Kisah Senyap Awak Kapal Selam: Bertaruh Nyawa di Lorong Sempit hingga Jadi 'Tulang Punggung' Lautan
Medan yang gelap, sempit, dan bertekanan tinggi membuat mereka harus rela "ditelan" lautan selama berbulan-bulan demi menjaga kedaulatan NKRI.
Di balik gagahnya doktrin pertahanan maritim Indonesia, terselip kisah perjuangan para prajurit Hiu Kencana yang harus bertaruh nyawa di kedalaman samudera.
Medan yang gelap, sempit, dan bertekanan tinggi membuat mereka harus rela "ditelan" lautan selama berbulan-bulan demi menjaga kedaulatan NKRI.
Sebuah video perjalanan ke Monumen Kapal Selam (Monkasel) Pasopati 410 yang diunggah kanal YouTube Halo Biru mengungkap realita keras kehidupan para penjaga laut tersebut.
Tidur Berhimpitan dengan Torpedo
Di titik-titik sempit dalam perut kapal selam, kenyamanan adalah hal mewah yang mustahil didapat. Dalam video tersebut, terlihat jelas betapa terbatasnya ruang gerak para awak. Lorong-lorong sempit memaksa siapa pun yang lewat untuk menunduk agar kepala tidak terbentur besi tua yang dingin.
"Awas kepala, harus merunduk," ujar perekam video saat mencoba memasuki sekat-sekat sempit di dalam KRI Pasopati, menggambarkan betapa sulitnya mobilitas di dalam sana.
Saking sempitnya, ruang istirahat para prajurit pun jauh dari kata lega. Mereka harus tidur di ranjang susun yang berhimpitan, bahkan berbagi ruang dengan deretan torpedo mematikan yang siap diluncurkan kapan saja. Tidak ada kasur empuk, yang ada hanyalah dedikasi dan mental baja untuk bertahan hidup di bawah permukaan air.
Tulang Punggung Pertahanan Pasca Nanggala
Para awak kapal selam ini adalah penyambung napas kedaulatan di wilayah perairan yang tak terlihat mata. Dalam narasi videonya, disebutkan bahwa setelah KRI Nanggala 402 tenggelam dalam tugas abadinya (On Eternal Patrol) pada 2021, beban berat kini beralih ke pundak armada yang tersisa.
"Kapal-kapal inilah yang menjadi tulang punggung satuan selam TNI Angkatan Laut dalam menjaga wilayah maritim Indonesia," ungkap narator dalam tayangan YouTube Halo Biru.
Saat ini, Indonesia memiliki empat kapal selam yang masih aktif beroperasi dan menjadi garda terdepan, yaitu KRI Cakra 401, KRI Nagapasa 403, KRI Ardadedali 404, dan KRI Alugoro 405.
Tantangan yang dihadapi mereka bukan main-main. Selain risiko teknis di kedalaman laut yang ekstrem, mereka membawa moto "Tabah Sampai Akhir" yang bikin merinding.
Meninggalkan keluarga dan matahari demi tugas negara, mereka membuktikan bahwa slogan Jalesveva Jayamahe (Justru di Lautan Kita Menang) bukan sekadar kata-kata, melainkan sumpah setia para tulang punggung pertahanan negara.
Muhammad Naufal Syafrie