Pemerataan Pembangunan Daerah Dorong Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Indonesia

Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center Ade Holis menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan daerah untuk meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat, di tengah temuan Indeks Sosial 2024.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pemerataan Pembangunan Daerah Dorong Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Indonesia
NEXT Indonesia Center menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan daerah untuk meningkatkan kualitas hidup. Temukan kota-kota dengan Indeks Sosial terbaik dan tantangan ketimpangan yang masih membayangi. (AntaraNews)

Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center, Ade Holis, menegaskan bahwa pemerataan pembangunan daerah menjadi indikator krusial dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pernyataan ini disampaikan Ade dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (1/2/2026). Ia menekankan bahwa pembangunan yang inklusif sangat esensial untuk memastikan warga menjalani kehidupan bermartabat tanpa terjebak kerentanan ekonomi akut, sehingga ketahanan sosial nasional terbentuk secara lebih merata.

Menurut Ade, keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya dilihat dari angka-angka pertumbuhan ekonomi saja. Keberhasilan tersebut juga harus mencerminkan konsistensi pembuat kebijakan dalam menghadirkan kehidupan yang sehat, berpendidikan, dan aman bagi seluruh lapisan masyarakat. Kualitas hidup yang tinggi merupakan hasil dari kebijakan yang konsisten, bukan sekadar kebetulan.

Untuk mengukur kualitas hidup ini, NEXT Indonesia Center telah menguji data dari 514 kabupaten/kota di Indonesia. Pengujian tersebut dilakukan melalui delapan indikator yang membentuk Indeks Sosial. Hasil analisis ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi kualitas hidup di berbagai daerah.

NEXT Indonesia Center mengembangkan Indeks Sosial sebagai alat ukur komprehensif untuk menilai kualitas hidup masyarakat di 514 kabupaten/kota. Indeks ini mengintegrasikan berbagai aspek penting kehidupan. Delapan indikator utama menjadi landasan perhitungan Indeks Sosial tersebut.

Indikator-indikator tersebut mencakup persentase penduduk miskin, tingkat pengangguran terbuka (TPT), dan dependency ratio. Selain itu, rasio belanja makanan terhadap total pengeluaran juga menjadi salah satu komponen penting. Variabel ini memberikan gambaran tentang ketahanan ekonomi individu dan keluarga.

Indeks Sosial juga memperhitungkan variabel terkait kesehatan dan pendidikan. Variabel tersebut meliputi umur harapan hidup (UHH), harapan lama sekolah (HLS), dan rata-rata lama sekolah (RLS). Pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan turut diintegrasikan dalam perhitungan indeks ini.

Dari hasil analisis, rata-rata Indeks Sosial Indonesia secara nasional pada tahun 2024 berada di level 64,66. Angka ini berfungsi sebagai batas standar nasional. Daerah dengan skor di atas angka tersebut dikategorikan memiliki kualitas hidup di atas rata-rata nasional.

Analisis NEXT Indonesia Center menemukan sejumlah kota besar menonjol sebagai daerah dengan kualitas hidup terbaik di Indonesia. Kota-kota ini berhasil mencapai Indeks Sosial tertinggi di wilayahnya masing-masing. Mereka adalah daerah-daerah terbaik dengan Indeks Sosial tertinggi di masing-masing wilayahnya.

Kota Denpasar menempati posisi puncak nasional dengan skor Indeks Sosial tertinggi mencapai 94,80 pada tahun 2024. Selanjutnya ada Kota Banda Aceh yang memimpin klaster Sumatera dengan Indeks Sosial 87,10. Keunggulan Banda Aceh terutama ditopang oleh indikator pendidikan dan kesehatan yang sangat kuat.

Ade Holis menyatakan, “Harapan lama sekolah masyarakat Banda Aceh mencapai 17,94 tahun, rata-rata lama sekolah 13,10 tahun, serta umur harapan hidup 75,25 tahun, yang seluruhnya berada di atas rata-rata Indonesia. Capaian ini mencerminkan keberhasilan akumulasi modal manusia dalam jangka panjang.” Ini menunjukkan investasi jangka panjang pada sumber daya manusia.

Selain itu, Kota Kendari menjadi yang terbaik di wilayah Sulawesi dengan skor 85,27, sementara Kota Kupang mencatatkan Indeks Sosial sebesar 85,53. Di Kalimantan, Kota Samarinda memiliki nilai Indeks Sosial 84,43. Kota Jayapura tetap menjadi pusat kualitas hidup di Papua dengan skor 80,85, menunjukkan pembangunan yang merata di timur Indonesia.

Meskipun ada keberhasilan di beberapa daerah, tantangan besar masih membayangi Indonesia akibat jurang ketimpangan antardaerah. Tercatat 247 kabupaten/kota memiliki Indeks Sosial di atas rata-rata nasional. Ini menunjukkan adanya polarisasi dalam pembangunan.

Namun, Ade Holis juga mengungkapkan bahwa masih ada 267 kabupaten/kota dengan Indeks Sosial di bawah rata-rata nasional. “Kemajuan kualitas hidup masih terkonsentrasi di pusat-pusat layanan regional tertentu saja,” kata Ade. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerataan pembangunan belum sepenuhnya tercapai.

Kondisi ini menyoroti perlunya kebijakan yang lebih terarah dan konsisten untuk mendorong pembangunan di daerah-daerah tertinggal. Upaya pemerataan harus terus digalakkan agar semua warga negara dapat merasakan peningkatan kualitas hidup yang bermartabat. Pembangunan inklusif adalah kunci untuk menciptakan ketahanan sosial nasional yang lebih merata.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi