Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) berhasil mencatat peningkatan signifikan pada populasi ternak itik atau bebek Alabio. Melalui program prioritas yang dikenal dengan nama Sistem Integrasi Itik di Lahan Rawa dan Lahan Kering (Siti Hawa Lari), populasi bebek Alabio kini mencapai 3,3 juta ekor. Program ini menjadi salah satu pendorong utama dalam sektor peternakan di wilayah tersebut.
Kabid Peternakan Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalsel, Edi Santoso, menyatakan optimisme tinggi terhadap keberlanjutan program ini. Menurutnya, peternakan bebek di provinsi ini menunjukkan tren positif yang berkelanjutan hingga tahun 2025.
Data menunjukkan bahwa populasi bebek Alabio, yang merupakan plasma nutfah unggulan khas Kabupaten Hulu Sungai Utara, meningkat dari 3,2 juta ekor pada 2024 menjadi 3,3 juta ekor pada 2025. Peningkatan ini menegaskan keberhasilan program Siti Hawa Lari dalam mendukung ketahanan pangan dan ekonomi lokal.
Advertisement
Advertisement
Strategi Inovatif Program Siti Hawa Lari
Fokus pembangunan sektor peternakan plasma nutfah itik Alabio melalui program Siti Hawa Lari telah membentuk 700 klaster peternak lokal. Klaster-klaster ini tersebar di seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan, menunjukkan jangkauan program yang luas.
Pemerintah provinsi memberikan berbagai bentuk bantuan kepada para peternak. Bantuan tersebut meliputi penyediaan bibit unggul, pakan berkualitas, hingga fasilitas perkandangan yang memadai. Dukungan ini esensial untuk memastikan pertumbuhan dan produktivitas bebek Alabio.
Program Siti Hawa Lari dinilai inovatif dalam pengembangan usaha dan agrobisnis budidaya itik. Inisiatif ini juga mendukung ketahanan pangan serta berperan sebagai penyangga pangan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Advertisement
Advertisement
Dukungan Swasta dan Potensi Ekonomi
Pada tahun 2026, Pemerintah Provinsi Kalsel berencana menjajaki kerja sama dengan pihak swasta dan perkebunan sawit. Langkah ini bertujuan untuk lebih meningkatkan sektor ternak bebek di provinsi ini melalui investasi di luar APBD maupun APBN.
Adanya keterlibatan investor dan perusahaan swasta diharapkan dapat mempercepat kemajuan sektor peternakan bebek. Dukungan ini akan melengkapi sumber pendanaan yang selama ini berasal dari dana APBD dan APBN.
Dengan gerakan memajukan sektor peternakan bebek ini, kebutuhan daging bebek di Kalimantan Selatan diharapkan dapat terpenuhi. Bahkan, ada potensi untuk mengirimkan hasil produksi ke daerah lain, memperluas jangkauan pasar.
Advertisement
Advertisement
Bebek Alabio sebagai Pilar Ekonomi Kerakyatan
Bebek Alabio dikenal sebagai tipe dwiguna yang sangat produktif, mampu menghasilkan hingga 250 butir telur per tahun. Selain itu, bebek ini juga menghasilkan daging berkualitas tinggi, menjadikannya komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Unggas ini memiliki ciri fisik khas berupa warna paruh dan kaki kuning jingga, serta mampu beradaptasi dengan baik di ekosistem lahan basah atau rawa. Karakteristik ini sangat cocok dengan kondisi geografis Kalimantan Selatan.
Peningkatan populasi bebek Alabio diharapkan dapat menjadi salah satu pilar utama ekonomi kerakyatan di provinsi ini. Hal ini akan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan peternak dan masyarakat secara luas.
Advertisement
Sumber: AntaraNews