Ramah Lingkungan, Ini Dampak Proyek PLTP Ungaran Bagi Masyarakat

Proyek PLTP Gunung Ungaran ramah lingkungan dan mampu dorong ekonomi warga lokal lewat perputaran bisnis baru.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Ramah Lingkungan, Ini Dampak Proyek PLTP Ungaran Bagi Masyarakat
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Dok ESDM

Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran di Jawa Tengah dinilai membawa dampak positif ganda. Akademisi Teknik Geologi Universitas Diponegoro (UNDIP) Yoga Aribowo menyebut proyek ini berpotensi menjaga kualitas lingkungan sekaligus menggerakkan roda perekonomian warga lokal.

"Kalau semakin banyak porsi PLTP, tentu akan berkontribusi positif bagi kualitas lingkungan, baik udara, laut maupun air," kata Yoga dikutip dari Antara, Minggu (13/9).

Keunggulan utama energi geotermal ini terletak pada tingkat emisinya yang relatif rendah. Pembakaran energi dari PLTP diperkirakan hanya menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2) sekitar 100 gram per kilowatt hour (kWh), sementara emisi hidrogen sulfida (H2S) berada di bawah 1 gram per kWh.

Yoga menguraikan bahwa sistem ini mengolah uap dan air panas dari reservoir yang tersimpan hingga kedalaman ribuan meter di bawah permukaan bumi. Air tersebut berasal dari sistem reservoir dalam, bukan pasokan air tanah dangkal yang biasa digunakan untuk sumur warga.

Usai dipakai memutar turbin, fluida panas bumi dialirkan kembali ke dalam lapisan bawah permukaan bumi melalui metode reinjeksi. Skema sirkulasi ini menjaga agar sumber daya panas bumi tetap berkesinambungan dan terkelola secara berkelanjutan.

Buka Peluang Ekonomi

Di luar manfaat ekologis, proyek panas bumi Ungaran turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di area sekitar lokasi. Aktivitas pembangunan hingga operasional berpotensi menyerap tenaga kerja secara langsung maupun tidak langsung, sekaligus memicu kemunculan berbagai sektor usaha penunjang.

Dampak turunannya mencakup pertumbuhan bisnis ritel dan jasa milik warga setempat, mulai dari kedai makan, toko kelontong, armada transportasi, hingga usaha rumah kos untuk mengakomodasi kebutuhan para pekerja proyek. Perputaran uang ini menciptakan ekosistem ekonomi baru yang melibatkan partisipasi masyarakat secara langsung.

"Peluang tersebut juga dapat menjadi bagian dari kontribusi sosial melalui program tanggung jawab sosial perusahaan," katanya.

Rekomendasi