Kenali 8 Penyakit yang Sering Menyerang Anak-Anak di Lingkungan Sekolah dan Cara Pencegahannya

Penting bagi orang tua untuk mengenali penyakit yang umum menyerang anak-anak di sekolah serta mengetahui langkah-langkah pencegahannya.

Thomas Wardana
Oleh Thomas Wardana - Reporter
Kenali 8 Penyakit yang Sering Menyerang Anak-Anak di Lingkungan Sekolah dan Cara Pencegahannya
Temukan penyebab dan solusi terbaik untuk mengatasi anak yang sering terbangun di malam hari. (Sumber: Freepik//karlyukav). (© 2025 Liputan6.com)

Sekolah merupakan salah satu tempat utama di mana anak-anak menghabiskan sebagian besar waktu mereka setiap hari. Dengan tingkat interaksi yang tinggi dan kondisi lingkungan yang padat, sekolah menjadi lokasi yang sangat rentan terhadap penyebaran berbagai penyakit menular.

Anak-anak, terutama yang masih dalam masa pertumbuhan, memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sepenuhnya berkembang, sehingga mereka lebih mudah terpapar infeksi. Penyakit seperti flu, diare, infeksi saluran pernapasan, dan penyakit kulit sering kali muncul dan menyebar dengan cepat di lingkungan sekolah.

Selain itu, faktor kebersihan dan pola hidup sehat sangat berpengaruh terhadap risiko anak-anak terkena penyakit. Oleh karena itu, penting bagi orang tua, guru, dan pengelola sekolah untuk memahami jenis-jenis penyakit yang sering menyerang anak-anak serta mengambil langkah-langkah preventif yang tepat.

Artikel ini akan mengulas beberapa penyakit yang sering menyerang anak-anak di sekolah dan cara-cara efektif untuk mencegah serta mengurangi penyebarannya. Dengan demikian, anak-anak dapat belajar dan bermain dalam kondisi yang lebih sehat dan aman.

Menurut Mayo Clinic, selesma atau yang dikenal sebagai common cold adalah infeksi virus yang umum terjadi pada saluran pernapasan bagian atas, terutama di kalangan anak-anak. Anak-anak dapat mengalami gejala selesma antara 8 hingga 12 kali dalam setahun. Virus rhinovirus merupakan penyebab utama dari selesma, yang dapat menyebar melalui udara atau kontak langsung dengan individu yang terinfeksi. Anak-anak, khususnya yang berusia di bawah 6 tahun, rentan mengalami 8 hingga 12 kali selesma setiap tahunnya. Gejala yang muncul pada anak-anak mirip dengan gejala yang dialami oleh orang dewasa, tetapi anak-anak mungkin menunjukkan tanda-tanda tambahan seperti:

  1. Kehilangan nafsu makan
  2. Iritabilitas
  3. Kenaikan suhu tubuh hingga 38,9°C

Jika gejala tidak menunjukkan perbaikan setelah 10 hari atau jika kondisinya semakin memburuk, sangat disarankan untuk mencari nasihat dari profesional medis. Untuk mencegah terjadinya selesma, orang tua dapat mengajarkan anak-anak untuk rutin mencuci tangan, menghindari menyentuh wajah, serta menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi. Saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan selesma secara langsung. Pengobatan yang tersedia lebih difokuskan untuk meredakan gejala, seperti:

  1. Mengonsumsi obat bebas seperti dekongestan dan pereda nyeri
  2. Istirahat yang cukup
  3. Meningkatkan asupan cairan
  4. Berkumur dengan air garam hangat untuk meredakan sakit tenggorokan
  5. Menggunakan pelembap udara untuk mengurangi hidung tersumbat

Pencegahan selesma juga meliputi:

  1. Mencuci tangan secara rutin
  2. Menjaga jarak dari orang yang sakit
  3. Menghindari menyentuh wajah dengan tangan yang belum dicuci

Perlu dicatat bahwa antibiotik tidak efektif dalam mengobati virus penyebab selesma dan hanya digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri.

Menurut CDC, influenza atau flu adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan dan disebabkan oleh virus influenza. Penyakit ini dapat menimbulkan gejala yang lebih serius dibandingkan dengan pilek biasa. Virus influenza dapat menyebar dengan cepat melalui tetesan air liur yang keluar saat seseorang batuk atau bersin, terutama di kalangan anak-anak prasekolah dan sekolah. Gejala yang umum muncul pada penderita flu meliputi demam yang tiba-tiba, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, dan batuk. Dr. Jason Newland, yang menjabat sebagai Kepala Divisi Penyakit Menular, menegaskan bahwa infeksi bakteri yang dapat menyertai influenza dapat membuat anak mengalami sakit yang parah.

