Kisah Dua Orang Utan Sumatera Korban Perdagangan Ilegal, Kini Belajar di Sekolah Hutan

Dua Orang Utan Sumatra yang berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal telah mengikuti sekolah hutan agar siap hidup dan dilepaskan ke alam liar.

Adrian  Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Kisah Dua Orang Utan Sumatera Korban Perdagangan Ilegal, Kini Belajar di Sekolah Hutan
Kisah Dua Orang Utan Sumatera Korban Perdagangan Ilegal, Kini Belajar di Sekolah Hutan (Merdeka.com)

Dua Orang Utan Sumatra yang berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal kini ikuti sekolah hutan agar siap hidup dan dilepaskan ke alam liar.

Korban Perdagangan
Dok. Istimewa

Pada tahun 2021, Balai Konservasi Sumber Daya Bengkulu dan Lampung berhasil menyelamatkan dua ekor Orang Utan di Pelabuhan Bakauheni Lampung. Mereka pun rencananya akan dijual secara ilegal, begitu sedih melihat kata tersebut.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kemudian, kedua ekor Orang Utan itu sempat dirawat di Lampung. Namun, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merujuk mereka ke tempat rehabilitasi di Jambi yang bekerja sama dengan Frankfurt Zoological Society (FSZ) Indonesia.

Selama setahun menjalani karantina di Jambi, kedua ekor Orang Utan yang bernama Siti dan Sudin itu mulai belajar di sekolah hutan. Tujuannya sendiri untuk melatih mereka dan mempersiapkannya kembali ke alam liar dengan pelatihan adaptasi. Siti dan Sudin nantinya akan belajar adaptasi dengan kondisi hutan dan juga pengetahuan jenis pakan dari hutan yang dapat dikonsumsi.

"Saat ini Siti dan Sudin masih menjalani proses reintroduksi seperti belajar hidup di alam melalui pelatihan sekolah hutan. Setiap hari, pelatih Orang Utan membawa mereka mengikuti sekolah hutan dari pagi sampai sore,"

Ungkap Staf Ahli Menteri LHK, Indra Exploitasia melansir dari situs resmi Menlhk (21/8)

Siti dan Sudin banyak belajar dari Orang Utan lainnya yang sudah lebih dulu hidup di alam liar agar memiliki insting bertahan hidup di hutan dengan cara menirunya. Meski memakan proses yang lama, mereka berdua memiliki karakter yang berbeda. Siti yang cenderung lebih aktif dibandingkan Surdin. Keduanya pun sempat tidak bisa memanjat pohon dan sering terjatuh. Namun, seiring berjalannya waktu mereka pun berusaha untuk belajar memanjat hingga berhasil.

Selama sekolah di sekirat area Sumatran Orang Utan Reintroduction Center (SORC) di Sungai Pengian, Jambi, Siti dan Sudin cenderung banyak berinteraksi dengan Orang Utan lainnya. Bahkan mereka terus tumbuh berkembang dengan meniru serta belajar dari aktivitas induk dan anak Orang Utan yang sering mereka temui di hutan.

Dari hasil proses belajar di sekolah hutan SORC Jambi, Siti dan Sudin sekarang sudah bisa membuat sarang di atas pohon dengan cukup baik. Mereka sudah bisa memilih kayu atau dahan yang kuat untuk membangun sarang dan melipat dedauan menjadi sarang kecil. Namun Sudin masih belum bisa dan masih berbagi sarang dengan Siti atau menggunakan sarang Orang Utan lainnya.

Saat beristirahat di malam hari, Siti dan Sudin dirawat dengan sangat baik. Mulai dari mendapatkan segala jenis pakan mulai dari buah lokal hingga pakan dari hutan serta susu. Saking baiknya, mereka tidak pergi ke sekolah hutan saat turun hujan dan menerima sesi pengayaan perilaku di dalam kandang saja.

Rekomendasi