Keberhasilan suatu negara salah satunya diukur dengan kesuksesannya dalam pengembangan teknologi antariksa. Sebab, dalam prosesnya terdapat kesulitan dan juga hambatan yang besar.
Selain Amerika, Rusia, dan Tiongkok yang berhasil menjalani misi pendaratan di Bulan, India baru saja menorehkan sejarah melalui misi Chandrayaan-3.
Chandrayaan-3 merupakan misi eksplorasi bulan ketiga yang dilakukan oleh Indian Space Research Organization (ISRO).
Pesawat luar angkasa itu juga dilengkapi dengan propulsion module dan unit lander/rover yang bertujuan untuk mengumpulkan data-data saintifik di permukaan dan daratan bulan.
Advertisement
Dikutip dari CNBC dan Rediff, Jumat (25/8), pada 2020, Organisasi Luar Angkasa India (ISRO), memperkirakan misi Chandrayaan-3 menelan biaya USD75 juta atau Rp 1,1 triliun.
Bila dibandingkan dengan NASA jauh perbedaannya. NASA mendapatkan anggaran pada tahun 2023 dengan dana sebesar USD25,4 milliar dibandingkan dengan ISRO yang hanya mendapatkan anggaran dana sekitar USD1,6 milliar. Dalam hal ini terlihat bahwa anggaran yang dikeluarkan dan diberikan untuk NASA jauh lebih besar dibandingkan ISRO.
Advertisement
“Mereka tidak terlalu peduli dengan uang namun bersemangat dan berdedikasi pada misi mereka. Itulah cara kami mencapai tingkat yang lebih tinggi,” kata Nair.
Advertisement
Kendati demikian, besarnya biaya yang diberikan kepada NASA karena beragam faktor. Seperti keperluan lain contohnya astronot yang akan diterbangkan, misi penargetan planet dan asteroid, serta faktor-faktor lainnya.
Advertisement
Keberhasilan dengan biaya minim ini, kemudian menjadi harapan agar banyak negara yang mau mengeksplorasi luar angkasa.