Pencegahan terhadap flu dapat dilakukan dengan cara vaksinasi setiap tahun, mencuci tangan secara teratur, serta mengajarkan anak untuk menutup mulut saat batuk. Vaksinasi tahunan merupakan metode paling efektif untuk melindungi anak dari influenza beserta komplikasinya. CDC merekomendasikan agar semua individu yang berusia 6 bulan ke atas mendapatkan vaksin flu. Untuk anak-anak yang berusia antara 6 bulan hingga 8 tahun dan belum pernah menerima dua dosis vaksin flu sebelumnya, diperlukan dua dosis vaksin yang harus diberikan dengan interval minimal 4 minggu.

Cacar air adalah infeksi yang disebabkan oleh virus dan ditandai dengan demam serta ruam gatal yang muncul dalam bentuk bintik-bintik di seluruh tubuh. Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebar melalui udara atau melalui kontak langsung dengan cairan dari lepuhan yang dimiliki oleh penderita. Gejala yang muncul pada anak-anak biasanya tergolong ringan dan mencakup:

  1. Demam ringan.
  2. Kelelahan.
  3. Ruam yang berkembang menjadi lepuhan berisi cairan.
  4. Gatal pada area yang terkena ruam.

Ruam biasanya dimulai dari bagian wajah, dada, atau punggung, dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Lepuhan tersebut umumnya akan mengering dan membentuk kerak dalam waktu sekitar satu minggu. Pada anak-anak yang sehat, cacar air biasanya tidak memerlukan perawatan medis yang khusus. Namun, untuk meredakan rasa gatal, penggunaan antihistamin bisa menjadi pilihan. Sangat penting untuk menghindari pemberian aspirin kepada anak-anak yang menderita cacar air, karena hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya sindrom Reye, yang merupakan kondisi serius yang dapat memengaruhi fungsi hati dan otak.

Meskipun jarang terjadi, cacar air dapat menyebabkan komplikasi yang serius pada anak-anak, seperti:

  1. Pneumonia.
  2. Peradangan otak (ensefalitis).
  3. Sindrom Reye.

Anak-anak yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah atau memiliki kondisi medis tertentu berisiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi tersebut.

Menurut Verywell Health, campak adalah infeksi yang sangat menular yang disebabkan oleh virus campak, dan dapat dengan mudah menyebar di lingkungan sekolah. Gejala yang muncul akibat campak termasuk demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam kemerahan yang muncul di kulit. Untuk mencegah penyakit ini, vaksinasi MMR sangat dianjurkan. Gejala campak umumnya akan muncul dalam waktu 7 hingga 14 hari setelah terpapar virus, dan gejala tersebut mencakup:

  1. Demam tinggi (yang bisa mencapai lebih dari 104°F atau 40°C)
  2. Batuk
  3. Pilek
  4. Mata merah dan berair (konjungtivitis)
  5. Ruam merah yang dimulai dari wajah dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh

Ruam biasanya muncul dalam rentang waktu 3 hingga 5 hari setelah gejala pertama muncul dan sering disertai dengan demam tinggi. Sayangnya, tidak ada pengobatan antivirus yang khusus untuk campak, sehingga perawatan yang dilakukan lebih berfokus pada meredakan gejala dan mencegah terjadinya komplikasi. Beberapa langkah yang dapat diambil adalah:

  1. Memberikan cukup cairan untuk mencegah dehidrasi
  2. Menggunakan obat penurun demam seperti parasetamol atau ibuprofen
  3. Memberikan vitamin A kepada anak-anak yang mengalami defisiensi vitamin A, karena vitamin ini dapat mengurangi risiko komplikasi

Vaksinasi dianggap sebagai metode paling efektif untuk mencegah campak. CDC merekomendasikan agar anak-anak menerima dua dosis vaksin MMR (measles, mumps, rubella):

  1. Dosis pertama diberikan pada usia 12 hingga 15 bulan
  2. Dosis kedua diberikan pada usia 4 hingga 6 tahun

Setelah dosis pertama, vaksin MMR memiliki efektivitas sekitar 93%, dan setelah dosis kedua, efektivitasnya meningkat menjadi 97%. Vaksin ini juga memberikan perlindungan terhadap gondongan dan rubella.

Menurut Mayo Clinic, gondongan merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus yang ditandai dengan pembengkakan pada kelenjar parotis. Penyakit ini dapat menular melalui percikan liur yang dihasilkan saat penderita batuk atau bersin. Meskipun gondongan biasanya ringan pada anak-anak, ada kemungkinan terjadinya komplikasi serius seperti radang otak (ensefalitis), radang selaput otak (meningitis), dan radang testis (orkitis) pada anak laki-laki yang telah memasuki masa pubertas.

Gejala gondongan pada anak umumnya muncul dalam waktu 16 hingga 18 hari setelah terpapar virus. Beberapa gejala yang biasa terlihat meliputi:

  1. Pembengkakan pada satu atau kedua sisi wajah (kelenjar parotis)
  2. Demam yang bisa bervariasi dari ringan hingga tinggi
  3. Sakit kepala
  4. Nyeri otot
  5. Kelelahan
  6. Kehilangan nafsu makan

Jika anak Anda menunjukkan gejala-gejala tersebut, penting untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis agar mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.

Tidak ada pengobatan khusus yang tersedia untuk gondongan. Sebagian besar anak biasanya akan sembuh dalam waktu 3 hingga 10 hari dengan perawatan yang mendukung, seperti:

  1. Memberikan waktu istirahat yang cukup
  2. Menyediakan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi
  3. Menggunakan obat penurun demam seperti ibuprofen atau parasetamol sesuai dengan anjuran dokter
  4. Mengompres area yang bengkak dengan kain dingin atau hangat untuk mengurangi rasa nyeri

Jika anak mengalami gejala seperti nyeri perut, kebingungan, atau pembengkakan pada testis, segera cari bantuan medis untuk penanganan lebih lanjut.

Waspadai Penyakit yang Sering Menyerang Anak-Anak di Lingkungan Sekolah, Apa yang Orang Tua Harus Tahu?
Temukan penyebab dan solusi terbaik untuk mengatasi anak yang sering terbangun di malam hari. (Sumber: Freepik//karlyukav). © 2025 Liputan6.com

HFMD, atau Hand, Foot, and Mouth Disease, merupakan infeksi virus yang sangat mudah menular, terutama di kalangan anak-anak yang berusia di bawah lima tahun. Gejala yang muncul akibat HFMD termasuk demam, adanya luka atau lepuhan di mulut, serta ruam merah pada telapak tangan dan kaki. Umumnya, gejala ini muncul dalam rentang waktu 3 hingga 6 hari setelah anak terpapar virus. Beberapa gejala yang sering dijumpai adalah:

  1. Demam
  2. Sakit tenggorokan
  3. Luka atau sariawan di mulut
  4. Ruam merah yang mungkin disertai lepuhan pada telapak tangan, telapak kaki, dan terkadang di area pantat
  5. Kehilangan nafsu makan dan perasaan tidak enak badan

Anak-anak yang mengalami HFMD sering kali menunjukkan perilaku rewel atau gelisah. Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebar melalui berbagai cara, antara lain:

  1. Tetesan pernapasan yang dihasilkan dari batuk atau bersin
  2. Kontak langsung dengan cairan dari lepuhan atau air liur yang terkontaminasi
  3. Kontak dengan tinja yang terinfeksi
  4. Menyentuh permukaan atau benda yang terpapar virus

Selama minggu pertama, anak-anak paling menular, meskipun virus ini dapat tetap ada dalam tubuh mereka selama beberapa minggu setelah gejala menghilang. Untuk mengurangi risiko penyebaran HFMD, beberapa langkah pencegahan yang dapat diambil adalah:

  1. Mencuci tangan dengan sabun dan air selama minimal 20 detik, terutama setelah menggunakan toilet dan sebelum makan
  2. Menjauhi kontak dekat dengan individu yang terinfeksi
  3. Membersihkan dan mendisinfeksi permukaan yang sering disentuh, seperti mainan dan gagang pintu
  4. Menjaga kebersihan pribadi serta lingkungan di sekitar anak

Hingga saat ini, belum ada vaksin yang dapat mencegah HFMD, sehingga pencegahan sangat bergantung pada penerapan kebiasaan higienis yang baik.

Diare pada anak merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi, ditandai dengan frekuensi buang air besar yang meningkat dan konsistensi tinja yang lebih cair. Infeksi virus, bakteri, atau parasit menjadi penyebab utama diare pada anak-anak. Salah satu virus yang sering menyebabkan diare mendadak adalah rotavirus. Selain itu, infeksi lain seperti norovirus, enteric adenovirus, astrovirus, dan virus hepatitis juga dapat berkontribusi terhadap kondisi ini.

