Meski telah memiliki karir yang bagi banyak orang dianggap mapan, Ken Lim, di usia 30 tahun justru memilih meninggalkan karirnya di dunia perbankan untuk merintis bisnis toko gorden dan memilih menekuni bisnis yang tak pernah dia duga sebelumnya, toko gorden.
Kini, dia menjadi pemilik Everyday Curtains, sebuah perusahaan penyedia gorden dan tirai dengan gaya minimalis modern yang berbasis di Singapura.
Melansir dari CNA, meski telah sukses menjalani karir yang dianggap banyak orang sebagai jalur ideal, Lim justru tertarik pada bidang yang tak selalu menjadi minat utamanya, interior dan dekorasi rumah. Inspirasi awalnya datang dari sebuah video tur rumah yang dia tonton secara daring.
"Rumah itu bertema serba merah muda, tetapi gordennya berwarna abu-abu," kenangnya.
Ketidaksesuaian visual itu begitu membekas hingga saat mendesain rumahnya sendiri, Lim menyadari pentingnya keselarasan dalam setiap elemen interior, termasuk pemilihan gorden.
Saat berburu gorden untuk rumahnya, Lim melihat celah di pasar. Menurutnya, gorden yang tersedia kala itu hanya terdiri dari dua pilihan ekstrem: mahal dengan kualitas tinggi atau murah dengan kualitas rendah.
"Saat itu, tidak ada jalan tengah," ujarnya.
Advertisement
Berbekal pengalaman sebagai bankir dan kepekaan terhadap kebutuhan konsumen, Lim mendirikan Everyday Curtains dari nol pada 2019. Perusahaan ini membidik pasar menengah ke atas dengan menawarkan produk yang tidak hanya fungsional, tetapi juga estetis, dan tetap terjangkau.
"Kami memiliki konsultan yang memahami desain agar pelanggan bisa mendapatkan hasil yang memuaskan secara visual," jelasnya.
Sebagai pemilik rumah sendiri, Lim memahami bahwa memilih gorden sering kali menjadi tahap terakhir dan paling melelahkan dalam proses renovasi.
"Pelanggan kami biasanya datang dalam keadaan lelah karena ini tahap akhir renovasi. Karena itu, kami ingin memberikan pengalaman yang menyenangkan dan membimbing mereka agar bisa membuat keputusan terbaik,” tambahnya.
Lim menyebut bisnisnya sebagai “bayi pandemi” karena justru berkembang di tengah pandemi Covid-19. Dia melihat pergeseran pola belanja masyarakat selama masa itu.
"Klien kami mulai mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk rumah mereka daripada untuk belanja atau bepergian. Mereka juga menjadi lebih sadar terhadap material,” ujarnya.
Ketika sebagian besar produsen gorden memilih memindahkan produksi ke Malaysia, Lim justru memutuskan memproduksi secara lokal di Singapura karena adanya pembatasan perjalanan saat itu. Keputusan ini terbukti tepat karena memberinya kontrol kualitas yang lebih baik.
Untuk membangun Everyday Curtains, Lim menginvestasikan modal awal sebesar S$80.000 dari tabungannya sendiri. Dia menegaskan bahwa dia bukan berasal dari keluarga berada. Awalnya, ia menjalankan bisnis ini sambil tetap bekerja sebagai bankir. Setelah dua tahun, dia memilih untuk fokus penuh pada bisnis tersebut.
"Saya bertanya pada diri sendiri, apa yang benar-benar ingin saya lakukan? Saya merasa lebih puas ketika bisa memecahkan masalah,” katanya.
Advertisement
Namun, transisi dari dunia perbankan yang stabil ke dunia usaha tidaklah mudah. "Di perbankan, segalanya terstruktur dan karier Anda sudah dirancang. Di dunia usaha, selalu ada krisis yang harus dihadapi dan tidak ada aturan pasti," ujar Lim yang kini juga menjadi ayah dari seorang bayi.
Dia juga mengungkapkan tantangan besar yang dihadapinya dalam industri gorden yang sudah mapan.
"Generasi lama tidak mudah berbagi pengetahuan. Anda harus rendah hati dan tahu cara mengajukan pertanyaan yang tepat," katanya.
Namun, seiring waktu, para pelaku lama mulai menghargai ketulusannya. Di tengah industri yang jarang berubah, Lim bertekad melakukan inovasi, termasuk memperkenalkan praktik ramah lingkungan. Ia menyoroti bahwa bahan seperti poliester sulit didaur ulang. Karena itu, perusahaannya berusaha memanfaatkan kain sisa produksi untuk berbagai keperluan, seperti memperpanjang gorden, menciptakan pembatas dekoratif, atau bahkan diubah menjadi karya seni.
Pada 2024, Everyday Curtains bekerja sama dengan seniman lokal Alicia C Kirwan untuk mengubah sisa bahan menjadi hiasan dinding yang dipamerkan saat pembukaan ruang pamer dan mendapat sambutan hangat dari pelanggan. Seluruh karya seni tersebut bahkan ludes terjual.
Sebagai pengusaha muda, Lim memahami kekuatan media sosial. Di akun Instagram perusahaan yang telah memiliki lebih dari 41.000 pengikut, ia kerap tampil langsung untuk menampilkan produk, menjawab pertanyaan umum, hingga membahas topik seperti perbedaan antara gorden dan tirai.
“Kami ingin tetap diingat. Bahkan jika pelanggan baru membeli rumah lima tahun lagi, mereka akan tetap mengingat kami,” ujarnya.
Demi meningkatkan efisiensi, Lim juga baru saja membuka fasilitas manufaktur canggih di Singapura yang menggabungkan teknologi otomasi.
“Kami dulu menggunakan mesin jahit tradisional. Tapi tanpa otomatisasi, mustahil kami bisa berkembang. Tak semua orang punya pengalaman menjahit selama 30 tahun,” ungkapnya.
Advertisement
Lim kini membidik ekspansi ke luar negeri, dengan menjajaki pasar potensial seperti Kuala Lumpur, Dubai, dan Amerika Serikat. Namun, untuk saat ini, dia memilih memperkuat kehadiran bisnisnya di dalam negeri terlebih dahulu.
"Kami tidak ingin mengambil risiko yang belum siap kami tangani. Semuanya kami jalani selangkah demi selangkah," katanya.
Enam tahun sejak memulai Everyday Curtains, Lim kini berada pada titik reflektif dalam perjalanan kewirausahaannya. Saat ditanya satu nasihat yang ingin ia berikan kepada dirinya di masa lalu, dia menjawab,
“Berpikirlah lebih besar. Banyak pemilik bisnis memulai dengan ragu-ragu dan tidak berani berpikir terlalu jauh. Padahal, tahun-tahun pertama itu sangat menentukan. Jika sejak awal saya memiliki pemahaman pasar yang lebih baik, saya pasti akan membangun sesuatu yang lebih besar," tambahnya.
Salah satu pelajaran terpenting baginya adalah pentingnya membangun tim. “Anda tidak bisa menyelesaikan semua masalah sendirian. Mungkin Anda bisa bertahan dua atau tiga tahun, tapi tidak untuk sepuluh tahun ke depan. Anda butuh tim yang kuat dan harus menjaga orang-orang Anda. Hubungan seperti itu yang akan membawa bisnis ini melangkah jauh,” tutup Lim.