PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatat pertumbuhan kredit sebesar 24,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp968,5 triliun. Capaian ini kemudian mempengaruhi pertumbuhan laba perseroan menjadi Rp10,8 triliun di semester I 2026.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan mengatakan perseroan terus memperkuat fundamental bisnis melalui strategi pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan.
"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," ujar Putrama dalam pernyataan di Jakarta, Rabu (5/8).
Ia menjelaskan arah pengembangan bisnis tersebut sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.
Dengan pertumbuhan kredit 24,4 persen, BNI mencatat rasio kredit bermasalah (non-performingloan/NPL) terjaga pada level 1,9 persen.
Lebih lanjut, Direktur Keuangan dan Strategi BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan pertumbuhan kredit tersebut ditopang portofolio yang semakin terdiversifikasi pada berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis, mulai dari korporasi, menengah, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga konsumer.
"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cashmanagement, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," kata Paolo.
Advertisement
Ekspansi Kredit Selektif
Menurut dia, ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.
Ia mengatakan strategi intermediasi tersebut berjalan seiring dengan penguatan struktur pendanaan. Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, dana murah atau current account savings account (CASA) tercatat tumbuh 11,2 persen secara tahunan sehingga rasio CASA tetap terjaga pada level 65,4 persen.
Penguatan struktur pendanaan tersebut turut mendorong efisiensi biaya dana, yang tercermin dari penurunan baiay dana untuk dana pihak ketiga menjadi 2,56 persen dibandingkan 2,78 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Hingga semester I 2026, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BNI tumbuh 14,2 persen secara tahunan menjadi Rp22,3 triliun, sementara pendapatan berbasis komisi (fee-based income/FBI) meningkat 14,2 persen menjadi Rp9 triliun
Pertumbuhan kedua sumber pendapatan tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan (pre-provisionoperating profit/PPOP) mencapai Rp18,5 triliun, tertinggi dalam sejarah BNI untuk periode semester pertama. Adapun laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp10,8 triliun.
Advertisement
Sisi Digital
Dari sisi digital, jumlah pengguna aplikasi perbankan digital wondr by BNI mencapai 15,1 juta hingga akhir Juni 2026 dengan volume transaksi tumbuh 110 persen secara tahunan.
Sementara itu, pada segmen wholesale, jumlah pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu dengan volume transaksi meningkat 17 persen secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun.
Perusahaan menerapkan program Branch, Region and Area Value Empowerment (BRAVE) di seluruh wilayah operasional untuk memperkuat fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan, meningkatkan produktivitas jaringan, serta mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.
Dari sisi kualitas aset, rasio loan at risk (LAR) membaik dari 11 persen menjadi 8,1 persen, sedangkan rasio NPL tetap berada pada level 1,9 persen.
Direktur Manajemen Risiko BNI, David Pirzada mengatakan kualitas aset tersebut merupakan hasil penerapan manajemen risiko secara disiplin dan konsisten mulai dari penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan setelah penyaluran kredit.
"Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat," ucap David.