Untuk mengatasi diare akut pada anak, langkah pertama yang perlu diambil adalah memberikan terapi rehidrasi oral (ORS) di rumah. Keluarga, terutama yang memiliki anak kecil, disarankan untuk selalu memiliki persediaan ORS dan segera menggunakannya saat diare terjadi. Penggunaan ORS yang tepat dapat membantu mencegah dehidrasi dan komplikasi yang lebih serius. Selain itu, penting untuk memberikan makanan yang sesuai kepada anak. Anak yang mengalami diare tetap harus diberi makanan yang sesuai dengan usia dan mudah dicerna, seperti nasi, roti, atau bubur. Pemberian makanan yang tepat dapat mempercepat pemulihan fungsi usus.

Segera konsultasikan dengan dokter jika anak menunjukkan gejala-gejala berikut:

  1. Diare yang tidak membaik setelah 24 jam.
  2. Tidak ada popok basah dalam waktu tiga jam atau lebih.
  3. Demam yang melebihi 39°C (102°F).
  4. Tinja berdarah atau berwarna hitam.
  5. Mulut atau lidah kering, atau anak menangis tanpa mengeluarkan air mata.
  6. Anak terlihat sangat mengantuk, lesu, tidak responsif, atau rewel.
  7. Penampilan cekung pada perut, mata, atau pipi.
  8. Kulit tidak kembali normal setelah dicubit dan dilepaskan.
Ilustrasi Cuci Tangan
Ilustrasi Cuci Tangan (Photo by CDC on Unsplash)

Pencegahan penyakit menular di sekolah sangatlah krusial. Melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), kita dapat mengurangi risiko penyebaran penyakit. Berikut ini adalah beberapa langkah yang perlu diambil oleh orang tua dan anak-anak untuk menjaga kesehatan di lingkungan sekolah:

Menjaga Kebersihan Tangan

Ajarkan kepada anak-anak dan staf untuk rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setidaknya selama 20 detik.Pasang hand sanitizer berbasis alkohol di lokasi strategis di sekolah.

Menjaga Kebersihan Lingkungan

Secara berkala, bersihkan dan disinfeksi permukaan yang sering disentuh seperti meja, gagang pintu, dan mainan.Pastikan ventilasi udara di kelas dan ruang belajar tetap baik untuk sirkulasi yang optimal.

Mengajarkan Etika Batuk dan Bersin

Ajarkan anak-anak untuk menutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau siku ketika batuk atau bersin. Buang tisu bekas dengan benar dan segera cuci tangan setelahnya.

Pengawasan Kesehatan

Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mendeteksi gejala penyakit sedini mungkin. Anjurkan siswa yang merasa tidak sehat untuk tetap di rumah hingga sembuh.

Vaksinasi Lengkap

Pastikan anak-anak menerima vaksinasi sesuai dengan jadwal imunisasi nasional dan rekomendasi dari dokter.

Pendidikan Kesehatan

Berikan pendidikan mengenai pentingnya pola hidup sehat dan pencegahan penyakit melalui kegiatan rutin serta media informasi.

Pengaturan Jarak dan Kerumunan

Usahakan agar siswa menjaga jarak saat duduk dan beraktivitas, terutama di musim penyakit menular.

Konsumsi Makanan dan Minuman Sehat

Pastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup dengan menyediakan makanan bergizi dan minuman bersih di kantin sekolah.

Mengelola Sampah dengan Baik

Kelola sampah di sekolah secara rutin dan benar untuk mencegah berkembangnya kuman dan vektor penyakit.

Rutin Membersihkan Peralatan Sekolah

Tas, kotak pensil, dan alat tulis sering menjadi tempat menumpuknya kotoran dan bakteri. Membersihkannya secara berkala membantu menjaga higienitas barang yang sering digunakan anak. Gunakan lap basah atau disinfektan ringan untuk membersihkan permukaan barang-barang tersebut. Kebiasaan ini dapat menjadi bagian dari rutinitas mingguan anak di rumah.

Pastikan Anak Cukup Istirahat dan Gizi Terpenuhi

Daya tahan tubuh yang baik adalah benteng utama melawan penyakit. Anak yang cukup tidur dan mendapatkan nutrisi seimbang lebih jarang sakit.Sajikan makanan bergizi dengan kombinasi karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Pastikan anak tidur minimal 8–9 jam per malam agar tubuh segar dan siap belajar keesokan harinya.

Rekomendasi