Bos OJK beberkan tips agar perbankan kuat di tengah guncangan kondisi global

Jumat, 15 Juni 2018 17:21 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Bos OJK beberkan tips agar perbankan kuat di tengah guncangan kondisi global Ketua OJK Wimboh Santoso. ©2017 merdeka.com/idris

Merdeka.com - The Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 1,75 persen hingga 2 persen. Selain menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, The Fed juga menyatakan akan menaikkan empat kali suku bunga acuan untuk merangsang ekonomi.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, pihaknya terus mendorong industri perbankan Indonesia untuk mempersiapkan diri guna menghadapi kondisi perekonomian global yang dinamis.

"Artinya kita harus lebih efisien bahwa suatu saat itu akan lebih dinamis. Kita harus prepare baik perbankan maupun non perbankan. Dengan efisiensi otomatis cost lebih sedikit sehingga ruang untuk tidak mem-pass through kepada nasabah itu lebih besar. Kenaikan suku bunga yang ada tidak harus di-pass through kepada nasabah 100 persen. Selama kita bisa jaga operasi kita lebih efisien," ungkapnya ketika ditemui, di kediamannya, Jakarta, Jumat (15/6).

"Kami harap bukan hanya perbankan yang efisien dan gunakan teknologi. Industri lain juga. Kalau lebih efisien kita bisa saving untuk cost dan lebih kompetitif. Kalau kita banyak likuiditas, otomatis akan ada banyak ruang untuk tidak menaikkan suku bunga. Toh kalau pun harus naikkan suku bunga terukur," tambahnya.

Dia pun menjelaskan kenaikan suku bunga yang dilakukan The Fed, tidak berarti Industri perbankan langsung menaikkan suku bunga kredit. Sebab repricing suku bunga kredit perbankan mesti dilakukan dengan perhitungan yang matang.

"Itu tidak instan. Repricing kredit itu kan ada waktunya sehingga semua industri punya waktu menyiapkan diri supaya dampaknya bisa smooth. Otomatis ada term of condition-nya. Kalau harus di-reprice. Tidak mesti kalau Amerika naik sekian basis poin kita naikkan sekian basis poin. Tidak mesti begitu," jelas Wimboh.

Selain Industri perbankan, pasar modal diharapkan dapat tumbuh lebih baik lagi. Wimboh mengatakan pihaknya akan terus berupaya agar pasar modal Indonesia menjadi lebih tahan terhadap guncangan apalagi yang bersifat eksternal.

"Pasar modal kita harapkan bisa lebih likuid, emiten makin banyak, instrumen akan kita perbanyak. Ini akan membuat instrumen bervariasi. Kalau pasar likuid, instrumen banyak, enggak terlalu sensitif terhadap guncangan. Di samping itu pasar hedging yang selalu kita tingkatkan. Kemarin hegding Rupiah valas sudah kita hilangkan marginnya 10 persen sehingga memberi room yang leluasa. Terus kita upayakan," ujarnya.

Ketika ditanya apakah kenaikan suku bunga acuan The Fed bakal mengharuskan Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga, Wimboh enggan berkomentar banyak. "Itu terserah Bank Indonesia, saya rasa Bank Indonesia punya perhitungan yang cermat berapa dan kapan harus menaikkan suku bunga," tandasnya. [azz]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini