Pola Makan Vegan, Rahasia Penampilan Lebih Muda Setelah Dua Bulan

Setelah delapan minggu menjalani diet nabati, peserta mengalami penurunan usia biologis pada jantung, hormon, hati, serta sistem inflamasi dan metabolisme.

Edelweis Lararenjana
Oleh Edelweis Lararenjana - Reporter
Pola Makan Vegan, Rahasia Penampilan Lebih Muda Setelah Dua Bulan
ilustrasi makan sayuran/Photo by Oleg Magni from Pexels (© 2025 Liputan6.com)

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola makan berbasis nabati memiliki potensi untuk memperlambat proses penuaan biologis. Dalam studi ini, diungkapkan bahwa setelah delapan minggu dimana mengikuti diet vegan, peserta menunjukkan penurunan usia biologis yang terlihat pada berbagai aspek, termasuk kesehatan jantung, keseimbangan hormon, kondisi hati, serta sistem inflamasi dan metabolisme mereka.

Sebaliknya, peserta yang tetap mengonsumsi daging, telur, dan produk susu tidak menunjukkan perubahan serupa. Selain itu, kelompok yang menerapkan pola makan vegan kehilangan rata-rata dua kilogram lebih banyak dibandingkan dengan kelompok omnivora. Hal ini mungkin disebabkan oleh fakta bahwa mereka mengonsumsi sekitar 200 kalori lebih sedikit selama empat minggu pertama penelitian.

Para ahli berpendapat bahwa penurunan berat badan berkontribusi pada perbedaan usia biologis yang teramati. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa menjalani pola makan vegan dalam jangka panjang bisa berisiko mengakibatkan kekurangan nutrisi dan mungkin tidak sesuai untuk semua kelompok usia.

Penelitian ini melibatkan 21 pasang saudara kembar identik berusia 39 tahun, di mana setengah dari mereka mengikuti pola makan vegan, sementara setengah lainnya tetap pada pola makan omnivora. Studi yang dilaporkan oleh Gloucestershire Live ini menemukan bahwa di akhir penelitian, terdapat penurunan estimasi usia biologis yang dapat diukur melalui tingkat metilasi DNA, yaitu modifikasi kimia pada DNA yang digunakan untuk memperkirakan usia biologis seseorang.

Penuaan biologis sendiri merujuk pada penurunan fungsi jaringan dan sel dalam tubuh, yang berbeda dari usia kronologis.Studi sebelumnya telah mengaitkan peningkatan kadar metilasi DNA dengan proses penuaan.

Namun, Varun Dwaraka dari TruDiagnostic Inc., yang bergerak dalam bidang pengujian epigenetik, serta Christopher Gardner dari Universitas Stanford, California, bersama tim mereka, menyatakan bahwa belum sepenuhnya jelas seberapa besar perbedaan usia biologis yang ditemukan dapat dikaitkan langsung dengan pola makan vegan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada indikasi positif dari pola makan nabati, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami sepenuhnya dampaknya terhadap penuaan biologis, dilansir Merdeka.com, Selasa(4/3/2025).

Diperlukan lebih Banyak Penelitian

Menurut Studi, Pola Makan Vegan 2 Bulan Bisa Membuat Penampilan Tampak Lebih Muda
ilustrasi makan sayuran/Photo by Oleg Magni from Pexels © 2025 Liputan6.com

Para peneliti merekomendasikan perlunya kajian lebih lanjut untuk memahami lebih dalam mengenai hubungan antara pola makan, berat badan, dan proses penuaan, serta dampak jangka panjang dari diet vegan. Menurut Tom Sanders, seorang Profesor emeritus di bidang Nutrisi dan Dietetika di King's College London (KCL) yang tidak terlibat dalam penelitian ini, temuan tersebut menunjukkan adanya beberapa perbedaan terkait penuaan pada individu vegan. Namun, ia menekankan bahwa kekurangan vitamin dan mineral seringkali baru menunjukkan efeknya setelah bertahun-tahun.

Sanders juga menyoroti bahwa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola makan vegan mungkin tidak memberikan manfaat kesehatan yang sama bagi orang lanjut usia.

Ia menyatakan, "Meskipun penelitian observasional menunjukkan bahwa pola makan vegan mungkin memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan di usia paruh baya (seperti risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2 yang lebih rendah), hal ini tidak terjadi pada vegan yang lebih tua yang tampaknya lebih mungkin menderita kehilangan otot, kepadatan tulang yang rendah, dan gangguan neurologis yang berdampak signifikan pada kualitas hidup." Ia menambahkan, "Memang, harapan hidup tidak berbeda pada para vegan dibandingkan dengan mereka yang memilih pola makan campuran."

Ilustrasi diet vegan. (Foto: Unspash/Nadine Primeau)
Ilustrasi diet vegan. (Foto: Unspash/Nadine Primeau)

Ada Perbedaan Pandangan

Dalam studi terbaru, terdapat kemungkinan perubahan dalam narasi mengenai dampak pola makan vegan terhadap gen kita. Dr. Duane Mellor, seorang ahli diet yang juga merupakan juru bicara Asosiasi Diet Inggris, menyoroti beberapa perbedaan signifikan yang ditemukan dalam penelitian tersebut.

Ia menekankan bahwa penelitian ini tidak secara langsung membandingkan diet yang memiliki kalori yang sama, dan mengungkapkan, "Ada kemungkinan bahwa pengurangan asupan energi berpotensi mengubah bagaimana DNA peserta diubah." Hal ini membuka diskusi lebih lanjut mengenai bagaimana asupan energi dapat memengaruhi genetik.

Dr. Mellor juga menekankan perbedaan mencolok dalam pola makan yang dianalisis dalam penelitian tersebut. Para vegan diinstruksikan untuk mengonsumsi dua kali lipat jumlah sayuran, serta lebih banyak buah, polong-polongan, kacang-kacangan, dan biji-bijian dibandingkan dengan kelompok omnivora.

Menurutnya, perbedaan pola makan ini dapat membantu menjelaskan efek yang berbeda yang dilaporkan dalam penelitian. Wawasan menarik ini dipublikasikan dalam edisi terbaru jurnal BMC Medicine, memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman kita mengenai hubungan antara diet dan gen.

Rendahkan Kolesterol melalui Konsumsi Jus Tomat

Menurut Studi, Pola Makan Vegan 2 Bulan Bisa Membuat Penampilan Tampak Lebih Muda
ilustrasi makan sayuran/Photo by Oleg Magni from Pexels © 2025 Liputan6.com

Di zaman yang serba modern ini, pola hidup yang tidak sehat sering kali berkontribusi pada meningkatnya kadar kolesterol dalam darah, yang menjadi salah satu penyebab utama penyakit jantung. Masalah kolesterol tinggi merupakan tantangan kesehatan yang banyak dihadapi oleh masyarakat saat ini. Penyebab utamanya biasanya terkait dengan gaya hidup yang tidak baik, pola makan yang tidak teratur, serta kurangnya aktivitas fisik yang memadai.

Untuk mengatasi masalah ini, tidak selalu diperlukan pengobatan dengan bahan kimia; ada berbagai solusi alami yang dapat dipertimbangkan, salah satunya adalah dengan mengonsumsi jus tomat. Jus tomat tidak hanya enak dan menyegarkan, tetapi juga mengandung banyak nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan jantung dan sistem peredaran darah.

Memang, "jus tomat, dengan kandungan nutrisi yang kaya, bisa menjadi solusi alami bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan jantung." Ini menunjukkan bahwa tomat merupakan sumber nutrisi yang melimpah dan memiliki berbagai komponen yang baik untuk kesehatan, termasuk dalam menurunkan kadar kolesterol.

Rekomendasi