Kurs Rupiah Terus Anjlok, Gubernur BI: Lebih Baik Dibanding Malaysia & Thailand

Sampai dengan 19 Oktober 2022 rupiah terdepresiasi 8,03 persen (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021. Sementara di saat yang bersamaan mata uang dolar AS mengalami penguatan hingga 18,1 persen.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Kurs Rupiah Terus Anjlok, Gubernur BI: Lebih Baik Dibanding Malaysia & Thailand
Gubernur BI Perry Warjiyo. ©handout/Bank Indonesia

Nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS)terus mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir.

Sampai dengan 19 Oktober 2022 rupiah terdepresiasi 8,03 persen (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021. Sementara di saat yang bersamaan mata uang dolar AS mengalami penguatan hingga 18,1 persen.

"Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan yaitu sebesar 8,03 persen (ytd) dibandingkan penguatan dolar 18,1 persen (ytd)," kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Jakarta, Kamis (20/10).

Meski begitu, Perry menyebut nilai mata uang Rupiah masih lebih dari beberapa negara. India misalnya yang mengalami pelemahan 10,42 persen, Malaysia 11,5 persen dan Thailand 12,55 persen.

"Pelemahan Rupiah ini kami lakukan dari intervensi (inflasi) tapi ini lebih baik dari negara lain seperti India, Malaysia dan Thailand," kata Perry.

Dia menjelaskan depresiasi tersebut sejalan dengan menguatnya dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Ini sebagai akibat pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di berbagai negara.

AS Respons Inflasi

Terutama di AS untuk merespons tekanan inflasi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang terjadi di tengah persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap positif.

"Semua negara melakukan stabilisasi untuk memitigasi imported inflation ini," kata dia.

Tak terkecuali Indonesia yang juga melakukan stabilisasi ekonomi makro demi menghindari dampaknya. Bukan hanya mengatasi kenaikan inflasi tetapi juga potensinya terhadap sektor perbankan dan korporasi.

Namun begitu, Perry menegaskan sekarang ini sektor perbankan dan korporasi di Indonesia tidak terdampak. "Tingkat pelemahan ini tidak berdampak ke perbankan dan korporasi," pungkasnya.

Rekomendasi