkat simpanan (deposit ratings), peringkat utang senior tanpa jaminan (senior unsecured ratings), serta sejumlah indikator risiko dan profil kredit lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa fundamental bank-bank tersebut masih dianggap kuat, meskipun ada potensi risiko jangka menengah.
Khusus untuk BTN, Moody’s mempertahankan deposit ratings pada level Baa2 dan Baseline Credit Assessment (BCA) pada level ba2. Moody's mencatat bahwa tingkat pencadangan bank masih relatif rendah dibandingkan dengan risiko asetnya, terutama akibat tingginya porsi kredit restrukturisasi. Namun, peringkat BTN ini juga ditopang oleh kuatnya dukungan pemerintah, sejalan dengan peran strategis bank dalam pembiayaan perumahan nasional.
Advertisement
Sumber: AntaraNews