Pakistan dan Malaysia Sukses Rayu Iran Hingga Kapalnya Boleh Lewat Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Indonesia?

Iran menyetujui untuk mengizinkan 20 kapal berbendera Pakistan melintasi Selat Hormuz.

Mardani
Oleh Mardani - Reporter
Pakistan dan Malaysia Sukses Rayu Iran Hingga Kapalnya Boleh Lewat Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Indonesia?
Sebanyak 189 kapal yang dioperasikan oleh PT Pertamina International Shipping (PIS) telah menggunakan bahan bakar biodiesel B40 sejak Januari 2025. (Dok Pertamina) (© 2026 Liputan6.com)

Iran menyetujui untuk mengizinkan 20 kapal berbendera Pakistan melintasi Selat Hormuz. Kebijakan ini disebut Islamabad sebagai langkah penting dalam meredakan salah satu krisis energi terburuk dalam sejarah modern.

Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengumumkan keputusan tersebut pada Sabtu, dengan menyebut dua kapal akan diizinkan menyeberang setiap hari.

Ia menggambarkan langkah Iran sebagai “pertanda perdamaian” yang dapat membantu memulihkan stabilitas kawasan yang berada di ambang konflik, serta menyebutnya sebagai “isyarat yang disambut baik dan konstruktif”.

Diplomasi Intensif di Balik Kesepakatan

Menariknya, Ishaq Dar dalam unggahannya secara langsung me-mention Wapres AS JD Vance, Menlu AS Marco Rubio, utusan AS Steve Witkoff, serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Langkah ini menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut bukan sekadar urusan pelayaran, melainkan bagian dari dinamika geopolitik yang lebih luas.

Dalam sepekan terakhir, Pakistan juga meningkatkan komunikasi diplomatik. Kepala Angkatan Darat Asim Munir diketahui berbicara dengan Presiden AS Donald Trump, sementara Ishaq Dar melakukan komunikasi dengan Iran dan Turki.

“Jika kedua pihak menginginkan, Islamabad selalu bersedia menjadi tuan rumah pembicaraan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Tahir Andrabi kepada Al Jazeera dikutip Minggu (29/3/2026).

Iran Izinkan Kapal Malaysia Lewati Selat Hormuz

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan pada hari Jumat bahwa kapal-kapal Malaysia diizinkan untuk melintasi selat tersebut, seraya menyampaikan terima kasih kepada presiden Iran, Masoud Pezeshkian.

Hanya sekitar 150 kapal yang berhasil melewatinya sejak perang dimulai, kira-kira setara dengan lalu lintas satu hari normal. Lalu lintas maritim di jalur air tersebut turun hingga 90 persen.

Bagaimana Nasib Kapal Indonesia?

Iran Mulai Latihan Militer di Selat Hormuz Jelang Perundingan dengan Amerika Serikat
Dua perahu tradisional berlayar melewati sebuah kapal kontainer besar di Selat Hormuz, Jumat, 19 Mei 2023. (AP/Jon Gambrell) © 2026 Liputan6.com

Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan Iran telah memberikan respons positif terhadap permintaan terkait dua kapal tanker Pertamina yang masih terjebak di Selat Hormuz.

Menurut Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, koordinasi intensif terus dilakukan bersama Kedutaan Besar RI di Teheran untuk memastikan keselamatan kapal.

"Dalam perkembangannya, terdapat tanggapan positif dari pihak Iran," ujar Nabyl dikutip dari Antara, Jumat, 27 Maret 2026.

Meski demikian, belum ada kepastian kapan kapal-kapal tersebut dapat kembali berlayar.

Indonesia Terus Melobi

Sebelumnya, pada 4 Maret, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah sedang melakukan pendekatan negosiasi untuk membebaskan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang masih terjebak di Selat Hormuz.

Meski demikian, Bahlil menegaskan bahwa keberadaan dua kapal tanker tersebut tidak mengganggu ketahanan energi Indonesia, karena negara ini segera mencari alternatif pengadaan energi dari negara lain.

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Santo Darmosumarto, pada 6 Maret, menyatakan bahwa pemerintah Republik Indonesia terus meningkatkan upaya koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah Iran untuk memastikan keselamatan kedua kapal tanker Pertamina tersebut.

Upaya ini diharapkan dapat mempercepat penyelesaian masalah yang dihadapi dan menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Iran Tegaskan Hanya Negara Sahabat yang Diizinkan Melintas Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa negaranya hanya mengizinkan kapal dari “negara sahabat” untuk melintasi Selat Hormuz.

Negara-negara tersebut antara lain China, Rusia, India, Pakistan, Irak, dan Malaysia. Sementara kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan negara yang dianggap agresor tetap dilarang melintas.

"Sementara itu, kapal-kapal Amerika Serikat, Israel, dan 'negara agresor' tetap dilarang lewat," tambah Araghchi.

Selat Hormuz Jadi Titik Krisis Global

AS Tembak Rudal ke Kapal Iran yang Langgar Blokade Selat Hormuz
Dalam foto yang dirilis pada hari Rabu, 2 Agustus 2023 oleh Sepahnews dari Garda Revolusi Iran, speedboat Garda berpartisipasi dalam latihan di Teluk Persia. Militer AS sedang mempertimban © 2026 Liputan6.com

Selat Hormuz praktis tertutup sejak serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan memicu konflik besar di kawasan.

Dampaknya sangat luas. Sekitar 2.000 kapal dilaporkan terdampar di kedua sisi jalur strategis tersebut. Harga minyak dunia melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel atau naik sekitar 40 persen.

Dari jumlah kapal yang tertahan, terdapat kapal tanker Pertamina milik Indonesia.

Pengawasan Ketat dan Biaya Mahal

Situasi di Selat Hormuz kini dikendalikan ketat oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Setiap kapal yang ingin melintas wajib menyerahkan data lengkap, mulai dari muatan, awak, hingga tujuan pelayaran.

Kapal juga harus memperoleh kode izin khusus dan dikawal saat melintasi perairan Iran. Bahkan, dilaporkan setidaknya dua kapal membayar hingga 2 juta dolar AS (sekitar Rp30 miliar) untuk bisa melintas, dengan pembayaran menggunakan yuan China.

Parlemen Iran saat ini tengah mengkaji skema tersebut sebagai potensi sumber pendapatan baru negara.

Gangguan Perdagangan Terburuk dalam 80 Tahun

Dua Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Pemerintah Lakukan Negosiasi
Sebanyak 189 kapal yang dioperasikan oleh PT Pertamina International Shipping (PIS) telah menggunakan bahan bakar biodiesel B40 sejak Januari 2025. (Dok Pertamina) © 2026 Liputan6.com

Pembatasan ini berdampak besar terhadap perdagangan global. Hanya sekitar 150 kapal yang berhasil melintas sejak konflik dimulai—jumlah yang setara dengan lalu lintas normal dalam satu hari.

Data pelacak kapal menunjukkan sekitar 1.900 kapal sempat tertahan di kawasan tersebut. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz pun turun hingga 90 persen.

Direktur Jenderal World Trade Organization, Ngozi Okonjo-Iweala, bahkan menyebut kondisi ini sebagai “gangguan terburuk dalam 80 tahun terakhir”.

Situasi ini menegaskan betapa krusialnya Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia, sekaligus menggambarkan kompleksitas konflik geopolitik yang masih terus berkembang.

Rekomendasi