Hindari kerugian valas, Garuda juga hedging pembelian avtur

"Kita memang selalu ada kerugian valas. Dengan hedging bisa mengurangi sedikit," kata Handrito.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Hindari kerugian valas, Garuda juga hedging pembelian avtur
pengisian bahan bakar avtur pesawat. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Direktur Keuangan Garuda Indonesia Handrito Hardjono mengakui kerugian Garuda Indonesia selama ini banyak terjadi karena transaksi valuta asing (valas). Nilai tukar rupiah yang bergejolak membuat perusahaan kesulitan. Ditambah lagi pendapatan perseroan yang mayoritas dalam bentuk rupiah sedangkan pengeluaran dalam bentuk USD.

Mengantisipasi kerugian, perseroan terus melakukan hedging atau lindung nilai. Melalui mekanisme ini, besaran nilai tukar telah ditetapkan dan perusahaan mempunyai kepastian akan transaksi valas.

"Kita memang selalu ada kerugian valas. Dengan hedging bisa mengurangi sedikit. Sekarang kita hedging uang kita dengan BNI sekitar Rp 500 miliar. Ini untuk tiga tahun ke depan," ucap Handrito di Gedung BNI 46, Jakarta, Rabu (25/6).

Sebelum melakukan hedging dengan BNI, Handrito menyebut Garuda Indonesia sudah melakukan hedging fuel atau bahan bakar. Sekitar 20 persen avtur sudah ditetapkan harganya tanpa mengikuti fluktuasi nilai tukar.

"Sebetulnya hedging fuel itu bahan bakar yang terbatas pas haji biasanya. Ini kan cuma sebagian baru dari dana pengeluaran kita sekitar Rp 3 triliun per hari, masih kecil. Ini baru pertama kali."

Handrito berharap dengan adanya sistem hedging ini akan memperkecil kerugian perusahaan. Namun dia tidak merinci berapa besar kerugian akan diantisipasi dengan sistem hedging saat ini.

"Fuel hedging kita bukan hanya dengan BNI dengan bank lain. Kita beli untuk harga dibeberapa dan ini dilakukan karena fluktuasi nilai tukar naik turun dan ini memberi kita kepastian. Sisanya masih ikut harga pasar. Sesuatu ini kita belajar bisa benar bisa salah juga yang penting kepastian. Kita jaga jaga dan enggak bisa semua," katanya.

Rekomendasi