Memiliki dana darurat menjadi salah satu fondasi penting dalam mengatur keuangan. Namun, setelah dana terkumpul, muncul pertanyaan lain, yaitu apakah uang tersebut sebaiknya dibiarkan tersimpan atau justru diinvestasikan agar nilainya bisa berkembang?
Keinginan mendapatkan keuntungan dari investasi memang wajar. Dana yang hanya tersimpan di rekening bisa terasa kurang maksimal jika dibandingkan dengan potensi imbal hasil dari saham, obligasi, maupun reksa dana.
Namun, dikutip dari Investopedia, para pakar keuangan mengingatkan agar tidak terburu-buru menginvestasikan seluruh dana darurat. Sebab, fungsi utama dana tersebut bukan untuk mengejar keuntungan, melainkan menjadi bantalan keuangan ketika terjadi kondisi tidak terduga.
Dana darurat dapat digunakan ketika seseorang kehilangan pekerjaan, menghadapi biaya kesehatan mendadak, atau harus membayar perbaikan rumah dan kendaraan yang tidak direncanakan.
Advertisement
Berapa Besaran Dana Darurat yang Ideal?
Perencana keuangan bersertifikat sekaligus Managing Advisor di Ashton Thomas Private Wealth, Cary Carbonaro, menyarankan sebagian besar kliennya memiliki dana darurat yang setara dengan enam bulan penghasilan.
Namun, kebutuhan setiap orang tidak selalu sama. Pasangan yang sama-sama memiliki pekerjaan stabil, misalnya, bisa saja cukup dengan dana darurat sekitar tiga bulan penghasilan. Sementara itu, pekerja mandiri dengan sumber pendapatan yang lebih rentan dapat membutuhkan dana hingga satu tahun penghasilan.
Jumlah tersebut juga dapat dipengaruhi usia serta kondisi aset yang dimiliki. Rumah atau kendaraan yang sudah berusia tua, misalnya, memiliki kemungkinan lebih besar membutuhkan biaya perbaikan secara tiba-tiba.
Advertisement
Jangan Investasikan Seluruh Dana Darurat
Carbonaro tidak menyarankan seseorang menginvestasikan seluruh dana daruratnya. Menurut dia, dana tersebut harus memenuhi tiga hal utama, yakni mudah dicairkan, dapat diakses dengan cepat, dan relatif aman.
Risiko muncul ketika dana darurat ditempatkan seluruhnya di pasar saham atau instrumen investasi lain yang nilainya bisa berfluktuasi. Ketika keadaan darurat datang bersamaan dengan pasar yang sedang turun, seseorang mungkin terpaksa menjual investasinya untuk mendapatkan uang tunai.
Kondisi tersebut bisa membuat kerugian yang sebelumnya hanya terjadi di atas kertas menjadi kerugian nyata karena aset dijual ketika harganya sedang rendah. Karena itu, menyimpan sebagian dana dalam bentuk kas atau tabungan memberikan perlindungan ketika kondisi pasar sedang bergejolak.
Advertisement
Jangan Andalkan Kartu Kredit untuk Dana Darurat
Salah satu pilihan yang mungkin muncul adalah tetap menginvestasikan dana darurat, lalu menggunakan kartu kredit jika sewaktu-waktu membutuhkan uang. Namun, strategi tersebut memiliki risiko tersendiri.Hal ini dikarenakan biaya bunga utang kartu kredit berpotensi lebih tinggi dibandingkan keuntungan investasi yang dipertahankan.
Seseorang bisa saja memperoleh keuntungan dari investasi, tetapi pada saat yang sama harus membayar bunga yang jauh lebih besar karena menggunakan kartu kredit untuk menutupi kebutuhan darurat.
Advertisement
Pilih Aset yang Aman dan Likuid
Bagi seseorang yang tetap ingin mendapatkan imbal hasil dari dana darurat tanpa mengorbankan akses terhadap uang tersebut, rekening tabungan dengan bunga tinggi dapat menjadi salah satu pilihan.
Aset tersebut memungkinkan uang tetap mudah digunakan ketika keadaan darurat muncul, sekaligus memberikan bunga yang lebih tinggi dibandingkan rekening transaksi biasa. Sementara itu, uang yang memang disiapkan untuk kebutuhan jangka panjang dapat diperlakukan berbeda.
Pada akhirnya, keputusan mengelola dana darurat bergantung pada kondisi dan kedisiplinan masing-masing orang. Yang terpenting, dana tersebut tetap dapat digunakan ketika keadaan mendesak tanpa memaksa pemiliknya menjual investasi dalam kondisi merugi.