Kisah di Balik Rupiah Rp18.000: Warga Ramai Jual Dolar, Bisnis Valas Bergeliat

Pelemahan rupiah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS membuat transaksi penjualan USD lebih dominan di salah satu money changer di Kebon Kacang.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani - Reporter
Kisah di Balik Rupiah Rp18.000: Warga Ramai Jual Dolar, Bisnis Valas Bergeliat
Money Changer Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Pelemahan rupiah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS mulai terasa di tempat penukaran valuta asing. Di salah satu money changer di kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pelanggan justru lebih banyak datang untuk menjual dolar Amerika Serikat (USD).

Direktur money changer di kawasan kebon Kacang, Surya, mengatakan tren penjualan USD lebih dominan dalam satu bulan terakhir. Sekitar 75 persen transaksi USD merupakan penjualan, sedangkan 25 persen lainnya berupa pembelian.

"Untuk tren belakangan ini mungkin sekitar 70 persen lebih banyak yang menjual USD-nya ketimbang membeli. Kalau skalanya, lebih banyak 75 persen yang menjual ketimbang yang beli 25 persen," ujar Surya saat berbincang dengan merdeka.com.

Menurut Surya, transaksi penjualan paling terasa ketika nilai dolar berada di kisaran Rp17.900 hingga menyentuh Rp18.000. Sebagian pelanggan memang sengaja memantau pergerakan kurs sebelum memutuskan menjual simpanan dolar mereka.

"Kalau di momentum yang dolar Rp17.900 sekian, seperti kemarin itu sampai Rp18 ribu, banyak yang menjual," katanya.

Surya menuturkan, pelanggan biasanya melihat pergerakan kurs secara mandiri. Mereka kemudian secara berkala menanyakan nilai tukar kepada money changer sebelum menentukan waktu transaksi.

"Jadi mereka biasanya melihat rate secara mandiri, kemudian menanyakan rate secara berkala ke kami, kemudian mereka menentukan sendiri belinya di rate berapa," ucapnya.

 

 

Alasan Tukarkan Dolar AS

Money Changer Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Money Changer Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Sebagian pelanggan membeli USD dari tabungan atau pendapatan mereka untuk disimpan sebagai investasi. Ketika nilai dolar menguat terhadap rupiah, ada pelanggan yang memilih mencairkan simpanan tersebut.

Surya mengatakan, ada pula pelanggan yang memang sengaja memanfaatkan kondisi nilai tukar untuk berinvestasi dalam mata uang dolar. Untuk pembelian USD, sebagian pelanggan cenderung mencicil setiap bulan sesuai ketentuan transaksi yang berlaku di tempat tersebut.

Pelemahan rupiah dan dominannya transaksi penjualan USD tersebut justru membuat perputaran bisnis money changer menjadi lebih ramai.

"Untuk kami jujur lebih bagus untuk perputaran bisnisnya. Jadi kita lebih banyak menerima orang menjual USD, jadi perputaran jual-belinya lebih berpengaruh, jadi lebih ramai," kata Surya.

Harga jual dan beli USD di money changer mengikuti pergerakan kurs. Surya menyebut terdapat selisih sekitar 50-70 poin dalam transaksi USD, bergantung pada jumlah valuta asing yang ditukarkan.

Meski begitu, kondisi serupa belum terlihat di seluruh tempat penukaran valuta asing.

Salah satu money changer di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, menyebut aktivitas transaksi masih berjalan normal. Tidak ada perubahan berarti dibandingkan bulan sebelumnya.

Dalam sehari, money changer tersebut melayani sekitar 10 pelanggan untuk berbagai mata uang. Pelanggan berasal dari warga Indonesia maupun warga asing.

"Biasa saja sih, standar biasa. Dari sebulan sebelumnya sama aja," ujar petugas money changer yang tidak mau disebutkan namanya..

Transaksi di lokasi itu antara lain dilakukan untuk kebutuhan perjalanan ke luar negeri. Ada pula pelanggan yang menukarkan valuta asing untuk disimpan.

Perbedaan kondisi di dua money changer tersebut menunjukkan pelemahan rupiah tidak serta-merta membuat seluruh pelanggan mengambil keputusan yang sama. Sebagian pemilik USD memilih menjual ketika nilai tukar dolar berada di level tinggi, sementara transaksi di tempat lain masih berjalan normal.

Rupiah Masih Tertekan

Di tengah aktivitas masyarakat menukarkan dolar, rupiah masih menghadapi tekanan terhadap mata uang Amerika Serikat.

Ekonom BCA David Sumual mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini tidak terlepas dari penguatan dolar AS. Menurutnya, sejumlah mata uang negara berkembang juga mengalami pelemahan seiring penguatan Dollar Index yang telah melampaui 101 dan kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun di atas 5,1 persen.

David memperkirakan rupiah masih cenderung tertekan hingga akhir 2026. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan yakni ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Desember 2026.

Di dalam negeri, David memperkirakan masih terdapat ruang bagi Bank Indonesia untuk menaikkan BI Rate sebesar 25-50 basis poin pada kuartal IV 2026. Kebijakan tersebut dinilai berkaitan dengan potensi meningkatnya tekanan inflasi akibat dampak El Nino dan kenaikan harga minyak.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia juga dapat menggunakan instrumen stabilisasi, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan pemberian diskon biaya hedging untuk menarik dana asing.

Jika pelemahan rupiah berlanjut, sektor yang banyak menggunakan bahan baku dan barang modal impor menjadi salah satu yang rentan terdampak. David menyebut sektor plastik, teknologi informasi, farmasi, elektronik, makanan, pupuk, dan tekstil.

Kondisi nilai tukar tersebut pada akhirnya tidak hanya tercermin di layar pergerakan kurs. Di lapangan, sebagian pemilik dolar memilih melepas simpanannya ketika nilai USD menguat, sementara sebagian lainnya tetap melakukan transaksi sesuai kebutuhan.

Rekomendasi