Fakta Mengejutkan: Penghentian Tunjangan Perumahan DPR Mampu Redakan Ketegangan dan Gairahkan Pasar Saham

Lembaga think tank Prasasti mengapresiasi langkah penghentian Tunjangan Perumahan DPR yang dinilai positif meredakan ketegangan sosial-politik dan memulihkan sentimen pasar keuangan. Simak dampaknya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Mengejutkan: Penghentian Tunjangan Perumahan DPR Mampu Redakan Ketegangan dan Gairahkan Pasar Saham
Lembaga think tank Prasasti mengapresiasi langkah penghentian Tunjangan Perumahan DPR yang dinilai positif meredakan ketegangan sosial-politik dan memulihkan sentimen pasar keuangan. Simak dampaknya! (Merdeka.com)

Lembaga wadah pemikir Prasasti Center for Policy Studies memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Mereka membuka ruang dialog dengan berbagai kelompok masyarakat. Langkah ini juga termasuk penghentian tunjangan perumahan Anggota DPR yang berlaku sejak 31 Agustus 2025.

Direktur Eksekutif Prasasti, Nila Marita, menyatakan bahwa tindakan ini merupakan awal yang sangat positif. Inisiatif tersebut diharapkan dapat mengurangi ketegangan di tengah masyarakat. Terutama setelah gelombang demonstrasi besar yang terjadi pada 28-31 Agustus 2025.

Penghentian tunjangan perumahan DPR itu juga memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Selain itu, DPR juga berjanji untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Hal ini menunjukkan respons cepat terhadap aspirasi publik.

Prasasti Center for Policy Studies secara tegas mengapresiasi langkah pemerintah dan DPR. Pembukaan ruang dialog ini dinilai krusial dalam menampung aspirasi masyarakat. Penghentian tunjangan perumahan Anggota DPR menjadi bukti konkret responsivitas.

Nila Marita menekankan bahwa inisiatif ini adalah langkah awal yang sangat penting. Terutama dengan penghentian tunjangan perumahan DPR sejak akhir Agustus. Janji evaluasi dan perbaikan menyeluruh akan dilakukan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Langkah ini diharapkan mampu meredakan gejolak sosial. Selain itu, juga mengurangi dampak negatif terhadap stabilitas nasional. Dialog yang terbuka menjadi fondasi penting bagi kebijakan yang akomodatif.

Prasasti sebelumnya mencatat kerugian material yang besar akibat demonstrasi. Kerusakan meliputi halte, kantor DPR dan DPRD, serta sarana transportasi umum. Sepuluh warga sipil juga tercatat meninggal dunia.

Direktur Riset Prasasti, Gundy Cahyadi, menambahkan bahwa gelombang demonstrasi memicu sentimen negatif. Pasar keuangan menunjukkan reaksi signifikan terhadap dinamika sosial-politik. Modal asing di pasar saham berbalik arah.

Awalnya mencatat surplus Rp731 miliar, namun berubah menjadi arus modal keluar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang semula menguat, terkoreksi tajam. Ini menunjukkan sensitivitas pasar terhadap isu sosial.

Ketegangan tinggi dapat menimbulkan konsekuensi sosial-ekonomi yang besar. Oleh karena itu, Prasasti mendorong mekanisme dialog yang lebih terstruktur. Aspirasi publik harus lebih cepat diakomodasi dalam kebijakan.

Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan. Ia mewakili seluruh Anggota DPR RI terkait tugas dan fungsi mereka. Dasco menegaskan bahwa aspirasi rakyat adalah tanggung jawab.

DPR akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tunjangan anggota dewan. Khusus untuk tunjangan perumahan DPR, sudah dihentikan sejak 31 Agustus 2025. Ini menunjukkan komitmen untuk perbaikan.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan tetap tangguh. Meskipun di tengah dinamika global dan domestik, fundamentalnya solid. Indikator permodalan, likuiditas, dan profil risiko terkendali.

IHSG sempat turun 2,27 persen saat puncak demonstrasi. Namun, kemudian berbalik arah dan ditutup di level lebih tinggi. IHSG kembali menghijau pada hari-hari berikutnya, seiring kondusifnya situasi sosial-politik.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi