Moody’s Ubah Outlook Indonesia, Pengamat Nilai Penyesuaian Ekspektasi Makro

Para analis berpendapat keputusan Moody's untuk menurunkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif akan berdampak sementara.

Tira Santia
Oleh Tira Santia - Reporter
Moody’s Ubah Outlook Indonesia, Pengamat Nilai Penyesuaian Ekspektasi Makro
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 98,791 miliar senilai Rp67,823 triliun. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG (© 2026 Liputan6.com)

Penurunan prospek atau outlook peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Moody's Ratings dari stabil menjadi negatif diperkirakan akan memberikan dampak psikologis terhadap pergerakan pasar saham domestik. Pengamat pasar modal, Reydi Octa, berpendapat bahwa perubahan outlook ini lebih merupakan penyesuaian terhadap ekspektasi makro daripada indikasi melemahnya fundamental ekonomi secara mendasar.

"Penurunan outlook lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi makro, bukan alarm penurunan fundamental," kata Reydi kepada Liputan6.com, Minggu (8/2/2026). Menurutnya, selagi peringkat kredit Indonesia tetap berada di level investment grade, risiko yang dirasakan oleh investor cenderung bersifat jangka pendek.

Reaksi pasar yang terjadi lebih dipengaruhi oleh sentimen dan persepsi ketimbang adanya perubahan signifikan pada kondisi ekonomi.

"Selama rating tetap investment grade, risiko yang dibaca investor cenderung jangka pendek dan psikologis," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa investor global biasanya cepat merespons setiap perubahan pandangan dari lembaga pemeringkat. Namun, dalam banyak situasi, dampak awal yang terjadi sering kali bersifat sementara, sebelum pasar kembali menilai kondisi fundamental secara lebih rasional.

Dampak Psikologis ke Pasar Saham

Reydi menjelaskan bahwa penurunan outlook lebih mencerminkan penyesuaian terhadap ekspektasi ekonomi makro ke depan, bukan sebagai sinyal peringatan atas penurunan kinerja fundamental Indonesia. Pemahaman ini penting bagi investor agar tidak langsung mengaitkan perubahan tersebut dengan risiko struktural yang lebih besar.

Meskipun demikian, ada sektor-sektor tertentu yang dianggap lebih sensitif terhadap sentimen ini. Misalnya, saham perbankan cenderung paling terpengaruh karena perubahan outlook dapat memengaruhi persepsi risiko yang berkaitan dengan biaya pendanaan dan akses likuiditas.

"Yang paling sensitif biasanya perbankan karena dengan outlook negatif dapat mempengaruhi persepsi risiko yang mempengaruhi pendanaan," ujarnya.

Dapat Dimanfaatkan Investor

OJK Denda Influencer Ini Rp 5,35 Miliar Setelah Terbukti Manipulasi Harga Saham
Anggota Dewan Komisioner OJK sekaligus Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Hasan Fawzi. (Foto: Liputan6.com/Tira Santia) © 2026 Liputan6.com

Emiten yang memiliki utang dalam mata uang asing berisiko menghadapi tekanan. Perubahan dalam persepsi risiko global dapat menyebabkan pelemahan nilai tukar, yang pada gilirannya meningkatkan beban pembayaran utang. Hal ini akan menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor.

"Saham dengan eksposur utang dalam mata uang asing juga rentan tertekan, sementara emiten berfundamental kuat relatif lebih tahan," ungkapnya.

Di sisi lain, Reydi mengungkapkan bahwa selama peringkat Indonesia tetap dalam kategori investment grade, ada kemungkinan reaksi berlebihan atau overreact di pasar yang cukup besar dalam jangka pendek. Situasi ini justru dapat dimanfaatkan oleh investor yang memiliki orientasi jangka panjang.

"Ya, dengan rating tetap investment grade. Ada peluang market overreact dalam jangka pendek. Ini justru berpotensi terjadi akumulasi pada saham big cap dan defensif yang valuasinya terdiskon, selama tidak ada sentimen negatif lanjutan," tutupnya.

Tanggapan dari BI

Harga BBM Nonsubsidi Naik, Bank Indonesia Ungkap Efek ke Inflasi
Mesin pengisian ulang bahan bakar minyak di salah satu SPBU, Jakarta, Selasa (15/3). Pertamina menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) umum Pertamax, Pertamax Plus, Pertamina Dex, dan Perta © 2026 Liputan6.com

Pada tanggal 5 Februari 2026, lembaga pemeringkat Moody's memutuskan untuk mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia di level Baa2 dan mengubah outlook menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Dalam laporan yang dirilis, Moody's menyebutkan bahwa penegasan rating Indonesia pada level Baa2 mencerminkan ketahanan ekonomi yang tetap kuat.

Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang stabil serta didukung oleh kekuatan struktural, termasuk sumber daya alam dan demografi yang menguntungkan, yang memberikan prospek pertumbuhan yang baik dalam jangka menengah. Selain itu, afirmasi rating ini juga didukung oleh kredibilitas dalam kebijakan moneter dan kehati-hatian fiskal yang terjaga, yang berkontribusi pada stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Namun, revisi outlook menjadi negatif dipengaruhi oleh pandangan Moody's mengenai risiko penurunan kepastian kebijakan. Jika hal ini berlanjut, dapat berdampak pada kinerja perekonomian Indonesia. Menanggapi keputusan tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa penyesuaian outlook tersebut tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia.

"Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik tetap solid. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39%, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,1%," ujar Perry seperti yang dikutip dari laman BI pada Kamis (5/2/2026).

Inflasi Tetap Terkendali

Moody's Revisi Outlook Indonesia, Pengamat: Penyesuaian Ekspektasi Makro
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 98,791 miliar senilai Rp67,823 triliun. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG © 2026 Liputan6.com

Inflasi tetap terkendali pada angka 2,92%, yang berada dalam batas target yang ditetapkan. Selain itu, nilai tukar Rupiah terus diperkuat melalui komitmen yang kuat dari Bank Indonesia. Perry menyatakan, "Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah."

Dalam pernyataannya, Perry juga menambahkan bahwa digitalisasi dalam sistem pembayaran tetap terjaga, didukung oleh infrastruktur yang stabil serta struktur industri yang sehat. Hal ini berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi

Moody's Revisi Outlook Indonesia, Pengamat: Penyesuaian Ekspektasi Makro
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 98,791 miliar senilai Rp67,823 triliun. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG © 2026 Liputan6.com

Moody's memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap berada di sekitar 5% dalam jangka pendek hingga menengah, dengan ketahanan ekonomi yang tetap terjaga. Mereka menilai bahwa defisit fiskal diperkirakan akan tetap di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sementara kebijakan moneter diharapkan akan terus mendukung stabilitas inflasi.

Selain itu, Moody's memperkirakan rasio utang Pemerintah terhadap PDB akan tetap rendah dibandingkan dengan negara-negara sejenis. Meskipun demikian, mereka mencatat bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan basis penerimaan, yang penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sambil menjaga stabilitas makro dan keuangan.

Dalam konteks ini, Moody's mengapresiasi upaya Pemerintah dalam meningkatkan penerimaan, termasuk melalui efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan. Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah akan tetap solid, dengan tren yang meningkat berkat inflasi yang terjaga.

"Pertumbuhan ekonomi tahun 2026 diprakirakan meningkat di kisaran 4,9-5,7% ditopang oleh kenaikan permintaan domestik sejalan dengan berbagai kebijakan Pemerintah dan dampak positif dari bauran kebijakan Bank Indonesia," ungkap Perry.

Kinerja positif ini diperkirakan akan terus berlanjut pada tahun 2027, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,1-5,9%, serta inflasi yang tetap terkendali.

Neraca Pembayaran

Moody's Revisi Outlook Indonesia, Pengamat: Penyesuaian Ekspektasi Makro
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 98,791 miliar senilai Rp67,823 triliun. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG © 2026 Liputan6.com

Ketahanan perekonomian Indonesia di tengah tantangan global tetap menunjukkan kekuatan yang signifikan. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) berada dalam kondisi yang sehat, berkat kinerja neraca perdagangan yang sangat baik.

Pada bulan Desember 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar USD 2,51 miliar, yang didorong oleh ekspor nonmigas yang berasal dari sumber daya alam dan sektor manufaktur. Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 meningkat menjadi USD 156,5 miliar, yang cukup untuk membiayai 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Angka ini jauh di atas standar kecukupan internasional yang merekomendasikan cadangan untuk 3 bulan impor. Diperkirakan, NPI pada tahun 2026 akan tetap berada dalam kondisi baik dengan defisit transaksi berjalan yang rendah, berkisar antara 0,9% hingga 0,1% dari PDB.

Nilai tukar Rupiah diprediksi akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik dan tingkat inflasi yang rendah. Selain itu, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tetap positif, dan Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai Rupiah. Stabilitas sistem keuangan juga terjaga dengan baik, didukung oleh likuiditas yang cukup, permodalan perbankan yang solid, serta risiko kredit yang minimal.

"Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjut di tengah ketidakpastian global yang meningkat, bersinergi erat dengan KSSK dan Program Asta Cita Pemerintah, serta terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk memperkuat komunikasi kebijakan dalam rangka memelihara kepercayaan pasar," ujar Perry.

Rekomendasi