Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Gorontalo secara resmi memulai langkah strategis untuk mewujudkan wilayah yang hijau, tangguh, dan rendah emisi. Komitmen ini ditandai dengan dimulainya Result Base Payment (RBP) Reducing Emissions From Deforestation and Forest Degradation (REDD) Green Climate Fund (GCF) Output 2 Provinsi Gorontalo pada Senin, 27 Oktober.
Kepala DLHK Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bukti nyata keseriusan DLHK bersama berbagai instansi terkait. Inisiatif ini bertujuan untuk mencapai target ambisius dalam penurunan emisi gas rumah kaca dan menjaga kelestarian lingkungan di Gorontalo.
Program ini melibatkan kolaborasi lintas sektor yang kuat, termasuk Unit Pelayanan Teknis Kementerian Kehutanan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Gorontalo, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta Badan Pengelola Lingkungan Hidup dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Sinergi ini diharapkan mampu mempercepat pencapaian Gorontalo Hijau Rendah Emisi.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Kuat Menuju Gorontalo Hijau
Komitmen DLHK Provinsi Gorontalo untuk mewujudkan daerah yang hijau, tangguh, dan rendah emisi tidak hanya berhenti pada pernyataan. Program RBP REDD+ GCF Output 2 menjadi fondasi utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim di tingkat provinsi.
Fayzal Lamakaraka menegaskan, “Kegiatan ini menjadi bukti nyata DLHK Provinsi Gorontalo bersama instansi terkait dalam mewujudkan daerah yang hijau, tangguh dan rendah emisi.” Pernyataan ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Berbagai pihak turut serta dalam program ini, menunjukkan dukungan kolektif terhadap agenda lingkungan Gorontalo. Instansi yang terlibat antara lain:
Advertisement
- Unit Pelayanan Teknis Kementerian Kehutanan
- Perwakilan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Gorontalo
- Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) se-Provinsi Gorontalo
- Badan Pengelola Lingkungan Hidup
- Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) se-Provinsi Gorontalo
- Jajaran pejabat administrasi dan fungsional, serta pejabat struktural DLHK Provinsi Gorontalo
Advertisement
Rangkaian Kegiatan Konkret dan Kolaborasi Lintas Sektor
Setelah acara pembukaan, program RBP REDD+ GCF Output 2 langsung dilanjutkan dengan empat sub-kegiatan utama yang terencana. Kegiatan-kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas dan implementasi di lapangan, dimulai dari pelatihan hingga pengadaan sarana prasarana.
Sub-kegiatan pertama adalah pelatihan penghitungan cadangan karbon bagi staf Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang akan dilaksanakan selama dua hari, mulai 28 hingga 29 Oktober mendatang. Pelatihan ini krusial untuk memastikan data emisi yang akurat.
Berikutnya, rapat persiapan rencana aksi Program Kampung Iklim (Proklim) bersama mitra kolaborasi akan diselenggarakan pada Selasa, 28 Oktober. Selain itu, fasilitasi kegiatan penanaman yang berkolaborasi dengan program penurunan emisi provinsi dijadwalkan pada Kamis, 30 Oktober. Terakhir, sub-kegiatan keempat meliputi pengadaan alat dan perlengkapan patroli serta pemadam kebakaran di semua KPH, untuk mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan.
Advertisement
Advertisement
Dukungan Pendanaan Global dan Harapan Masa Depan
Program Gorontalo Hijau Rendah Emisi ini mendapatkan dukungan signifikan dari pendanaan global melalui Green Climate Fund (GCF). Indonesia berhasil memperoleh pendanaan sebesar 103,8 juta dolar Amerika Serikat, setara dengan Rp1,6 triliun, atas keberhasilan penurunan emisi sebesar 20,25 juta ton CO2 ekuivalen pada periode 2014-2016.
Lia Kartikasari, Kepala Divisi Penyaluran Dana Program RBP REDD+ GCF, menjelaskan bahwa dana ini dialokasikan untuk tiga output, dengan proyek RBP REDD+ GCF output 2 mendapatkan alokasi pendanaan senilai 93,4 juta dolar Amerika Serikat. Proyek ini dimulai Juli 2023 dan diperkirakan selesai pada tahun 2030, dengan penerima manfaat di tingkat nasional dan 38 provinsi.
“Kick off ini adalah langkah awal memperkuat sinergi untuk menekan emisi gas rumah kaca dan mendukung pertumbuhan ekonomi hijau. Kami berharap Gorontalo menjadi model keberhasilan implementasi REDD plus di Indonesia,” imbuh Lia. Melalui dukungan ini, Indonesia dan Gorontalo menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga hutan dan mengurangi dampak perubahan iklim untuk generasi mendatang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews